
Episode 116 : Mimpi Avier dan pesan kelurganya.
***
Malam hari di kediaman Avier,
Avier dan Winter telah usai membersihkan diri mereka, keduanya juga telah menyantap makanan yang disediakan oleh pelayan.
Keduanya berada di atas ranjang lagi, Avier memeluk Winter sembari matanya menatap salju yang masih turun di luar.
Avier bisa melihat pemandangan diluar karena gorden sengaja tidak ditutup, karena Avier masih ingin melihat salju.
Tanpa sadar Avier tertidur, dia merasakan hangat di musim salju, dan hal itu sangat berharga baginya.
.
.
Tanpa sadar Avier bermimpi ...
"Putraku ... kau tumbuh menjadi lelaki yang sangat hebat, tumbuh menjadi lelaki bijak dengan hati yang besar ... aku bangga kepada mu ..."
Akram Goldwil, nama Ayah Avier, dengan suara rendahnya yang khas dan senyuman ramah nya yang sangat dirindukan oleh Avier.
"Ayah ... Ayah, kenapa baru datang ke mimpi ku sekarang? aku sangat merindukan mu ..."
"AYAH!"
Avier menangis tersedu-sedu, dia menangis karena ini adalah pertama kalinya Ayahnya datang ke mimpinya.
Yang selalu datang adalah ibunya.
Akram tersenyum di dalam mimpi itu, suasana mereka berada di sebuah ladang gandum keemasan.
Dengan angin yang sangat lembut dan hangat.
Suasana nya terang namun tidak menyilaukan mata.
"Ayah tahu putra Ayah kuat, Ayah tidak datang karena tidak ingin membuat hatimu menjadi gelap, jika Ayah datang disaat yang tidak tepat maka mungkin kebencian yang berakar itu akan menjadi pohon yang tidak bisa dicabut dari hatimu ..."
"Avier ... sekarang Ayah sudah bisa tenang kan? Ayah datang karena melihat hatimu sudah mendapatkan terang ..."
"Akhirnya putraku sudah bisa berdamai dengan masa lalu nya, akhirnya putraku ingin hidup ... Ayah sangat senang dan sekarang sudah bisa tenang ..."
"Oh ya ... sebelum Ayah pergi, ada sedikit pesan ... wanita itu sangat sulit dimengerti, sama seperti Ibumu, kau harus banyak mengalah dan saat dia cerewet jangan melawan ... hahaha!"
"Nanti kau juga mengerti ... yang jelas Ayah sangat bangga kepada mu, sudah saatnya kau hidup tenang dan bahagia ..."
"Kau telah menjadi lelaki yang sangat hebat! biarkan lah masa lalu tinggal di masa lalu ... Ayah sangat menyayangi mu ..."
Akram mengatakan segalanya secara singkat, dia tersenyum dan menepuk bahu Avier yang masih menangis karena merasakan rindu yang teramat sangat.
"Ummm ... aku tidak akan lupa pesan mu Ayah ..."
Avier menangis semakin hebat ketika pandangannya melihat di sisi Ayahnya sudah ada Ibu, adik kecilnya dan semua pelayan yang saat lalu ikut pergi.
"Nak ... terimakasih sudah mau hidup, terimakasih sudah menjadi kuat ... dengar pesan Ayah mu, sudah saat nya putraku bahagia ..."
"Jangan menderita lagi, karena Ibu tidak bisa tenang jika putra Ibu menderita ..."
"Hiduplah dan bahagiakan wanita manis yang ada di sisimu, dia akan memberikan mu keluarga baru ..."
"Ibu mencintai mu ..."
Seru Ibunya lembut sekali, Avier bisa merasakan ketika Ibunya memeluknya, rasanya sangat hangat.
Dan Avier sadar jika ini akan menjadi yang terakhir bagi mereka bisa bertemu di alam ini.
Karena semuanya akan pergi dengan tenang ke alam mereka, Avier sudah sadar ketika dia berdamai dengan hatinya dan ingin hidup.
Karena itulah Avier menangis dengan sangat kuat, karena sadar ini adalah perpisahan yang sesungguhnya.
"Ibu ... aku sangat merindukan mu, aku akan hidup bahagia, terimakasih sudah menjadi Ibuku, aku sangat menyayangimu Ibu," seru Avier sesenggukan.
Lalu setelah itu ...
"Kakak ..."
Suara Anna, adik nya yang membuat dendam nya dahulu menjadi sangat kelam dan gelap.
"Anna ..." seru Avier bergetar hebat.
Dia juga melihat adiknya dalam cahaya keemasan, rambutnya di uraikan dan terlihat sangat hangat.
"Anna baik-baik saja bersama Ayah, Ibu dan semua orang, yang dikatakan Ayah benar, Kakak tidak perlu merasa bersalah ..."
"Anna sudah tenang dan bahagia di sini, Anna juga ingin Kakak Avier bahagia dengan wanita cantik bernama Winter itu ..."
"Berjanjilah kepada Anna, jika Kakak akan hidup bahagia dari mulai sekarang, jangan membenci segala yang telah terjadi ..."
Seolah Anna sadar jika hal yang paling membuat Avier seperti orang gila adalah kejadian yang menimpa Anna dahulu.
"Iya Anna, Kakak berjanji ... maafkan Kakak tidak bisa menjaga mu dengan baik, maafkan Kakak Anna,"
"Maafkan Kakak ..."
Avier menangis dengan hebat.
"Itu bukan salah Kakak ..."
"Jangan lupa pesan kami ya Kak, bahagia lah ... dan hiduplah dengan hati yang terang ..."
Seru Anna lagi dan mereka semua memeluk Avier sampai tiba-tiba semuanya menjadi hilang.
.
.
Dalam kenyataannya, Avier menangis dalam tidur dan tangannya seolah hendak meraih sesuatu.
"Aku akan hidup bahagia ..."
"Kalian tenang lah disana ..."
"Maafkan aku membuat kalian khawatir ..."
"Ayah ... Ibu ... Anna, semuanya ..."
Avier sampai sesenggukan.
Hal itu membuat Winter khawatir, sudah 30 menit Winter mencoba membangunkan Avier namun Avier sepertinya bermimpi sesuatu yang sangat berat.
Winter menggenggam tangan Avier lalu mengusapnya.
"Bangunlah ... jangan membuat ku khawatir seperti ini, bangunlah ..."
Winter ikut menangis, dia menggenggam tangan Avier lalu mencoba memeluknya erat sekali.
"Ha!"
Ketika itu Avier terbangun dan dia sadar jika dia sudah bangun dari mimpi.
Avier mendengar Winter tengah menangis memeluknya dan menggenggam tangannya.
Hal itu membuat Avier panik dan duduk.
"Ada apa? apakah kau terluka? kenapa menangis?"
Seru Avier benar-benar khawatir sekali.
Melihat jika Avier sudah sadar membuat Winter melebarkan matanya, Winter ikut bangkit dan memeluk Avier lagi dengan sabar kuat.
"Huhu ... kau membuat aku takut!"
"Kau bermimpi sembari memanggil keluarga mu, kau tidak mau bangun dan aku ketakutan sekali ..."
"Jika ada sesuatu yang berat di hatimu, kau boleh membagikan nya kepada ku, tolong jangan membuat aku takut dan khawatir seperti ini ..."
Winter benar-benar menangis dengan hebat dan mengomel.
Sepertinya Ayahnya benar, jika sebenarnya Winter adalah pribadi yang cerewet.
Hal itu membuat Avier tersenyum dan membalas pelukan Winter dengan erat.
"Maafkan aku, aku tidak akan seperti itu lain kali ..." seru Avier merasa lebih tenang.
Entah mengapa setelah dia bermimpi mengenai keluarganya keseluruhan, ada beban berat yang terangkat dari pundak dan hatinya.
Saat itu matahari pagi juga baru mengintip, dan pemandangan di luar sudah dipenuhi oleh salju putih.
Hari ini, lelaki yang menderita seumur hidup itu telah memperbaharui hatinya, berdamai dengan masa lalunya.
Dia dipeluk oleh wanita yang menjadi cahayanya itu.
.
.
.
.
Author : Jangan lupa berikan like dan komentar membangunnya, maaf ya jika masih banyak kekurangan, apalagi typo dimana-mana, jika ada typo komen saja ya biar aku perbaiki.
Btw, aku Kok ga rela ya novel ini mau selesai Minggu depan, huhu kebiasaan banget aku kalau buat novel cepat banget tamat nya ðŸ˜