
Episode 23 : Apakah dia kabur?
***
Ya, Red memiliki perusahaan yang dikelola, perusahaan yang bergerak di bidang persenjataan, alat-alat berat dan masih banyak lainnya.
Hasil dari perusahaan itu lah yang membawa Red mencapai puncak, dan memenuhi segala dana untuk menghabisi semua musuhnya.
Red berpikir sejenak, dia bisa saja melenyapkan Wilson dengan mudah, akan tetapi rasanya ada yang janggal.
Apalagi ketika ia melihat Winter yang masih terlihat bermimpi buruk.
"Sai ... jangan bunuh Wilson dulu ... kita tunggu sebentar lagi,"
Balas Red memberikan keputusan kepada Sai mengenai Ayah Winter Benson.
"Baik Bos, akan aku lakukan," balas Red menyanggupi perintah dari Bosnya tentunya.
"Oh ya ... Minggu depan persiapkan anggota unggulan mu, kita akan menjalankan misi berikutnya ..."
Perintah Red lagi hendak mematikan panggilan.
Red memutuskan bekerja dari rumah saja, di monitor melalui komputer canggihnya.
Red juga memiliki kemapuan IT yang mumpuni, salah satu kemampuan itu lah yang membawa Red sampai ke titik ini.
.
.
Waktu sudah berjalan cukup lama, tak terasa sudah petang dan Red bahkan tak sempat menyantap makan siangnya dikarenakan banyak hal yang harus ia kerjakan di ruangan kerjanya.
Ketika Red tengah bekerja, dia tidak suka diganggu oleh siapapun, sehingga tak ada satu orangpun pelayan yang berani memberikan makan siang untuk Tuan mereka.
Red keluar dari ruangan kerja dan melangkah menuju kamar pribadi dimana tadi dia meninggalkan Winter, dia ingin melihat keadaannya apakah dia sudah siuman.
Jika sudah siuman maka Winter harus melayaninya layaknya Tuan dan menyiapkan makan untuknya.
Langkah kakinya yang jejang mambawanya dengan cepat sampai ke kamar.
Namun berbeda dari yang ia harapkan Winter sama sekali tak ada di sana.
Tempramen nya yang buruk membuatnya tak bisa berpikiran jernih dan hanya memikirkan pasti Winter mencoba kabur.
“Lihat saja jika dia kabur, akan ku patahkan kakinya dan akan ku buat dia tidak bisa berjalan selamanya! Awas saja kau ya!” geram Red melangkah dengan kakinya yang berat dan emosinya yang meluap-luap.
.
.
“Ronni … Ronni!”
Red memanggil Ronni menggema di seluru mansion, Ronni yang berjarak jauh sekali dari Red bahkan bisa mendengar suara Red dari kejauhan.
Ronni tengah berada di belakang mansion itu segera berlari menghampiri tuannya.
Mansion milik Red ini memang besar tetapi pelayannya tidak terlalu banyak, karena Red kurang suka sesuatu yang terlalu ramai dan berisik.
“Yah Tuan?” dengan nafas tergesa-gesa Ronni menghampiri tuannya yang sudah berada di depan lift.
“DIMANA GADIS ITU? APA KAU MELIHATNYA?” teriak Red dengan raut wajah yang amat mengerikan.
Wajahnya sampai memerah karena terlalu marah dan tak bisa menahan emosinya.
Ronni masih mengatur pernafasannya, dia tidak dalam umur yang sangat prima jadi berlari sekencang itu sudah membuatnya kelelahan.
“Maafkan saya Tuan, saya belum memberitahunya kepada Tuan, karena Tuan begitu serius bekerja di ruang pribadi Tuan ..."
"Tadi siang Nona Winter sudah bangun dan dia bergegas menyelesaikan tugas cuciannya di belakang mansion, sekarang dia sedang mejemur kain-kain di sana Tuan …” seru Ronni dengan hormat sembari menunduk.
Ronni benar-benar sangat iba kepada Winter, sebagai orangtua melihat gadis muda diperlakukan seperti itu menyayat hati Ronni, tetapi Ronni juga tak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga menyayangi Red yang selama ini menjadi tuannya.
Karena Red memiliki penyakit batin yang sepertinya sangat sukar pulih, bahkan anggota inti Red mungkin tidak akan pernah tahu separah apa penyakit batin Red, hanya Ronni yang tahu yang selalu siaga membantu Red dalam hal apapun.
.
.
.
.