
Episode 30 : Nama asli Red terungkap.
***
Di mansion Red,
Seperti perintah dari Red, Winter yang bukanlah siapa-siapa di tempat ini hanya menurut.
Ini adalah pertama kalinya Winter tidur satu ruangan dengan lawan jenis, apalagi lelaki itu adalah lelaki yang paling ia takuti.
Malam ini dia sudah benar-benar pasrah dengan hidupnya, bagaimana dia bisa berakhir kapan saja.
Winter hanya menundukkan kepala sejak tadi, dia kemudian bisa berbaring di sofa ketika Red sudah meletakkan bukunya dan berbaring di ranjang.
"Nama mu Winter bukan?" Red memanggil Winter yang sudah berbaring ketika lampu telah padam dan Red sudah berbaring di atas ranjang.
Nampaknya Red juga belum tidur dan hanya bisa melihat langit-langit kamar.
"I ... iya Tuan, nama saya Winter," balas Winter dengan sigap segera duduk kembali.
"Apakah kau tahu? ketika hari pertama turun salju, ketika itu lah kejadian itu terjadi, kejadian yang tak akan pernah aku lupakan sampai mati!"
"Kejadian ketika salju putih berubah menjadi merah!"
Red entah mengapa membagikan ceritanya, dia tak tahu apa yang tengah terjadi sekarang, tetapi dia ingin Winter tahu apa alasan dari semua tindakan ini.
Winter terdiam, hening, ruangan yang sudah gelap hanya cahaya bulan yang mengintip dari jendela kaca yang menjadi penerangan.
"Deg!"
Ada rasa sakit yang dirasakan oleh Winter, bagaimana lelaki ini terdengar begitu menyedihkan.
Setelah hari-hari yang penuh dengan bentakan, malam ini Red menunjukkan sisi lain dari dirinya sendiri.
Sisi gelap, dingin dan tak ada cahaya kehidupan.
Setelah itu, tak ada lagi yang berbicara, Red sepertinya telah terlelap karena kelelahan, bukan hanya fisiknya saja yang lelah tetapi juga hatinya.
Bagaimanapun dua minggu lagi adalah peringatan hari kematiannya seluruh keluarganya, hal itu menandakan Red akan terkena depresi berat dan sakit.
Menjelang hari kematian keluarganya, ketika itu lah Red paling menderita.
'Jika aku berada di posisi lelaki ini, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama!'
'Ayah ... apakah kau sungguh melakukan itu tetapi kenapa? kenapa melakukan kejahatan mengerikan seperti itu!'
'Jika benar Ayah melakukan itu, maka mungkin nyawaku saja tak akan cukup membayar nya,'
Winter masih duduk di sofa, dengan wajah melihat ke arah belakang untuk melihat bulan bersinar dengan terang.
Ada buliran air mata di sana, dimana ketika mendengar ucapan Red barusan hatinya menjadi hancur.
.
.
.
"Ayah, Ibu ... Anna?"
Red sepertinya tengah bermimpi, dia bangun di rumah lamanya.
Ketika itu salju akan turun sehingga cuaca hari itu sangat dingin.
"Kak, kau tidak sekolah?"
"Jangan membuat ku naik ke lantai atas membangunkan mu lagi, jika Kakak belum bangun akan aku adukan pada Ayah!"
Anna menggerutu masuk ke dalam kamar kakak laki-lakinya, dengan suara kesal khas adik perempuan yang disuruh Ibunya membangunkan saudaranya yang lain.
Mata Red berbinar, dia merasa semuanya seolah nyata, dia berlari melewati Anna yang kebingungan dengan gelagat kakak laki-lakinya.
"Ibu?"
Red memanggil Ibunya dengan sangat nyaring, Ibunya sedang menemani para pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Aduh, Avier kenapa kau berisik sekali?" seru Ibunya melihat ke arah Red yang sedang ngos-ngosan berlari dari kamarnya menuju ruangan makan.
Red melihat wajah ibunya lagi, wajah yang lembut namun sangat cerewet jika Red bangun terlambat untuk pergi ke sekolah.
'Ya ... namaku Avier bukan Red, ternyata semua itu hanyalah mimpi buruk!'
"Avier, kau belum mandi, kau mau terlambat sekolah? aduh anak ini ..." seperti biasa suara ibunya akan melengking ketika mendapati Avier belum mandi dan beres-beres untuk pergi ke sekolah.
"Sudah lah sayang, Avier itu masih remaja, wajar dia terlambat bangun sekali-kali ..." terdengar suara yang dalam dan halus.
Lalu dilihat oleh Red ke sisinya, disana ada Ayahnya membaca sebuah majalah bisnis dengan senyuman yang sangat hangat.
"Ayah ... Ayah!"
Red berlari dan menangis sejadi-jadinya di pelukan ayahnya.
"Tuh, lihat ... putra ku jadi menangis, ada apa? jangan menangis Ayah akan selalu membela putra Ayah," seru Ayahnya memeluk Red yang menangis tersedu-sedu memeluk Ayahnya begitu kencang.
"Aduh, seolah hanya Avier saja yang punya Ayah di dunia ini, selalu di bela!" gerutu Ibunya tetapi tersenyum melihat Avier dipeluk oleh Ayahnya.
"Bukan hanya Kak Avi, aku juga disayang sama Ayah dan dibela terus, iya kan Ayah?"
Anna yang sudah turun dari lantai atas berarti dan memeluk Ayahnya.
"Ayah, Ibu ... Anna, ternyata kalian masih hidup, dan aku hanya bermimpi buruk ... aku kira kalian semua sudah ...."
Ketika Red mengadu sembari menangis tersedu-sedu, memeluk Ayahnya dengan erat.
Tiba-tiba saja adegan dalam mimpi berubah, Avier tergeletak di atas salju putih yang lembut, dia melihat seluruh keluarga nya sudah tak bernyawa mencurahkan darah di atas salju yang menjadi merah.
"Ayah ... Ibu, Anna ... tolong, siapapun ... tolong!"
"Jangan ambil keluarga ku, tolong ..." Red meminta tolong dengan kuat, tetapi karena dia lemah suaranya menjadi sangat kecil terdengar.
Yang terakhir Red ingat hanyalah ketika tangannya mencengkram celana seseorang yang bertepatan berdiri di sisinya yang terbaring terluka.
"AAAHHHHH!"
Red berteriak, tubuhnya di penuhi oleh keringat, dan dia sudah mendapati ada lap putih bersih yang hangat jatuh dari dahinya.
Ketika itu, seseorang juga bertepatan masuk dari pintu kamar, ialah Winter yang menggantikan air hangat di wadah yang ia bawa.
"Haaah!"
Red menghela nafasnya dalam, wajahnya yang pucat dan keringat yang membasahi tubuhnya membuat baju tidurnya ikut basah.
Sembari mengusap rambutnya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?"
Geram Red ketika melihat Winter terdiam mematung di depan pintu dan hanya menggenggam air hangat yang ada di wadah.
"Saya ... saya tadi melirik Tuan bermimpi buruk dan demam, saya hanya mencoba memberikan pertolongan pertama ... mohon maaf atas kelancangan saya Tuan,"
Winter menundukkan kepalanya, dia bahkan tak bisa menyembunyikan getaran tangan sampai air yang ada di wadah tumpah sedikit.
'Gadis ini benar-benar aneh, apakah ini salah satu bentuk sihir nya? apa dia mau aku kasihan kepadanya?'
'Mengapa dia membantu ku ketika aku sudah membuat nya menderita! menyebalkan!'
Geram Red merasa aneh dengan Winter yang mau merawat nya walau disaat yang bersamaan Red adalah yang membuat Winter menderita seperti ini.
.
.
.
.
Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺
Btw Jangan lupa berikan like, komen dan jika berkenan gift ya hehe..