
Episode 96 : David tak akan melepaskan Winter.
***
Waktu akhirnya berlalu, Winter terbangun karena kelaparan.
Dia bangun dengan tubuh yang terasa ringan dan segar.
Entah sejak kapan, namun Winter merasa jika tempat yang ia tinggali sekarang ini sama sekali tidak menyeramkan.
Dia bahkan tidak pernah merasa senyaman dan seringan ini sebelumnya.
"Ahhhh ... tubuhku, setelah tidur beberapa saat akhirnya aku merasa segar!" seru Winter meregangkan tubuhnya.
"Tok ... Tok ... Tok!"
Ketika ia bangun ada ketukan pintu yang mengejutkan Winter, Winter sedikit terperanjat namun segera tenang kembali ketika menyadari jika mereka adalah para pelayan yang ada di mansion ini.
"Selamat sore Nona ... mohon maafkan kami mengganggu, tetapi Tuan meminta kami untuk merias Nona ..."
"Malam ini Tuan ingin melakukan makan malam bersama anda ..."
Seru pelayan itu membuat mata Winter melebar, dia terkejut sekali.
Namun entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Winter mengusap dadanya lalu menunduk dengan wajahnya yang memerah.
"Kenapa aku jadi seperti ini? apakah aku pantas merasakan debaran ini?"
"Apakah aku telah lupa diri?"
Seru Winter benar-benar semakin bingung dengan perasaannya.
Dia merasa sesuatu yang lain tengah memberontak masuk ke dalam dirinya.
Setelah itu, Winter secara suka rela segera membersihkan dirinya dan dirias sedemikian rupa.
Walau makan malam ini hanya dilakukan di balkon kamar, akan tetapi sepertinya Red benar-benar ingin melihat Winter dalam balutan gaun indah khusus untuknya.
Ya, Red hanya ingin melihat Winter berpakaian indah hanya di hadapannya saja.
.
.
Di saat yang bersamaan,
"Winter ... kenapa tak membalas pesan ku?"
"Aku benar-benar merindukan mu, apakah yang harus aku lakukan sekarang?"
Seru David Roshfil benar-benar sudah putus asa, dia selalu mencoba mengirim pesan secara rahasia kepada Winter.
Namun tak ada jawaban sama sekali.
"Tok ... Tok ... Tok!"
Seseorang tiba-tiba saja mengetuk pintu David, orang itu adalah kepala pelayan yang selama bertugas untuk melayani sang Tuan muda, David Roshfil.
Mata David segera melebar, dia tengah meminta kepala pelayan itu untuk mencari tahu keberadaan Winter dan mengenai keadaan nya saat ini.
David melakukan ini semua karena takut ayahnya telah mengambil langkah ekstrim jika saja ayahnya tahu dia bertemu lagi dengan Winter.
"Tuan ..."
kepala pelayan itu telah datang bersama beberapa potongan Poto yang ia dapatkan dari detektif yang ia sewa.
"Bagaimana? apakah Winter baik-baik saja? bagaimana keadaannya? mengapa dia tidak bisa dihubungi sama sekali?"
David sudah benar-benar khawatir, dia tidak bisa lagi mengatur seberapa dia sangat bersemangat mengetahui keadaan Winter.
"Tuan ... saya menemukan beberapa kejanggalan dalam keberadaan Nona Winter,"
"Beliau seolah hilang ditelan bumi selama kurang lebih dua hari namun tiba-tiba saja terlihat melalukan perjalanan bersama seorang lelaki yang wajahnya tidak nampak jelas di Poto ..."
"Detektif yang saya sewa meyakinkan jika Nona Winter tengah berada disekitar seseorang yang berkuasa, namun sangat disayangkan bagaimana wajah lelaki berkuasa ini sama sekali tidak bisa ditangkap dengan kamera ..."
Mata David melebar ketika melihatnya poto itu, Winter tengah bersama seseorang yang duduk di kursi mobil belakang bersama seorang lelaki yang wajahnya tidak terlihat sama sekali.
Dengan jantung yang berdetak begitu kencang dan rasa sakit di hati mengetahui jika Winter sama sekali tidak lagi mengharapkan dirinya, David masih saja penasaran dengan lelaki yang berada di sisi Winter.
"Lalu siapa yang berada di sisinya ini? perawakan nya tidak sama dengan mantan calon suaminya? apakah Winter disekap?"
"Apakah itu alasannya mengapa Winter tak bisa membalas pesan ku?"
"Ini tidak bisa dibiarkan! aku harus melakukan sesuatu!"
Seru David merasa dia tidak boleh tinggal diam.
Dia akan melakukan segalanya untuk m lacak lokasi Winter dan menyelematkan Winter.
"Aku pasti akan membawa Winter kabur bersama ku, aku hanya ingin Winter tidak ingin yang lain!"
Seru David mencengkeram tangannya, dan tidak akan melepaskan Winter kali ini.
.
.
.
.