
Episode 43 : Red bersikap sangat aneh.
***
Karena menurut Red ketika keluarga nya di habisi, jiwanya juga mati saat itu, yang membuat dia tak bisa jatuh cinta, merasakan debaran dan bahkan keinginan untuk sesuatu.
Tetapi segalanya berubah, seperti salju yang mencair karena matahari, dinding besar di hati Red yang membeku rupanya sudah menunjukkan retakan.
.
.
Dengan pipi memerah dan terkejut dengan reaksi tubuhnya sendiri apalagi sesuatu dalam dirinya tiba-tiba saja tegak dan membesar.
Red segera berdiri, dia berkacak pinggang dan menatap Winter dengan wajah angkuhnya.
"Ehem ..."
Red berdehem lalu menelan salivanya dengan kasar.
"Bersihkan dirimu dan turun ke bawah untuk makan!"
"Aku tunggu secepatnya!"
Seru Red berkacak pinggang lalu dengan wajah super angkuh dia memerintahkan Winter untuk segera membersihkan dirinya dan turun untuk makan pagi.
Setelah itu Red melangkah pergi namun dengan angkuh pula.
Winter mungkin tidak menyadari jika begitulah cara Red menyembunyikan rasa malu nya.
Memang terlihat aneh, tetapi ini adalah kali pertama bagi Red merasakan semua getaran itu.
"Ba ... baik Tuan ..." balas Winter dengan cepat dan langsung duduk secepat yang ia bisa.
Dia menunduk hormat ketika Red sudah melangkah menuju luar kamar.
*Ctak!*
Ketika pintu kamar tertutup, Winter bisa bernafas lega dan mengusap dadanya.
Karena jantungnya berdegup kencang sekali sebab ketakutan dengan segala perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Red.
"Ada apa dengannya? kenapa dia marah marah tidak jelas dan bisa melepaskan aku dengan mudah?"
"Apakah suara perut ku membuat dia Illfeel?"
"Astaga ... aku tidak tahu dalam hidup, suara perut lapar ku bisa menyelematkan aku!'
Ucap Winter bergumam sendirian, tetapi dia tidak membuang-buang waktu, dia segera membersihkan dirinya seperti yang diperingati oleh Red kepadanya.
.
.
Disaat yang sama Red yang baru saja keluar dari kamar pribadi nya masih bersandar di depan pintu kamarnya.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantungnya berdegup sangat kencang, lalu wajahnya panas tak terkendali.
Apalagi gairahnya yang tidak pernah ia duga bisa membuatnya merasakan semua ini.
"Apa yang terjadi barusan? apakah aku menjadi malu?"
"Seseorang seperti aku?"
"Apakah gairah ku benar-benar hidup karena gadis penyihir itu?"
Red sama sekali tidak menyangka, dia bisa merasakan gairahnya dan jantungnya berdegup begitu kencang seperti sekarang.
Hati yang ia kira sudah mati bersama keluarganya nampaknya kembali hidup.
"Tu ... Tuan?"
Pak Ronni yang tadi melihat gerak gerik Tuan nya merasa bingung dan syok.
Dia tidak pernah melihat wajah Red memerah dan terlihat gugup layaknya remaja yang jatuh cinta.
Red terkejut sekali ketika mendapati Pak Ronni ada di sekitarnya, seolah menambah rasa malu, wajah Red semakin memerah.
"Ada apa? kenapa ada disini?"
"Apa yang kau lihat?"
Red jadi marah-marah tidak jelas, dia bahkan setengah berteriak sekarang.
Semua itu terjadi karena Red malu sekali, dan demi menutupi rasa malunya dia jadi marah-marah tidak jelas.
Pak Ronni yang sudah terbiasa dengan perubahan sikap dan tempramental Red yang begitu mengerikan segera menunduk hormat dan tetap tenang.
"Maaf Tuan, tetapi Tuan Sai sudah sampai dan menunggu anda di lantai bawah ..."
Seru Pak Ronni sopan dan menjelaskan tujuan kedatangannya ke depan ruangan pribadi Tuan nya.
"Ehem ..."
Red segera berdehem tidak jelas, lalu ia mengangkat dagunya melihat dengan angkuh.
Perintah Red segera melangkah kan kakinya menuju lantai bawah dimana Sai menunggu bersama tamu spesial nya.
"Huuuhh!"
Red melangkah sembari mengipasi wajahnya menggunakan tangan.
"Apakah pendingin ruangan di mansion ini tidak bekerja? kenapa sangat panas hari ini?"
"Periksa pending ruangan juga Pak Ronni!" seru Red lagi sembari melangkahkan kakinya
Karena merasa udara di mansion ini sangatlah panas dan membuatnya gerah.
Perintah Red itu membuat Pak Ronni bingung bukan kepayang, bagaimana tidak, ruangan ini selalu dijaga suhunya agar tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Apalagi sebentar lagi akan musim dingin, seharusnya mereka menggunakan penghangat ruangan, namun karena hari ini sedikit cerah, Pak Ronni memutuskan mengatur suhu di suhu ruang.
Tetapi alangkah terkejutnya Pak Ronni mengetahui jika bagi Red suhunya terlalu panas.
"Padahal walaupun matahari terik, suhu udara masih dingin, dan aku menjaga suhu ruangan di sini dengan baik ..."
"Apa yang terjadi dengan Tuan hari ini? kenapa dia sangat aneh?"
Celetuk Pak Ronni pelan sembari melangkahkan kaki berlawanan arah yang Red.
Sungguh hari ini Red benar-benar terlihat sangat aneh.
.
.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Langkah kaki Red membawa ke lantai bawah di ruangan yang dekat dengan taman.
Disana Sai segera menyambut bosnya dan Sai tengah bersama tamu spesial Red.
Ketika melihat orang itu, Red menjadi marah dan hatinya kembali dingin.
Dia tidak suka mengetahui jika dia membagi ruangan yang sama dengannya.
*Red, Sai dan tamu spesialnya berbicara banyak hal dan menemukan sebuah persetujuan yang hanya mereka saja yang mengetahui nya*
.
.
Disaat yang bersamaan,
Winter sudah selsai membersihkan dirinya, dia mengering rambut nya dan mengenakan pakaian yang sepertinya disediakan Poppy untuknya.
"Poppy, kau baik sekali ... kau pasti yang menyediakan ini untuk kau, nanti jika aku sempat aku akan berterimakasih kepada mu ..."
Seru Winter ketika menemukan di ruangan pakaian sudah ada beberapa pakaian wanita yang memang dikhususkan untuk dirinya.
Karena ukurannya semua pas untuk nya.
***
Setelah beberapa saat ...
Winter sudah benar-benar rapih, sebelum keluar dia menghela nafasnya dulu dan memejamkan matanya sejenak.
Seolah mempersiapkan dirinya untuk badai yang akan segera ia hadapi di luar pintu kamar.
"Semangat Winter, lelaki itu memang mengerikan tetapi kau tak memiliki pilihan lain!"
"Juga ... lelaki itu kelihatan sangat kesepian dan tersiksa, jika dia bisa meringankan hatinya dengan menyiksa ku maka tidak apa!"
Seru Winter berterus terang, dia sudah cukup dengan semua ini.
Jika perbuatan nya bisa meringankan beban hati Red, juga disaat yang sama bisa menolong ayah nya jika dia bisa memuaskan Red maka Winter akan melakukan peran nya dengan sangat baik dan maksimal.
Dia tidak peduli lagi dengan pedoman hidupnya yang harus melakukan hubungan hanya dengan suami saja.
Segalanya benar-benar sudah tidak penting sekarang.
Yang penting adalah melakoni peran dengan maksimal.
.
.
.
.
Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺
Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️
Lope you sekebon jeruk semua, terimakasih ya sudah setia membaca karya ku yang banyak kekurangan ini 😌