Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 53 : Asher Goldwil.



Episode 53 : Asher Goldwil.


***


Red menonton Perbincangan antara Wilson Benson dan orang itu, lalu Red tersenyum menyeringai.


"Bagus ... ini sangat bagus, hanya sebentar lagi, aku akan menunjukkan kepada mereka semua, terkhusus dia jika musim salju akan menjadi tempat pertumpahan darah untuknya juga!"


Red tengah berkobar dalam dirinya, mengenai rencananya yang berjalan mulus.


Red sudah menunggu bertahun-tahun untuk ini semua, memperkuat dirinya, membangun perkumpulan mafia, mendapatkan uang dalam jumlah banyak lalu membangun perusahaan yang berkembang dengan sangat pesat.


Membangun jaringan dan kekuasaan, hingga dia bisa sampai di posisi sekarang, Semuanya ia lakukan demi pembalasan dendam yang akan diingat oleh semua orang.


Ketika Red sedang berkoordinasi dengan Sai di perjalanan ...


Kepala Winter secara tidak sengaja bersandar di bahunya dan sebentar lagi akan terjatuh karena goncangan mobil.


Mata Red melebar dan dia dia segera menahan wajah Winter, dengan pipi yang entah mengapa memerah dia membenarkan posisi Winter di bahunya.


"Sai ... lakukan misi mu dengan baik, aku ada urusan penting disini!"


Red segera mengakhiri sambutannya dengan Sai.


Sai yang bingung bertanya apa yang harus diurus oleh Red, padahal sekarang Bosnya itu sedang berada dalam perjalanan sekarang.


"Urusan penting apa Bos?"


"Mengurus penyihir kecil!"


Setelah itu sambungan segera berakhir.


Sai langsung tahu penyihir kecil yang dimaksud oleh Bosnya, pastilah itu Winter yang diajak oleh Bosnya menuju Pedesaan itu.


.


.


"Dasar pengganggu, kau bahkan mengganggu aku ketika aku sedang menerima laporan dari bawahan ku!"


"Tapi kali ini akan aku maafkan, karena kau kelihatan mengantuk sekali!"


Gerutu Red merasa udara menjadi panas lagi.


Dia mendekap Winter di sisinya dan tanpa ia sadari ada senyuman di wajahnya ketika mereka berdua berada dalam jarak yang sangat dekat satu sama lain.


.


.


Asher Goldwil, lelaki berusia setengah abad lebih yang terlihat sangat berwibawa sedang melakukan pertemuan penting dengan semua bawahannya di aula mansion keluarganya.


"Tuan Asher Goldwil, saya rasa Tuan harus bertindak lebih keras lagi terhadap pejabat itu, aku dengar dia akan mencalonkan diri menjadi presiden, jika dia berhasil menempati posisi nomor satu di negara ini menggantikan kandidat dari anda maka posisi kita akan terancam,"


Salah satu bawahan dari Asher memberikan opini mengenai Gerald Ortega, seorang pejabat jujur yang disenangi oleh masyarakat, dimana tahun depan akan mencalonkan diri menjadi presiden.


Menjadi lawan politik dari pihak Goldwil, dimana selama bertahun-tahun, bawahan Goldwil akan menjadi presiden untuk mengontrol perekonomian dan aset negara.


Ya, keluarga Goldwil telah menjadi bayang-bayang pemerintahan sejak dahulu, keluarga Goldwil adalah elit yang memegang 90% aset negara dan memiliki kekuasaan lebih besar dari pemerintahan itu sendiri.


"Hmmm!"


Asher Goldwil, kepala keluarga Goldwil segera meminum wine yang ada di gelasnya lalu ia dengan santainya tersenyum.


"Kalian tenanglah, jangan panik ..."


"Aku sudah mempersiapkan segalanya, pertemuan ku dengan kepala keluarga Roshfil bukan hanya pertemuan biasa,"


"Disana juga akan ada beberapa pejabat termasuk Gerald Ortega,"


"Setangkai rumput subur di tengah rumput liar akan segera mati karena sendirian, dia bukanlah ancaman, jangan panik! jalankan saja rencana sesuai dengan yang aku katakan!"


Asher benar-benar tenang sekali, dia tersenyum menyeringai.


Lelaki yang berumur setengah abad lebih tetapi masih terlihat muda dan berwibawa sekali.


Asher Goldwil memang benar-benar seorang pemimpin paling hebat namun paling kejam disaat yang bersamaan.


"Haha ... Tuan kita memang sangat hebat, tidak salah kami memilih anda sebagai pemimpin kami,"


"Tidak ada keraguan sama sekali,"


Semua bawahan Asher Goldwil yang hadir di tempat itu bukanlah orang-orang sembarang, mereka adalah kalangan jenderal, DPR dan para pemimpin.


Dan mereka semua adalah bawahan dari Asher Goldwil.


.


.


.


.