Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 29 : Tidur satu kamar dengan Bos mafia?



Episode 29 : Tidur satu kamar dengan Bos mafia?


***


"Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin berhati-hati agar saya tidak membuat kebisingan," balas Winter dengan sangat halus dan hati-hati.


Agar Red tak akan marah oleh kata-katanya.


"Banyak alasan, cepat kemari duduk!" ketus Red dengan wajah yang kesal.


Bagaimana tidak, dia tidak bisa tenang karena terus memikirkan tentang Winter, karena itulah dia menjadi merasa bersalah terhadap orangtuanya, dan adiknya yang telah tiada.


"Baik Tuan," balas Winter menundukkan kepala lalu melangkah dengan normal menuju sofa yang ada di dekat ranjang Red.


Winter duduk dengan sopan, tangannya berada di atas pahanya saling beradu satu sama lain karena gugup.


Mata Red semakin tajam, tak kala ia semakin memerhatikan Winter lebih detail lagi.


Red menyadari jika Winter sudah terlihat bersih dan balutan luka nya juga sudah rapih.


.


.


"Hei, tangkap ini ..."


Red melempar sebuah ponsel keluaran terbaru agar di tangkap oleh Winter.


Winter yang melihat ponsel melayang ke arahnya segera dengan sekuat tenaga nya menangkap ponsel itu.


Untung saja dia beruntung ponselnya tak terjatuh ke lantai, mungkin dia akan terkena marah lagi jika seandainya ponsel itu rusak.


Winter melihat ponsel itu dengan lekat ...


"Kau besok akan bertemu dengan David lagi, aku memberikan mu ponsel yang sudah aku sadap, semua percakapan akan bisa aku lihat!"


"Juga jangan mencoba meminta bantuan atau kabur menggunakan ponsel itu, karena aku bisa menemukan mu hanya dalam sekejap, dan konsekuensi nya sangat besar jika kau berani kabur!"


"Apakah kau mengerti?"


Red memberikannya peringatan kepada Winter mengenai keberadaan ponsel yang ada di tangannya.


Ponsel itu berguna untuk menghubungkan Red, juga saling berkirim pesan sementara waktu dengan David.


"Baik Tuan, saya akan melakukan sesuai dengan yang anda perintahkan." balas Winter sopan dan tak ada bentuk perlawanan sedikitpun.


Ketika itu Red sudah tidak membalas ucapan dari Winter lagi dan melanjutkan bacaan nya, Red sengaja membaca buku agar dia bisa mengantuk.


Red mencoba mengurangi meminum obat penenang karena untuk menjaga kesehatan sebelum misi besarnya.


.


.


Sudah sekitar satu jam Winter duduk dan kaku tak tahu harus melakukan apa, Winter ingin keluar dari kamar ini dan menuju kamar nya yang ada di lantai paling atas, tetapi Winter terlalu takut untuk meminta ijin.


'Bagaimana ini, aku sudah lelah sekali duduk seperti ini,'


'Apa yang harus aku katakan agar dia tidak menghabisi aku ketika meminta ijin untuk keluar dari kamar ini?'


Winter tengah dalam polemik hidupnya, dia sudah lelah sekali dan ingin keluar dari kamar, namun sejak tadi Red sama sekali tidak bergeming dan tidak meminta Winter untuk keluar dari kamar.


Sedangkan Red, dia terus memerhatikan Winter dari balik buku yang sebenarnya sama sekali tidak ia baca.


Ada rasa penasaran dalam dirinya mengapa dia sungguh tidak bisa melepaskan Winter dari pikirannya, lalu mengapa hatinya selaku terasa tertusuk jarum jika ia menyakiti Winter.


"Hei kau!"


Akhirnya Red memanggil Winter.


"Ya, Tuan?"


"Kau tidur disini! aku tidak ingin kau memikirkan banyak cara di kepala mu untuk kabur! aku juga ingin mengawasi mu selama 24 jam!"


Red benar-benar sudah gila, dia juga tidak sadar jika baru saja dia mengatakan hal itu, membuat Winter syok bukan main.


"Tidur di sini Tuan? di kamar pribadi Tuan?"


"Tapi ... saya sama sekali tidak memiliki rencana untuk kabur Tuan, jadi Tuan tidak perlu khawatir, saya tahu posisi saya di sini, jadi ..."


Belum sempat Winter menjelaskan dengan Canggung dan gugup, Winter tentu saja tidak ingin satu ruangan dengan monster ini.


"Kau berbicara seolah aku memaksa mu tidur disini! juga apakah kau sudah lupa posisi mu? seharusnya kau tidak dalam posisi menolak aku!"


"Dan kau tidur disini bukan satu ranjang denganku, melainkan kau tidur di sofa, jangan banyak tanya dan menolak, kau tahu kan apa yang akan aku lakukan jika kau membantah aku?!"


Red menunjukkan dominasinya lagi, bagaimana dia membuat Winter terpojok dengan semua ucapannya.


"Baik Tuan, saya mengerti,"


Tanpa membalas lagi, Winter tertunduk lalu tidak lagi menjawab berlebihan.


.


.


.


.


Di saat yang bersamaan,


"Aku dengar keluarga Benson telah mengalami kegagalan dalam pasar saham nya, bagaimana menurut mu? perlu kah kita membantu nya, bagaimana pun dahulu kita pernah memiliki hubungan yang baik,"


Ares tengah berbicara berdua dengan Harry Roshfil, ayah dari David Roshfil.


Keluarga Roshfil adalah keluarga paling ditakuti saat ini, atas dasar kekuasaan dan kekuatan politik dan militer yang mereka miliki.


Tidak ada satupun yang mampu mengusik keluarga Roshfil, keluarga dari David.


"Ikan teri seperti Wilson Benson bukan lah seseorang yang pantas kita pedulikan, hubungan lama itu sudah tidak penting!"


"Ada yang lebih penting dari hal itu, mengenai pengesahan pertambangan baru kita di luar kota, aku ingin kau memanipulasi media dan banyak pihak yang terlibat, tempat itu harus terlihat seperti tambang biasa!"


"Jangan ada kesalahan, keuntungan yang akan kita raup akan semakin banyak dengan keberadaan tambang itu!"


Harry tengah memerintahkan adik laki-lakinya untuk memastikan pabrik tambang yang sebenarnya merupakan produksi penggalian berlian illegal, dimana lokasi itu merupakan lokasi yang tidak dianjurkan digali dengan kedalaman yang terlalu dalam.


Tetapi karena ketamakan perusahaan Roshfil memberikan SOP dimana itu hanyalah tambang biasa untuk batu bara, dan kedalaman yang dibutuhkan tidak lah memberikan efek samping yang signifikan.


Padahal nyatanya mereka akan merusak alam dan jika berlarut maka daratan di sekitarnya akan hancur oleh luapan perut bumi yang akan segera memenuhi sekitar wilayah.


.


.


.


Di tempat William Benson,


Dia tengah bersandar di tembok dingin dengan hanya satu ventilasi memperlihatkan bulan yang bersinar begitu terang.


"Winter, maafkan Ayah Nak, jika saja dulu Ayah tidak bekerjasama dengan mereka hal ini tidak akan pernah terjadi,"


"Mau bagaimana pun Ayah memang salah, sudah sepantasnya begini karena lelaki itu telah kehilangan segalanya,"


"Dan semuanya sudah terlambat, lelaki itu akan membalaskan dendam nya tanpa pandang bulu ..."


William terlihat dengan mata kosong, dia teringat kenangan saat lalu, ketika ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah dari sebuah keluarga.


Dimana jika William melakukan perintah itu maka William akan mendapatkan suntikan dana ke perusahaan nya yang sedang dalam masa krisis.


Tetapi William tak akan pernah melupakan hari itu, hari dimana sesuatu paling keji ia lihat dalam hidupnya.


.


.


.


.


Author : Yuhuu hai 😘


Sesuai janji aku akan crazy up mulai hari ini, dan jumlah kata per bab nya sudah aku perbanyak yaa 😍


Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️


Ditunggu dua episode lagi yaa 🌹