
Episode 71 : Jika saja nyawaku seberharga itu.
***
"Tak ... Tak ... Tak!"
Sungguh langkah kaki Red terdengar mengerikan di telinga Winter.
Winter sampai berjalan mundur secara tidak sadar, merasa takut sekali dengan aura mengerikan dari Red.
.
.
'Ke ... kenapa dia kelihatan marah sekali? apa yang harus aku lakukan?'
'Ayo berpikir Winter, berpikirlah ...'
'Kau harus mulai belajar menilai situasi jika berada di sisinya!'
Winter berpikir dengan sangat keras, namun dan ada jawaban yang bisa ia dapatkan, dia sama sekali tak bisa menyelematkan dirinya.
Karena sejak awal dia sudah menjadi mangsa Red, dan nyawanya sungguh berada dalam tangan lelaki yang memiliki banyak rahasia dalam hidupnya.
"Kenapa?"
Red bertanya dengan nada yang dalam, mata yang tajam namun tangan yang kelihatan bergetar sekali.
Mata bulat Winter mencoba melihat kearah Red, hatinya menjadi sakit melihat mata menakutkan namun menyimpan rasa sakit dari Red.
"Kenapa harus keluarga ku? kenapa harus ayahku? kenapa harus Ibuku? kenapa harus adikku?"
"Kenapa?"
"Kenapa?"
"Jika aku membunuh kalian semua, apakah sakit hati dan derita ku akan sembuh?"
"Apa yang harus aku lakukan?!"
Red bertanya kepada Winter, tatapannya kosong dan yang ia ingin lakukan hanyalah menghancurkan segala yang ada.
Termasuk Winter, anak dari salah satu musuhnya yang sangat ingin ia singkirkan.
Red menderita, dia ingin menghabisi musuh-musuh nya, tetapi ketika dalam proses nya, dia dihadapkan oleh orang-orang tak bersalah seperti putri dan cucu Dave.
Tadi Red melihat mereka di desa, sebelum kembali ke rumah kosong tempat peristirahatan sementaranya, dia melihat anak dan cucu dari Dave.
Rasanya ingin sekali Red menghabisi mereka walau dia sudah mendapatkan kesepakatan dengan Dave, akan tetapi tangannya bergetar hebat, dia ingat keluarganya dan derita itu kembali lagi kepadanya.
Winter yang mendengar pertanyaan itu terdiam, dia juga tak tahu jawaban apa yang harus ia ucapkan.
Dan sepertinya pertanyaan Red juga tak memiliki jawaban sama sekali.
Winter tertunduk, hatinya yang ikut sakit melihat derita dari lelaki yang tersiksa seumur hidupnya.
"Tuan ..."
"Jika saja nyawaku ini berharga dan senilai untuk menyembuhkan luka mu, aku bersedia menukar nya ..."
Winter tanpa sadar meraih tangan Red yang bergetar hebat itu.
"Tuan ... aku sudah katakan kepada mu, aku sudah senang jika aku memiliki tujuan hidup ... jika melukai aku yang merupakan anak musuh mu bisa sedikit meringankan beban di pundak mu, maka lukai lah aku ..."
"Jika menghabisi nyawaku bisa meringankan sedikit saja rasa sakit mu, maka kau bisa melakukan nya ..."
"Seperti katamu, harusnya aku sudah mati ketika di pesta pernikahan ku yang gagal ..."
Winter mengusap tangan lelaki yang begitu kokoh, dengan linangan air mata yang membuat pandangannya kabur.
"Kehidupan ini rasanya tidak adil bagimu, maafkan aku karena tak bisa melakukan banyak hal ..."
Winter tak kuasa menahan tangisnya, dia tak bisa menempatkan dirinya di posisi Red ketika kehilangan keluarganya.
Mungkin jika Winter yang berada di posisi itu maka mungkin Winter akan gila dan tak bisa melanjutkan hidupnya.
Red menatap dengan kosong, dia melihat tangan mungil Winter yang menggenggam tangannya.
Rasanya amarahnya menjadi kacau, dia tak tahu lagi.
Red mencengkeram tangan Winter dengan sangat kuat, mungkin tangan Winter sudah membiru karena nya.
"Kalau begitu ... lakukan sendiri di hadapan ku,"
"Kita buktikan apakah nyawa mu bisa meredakan sedikit rasa sakit ku ..." geram Red sembari mengambil senjata yang tersembunyi dalam jas nya dan memberikan nya kepada Winter.
Hati Red saat ini sedang kosong, emosinya berkecamuk dan rasanya ia ingin meledak karena tak bisa meredakan rasa sakit di hatinya, dan rasa sesak yang menggerogoti dirinya.
.
.
.
.