Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 87 : Kau cantik sekali.



Episode 87 : Kau cantik sekali.


***


Ketika itu, di tengah keramaian yang sedang merayakan perayaan itu, Red menggenggam tangan Winter dan menariknya membawanya kembali ke kediaman sementara mereka.


Red sudah benar-benar diujung penantian pelepasan nya, dia akan menumpahkan perasaannya dan memberitahu Winter jika dirinya telah merasakan sesuatu dari hubungan yang awalnya berawal dari kebencian.


.


.


"Tuan Avier ... bukankah disana acaranya masih berlangsung? kenapa kita langsung pulang?"


"Tidakkah kita perlu meminta ijin kepada Pak kepala desa dan warga disana takutnya mereka akan mencari kita ..."


Winter kebingungan, masih lengkap dengan pakaian tebal, dia dan Red sudah sampai di kediaman sementara mereka.


Red masih mengatur pernafasannya, dia merasa ada yang aneh menjalar dalam tubuhnya, darahnya panas dan dia merasa jantungnya akan segera meledak jika saja Winter terus saja memanggil nama aslinya.


Tangan mungil yang masih ia genggam, dia menarik tangan itu lalu dia mendekapnya dengan nafas yang berat dan terengah-engah.


Ketika ia memeluk Winter, wajah mereka mereka saling berhadapan, Red yang harus menunduk agar bisa melihat wajah Winter yang terlihat terkejut ketika tiba-tiba saja dipeluk dengan sangat kencang.


"Apa yang harus aku lakukan? selama hidup aku belum pernah merasakan ini sebelumnya ... perasaan aneh yang membuat aku tak bisa menahan diri ..."


"Kau harus bertanggung jawab!"


Bisik Red dimana wajahnya semakin mendekat, nafasnya yang panas itu semakin terasa di wajah Winter dan hanya dalam seketika nafas mereka bersatu.


Entah sudah berapa kali mereka berciuman hari ini, tetapi rasanya sangat menggelora, rasa lembut dan basah dari bibir yang sudah bersatu selalu membuat Red seperti tengah mabuk.


Red mencium Winter dengan sangat antusias, mata keduanya terpejam erat seolah tenggelam dalam ciuman panas itu.


Walaupun sedikit terburu-buru karena Red terlalu bersemangat, akan tetapi ciuman itu berangsur melembut dan Winter akhirnya bisa mengimbanginya.


Tak ada ucapan yang terdengar, hanya ruangan yang pintu balkon nya terbuka menunjukkan pemandangan alam spektakuler, suara angin yang membawa hawa dingin namun ruangan itu tak terasa dingin lagi karena luapan perasaan yang terasa bagi Red maupun Winter.


Winter yang sadar jika dia tak akan bisa lagi mempertahankan kesuciannya hanya pasrah dan mengikuti apa yang dilakukan Red, dia masih merasa sangat malu tetapi ia juga sadar jika hal ini tak akan bisa lagi ia hindari.


"Sayang ... panggil aku lagi, aku ingin dengar lagi ..." bisik Red sembari melonggarkan ciumannya sejenak.


Wajahnya yang sangat tampan itu dengan suara yang indah dan lembut membisik dekat sekali di telinga Winter.


Winter menunduk malu, matanya tak bisa melihat langsung ke arah Red.


Sembari menunduk ketika satu per satu pakaian di tubuhnya telah ditanggalkan, Winter memanggil Red lagi.


"Avier ..." ucapnya pelan namun sedikit bergetar karena merasa terlalu malu.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Red berdegup kencang ketika itu, lalu ia tersenyum nakal menyesap daun telinga Winter.


"Kau cantik sekali ... mulai malam ini tak akan ada yang bisa menghentikan aku!" bisik Red menyeringai nakal ketika memerhatikan tubuh Winter yang saat ini hanya mengenakan pakaian dalam saja di hadapannya.


Mereka berdiri saling berhadapan, Winter hendak mencoba menutupi tubuhnya yang terekspos di hadapan Red menggunakan tangan mungilnya, namun tangan itu segera diraih oleh Red.


Red langsung mengecup telapak tangan Winter dikala mata tajam nya menatap lekat kearah Winter.


"Jangan ditutupi ... tubuhmu sangat indah, membuat aku hampir gila ... tetapi tidak akan adil bagimu jika yang terlihat hanya tubuh mu bukan?"


"Sekarang ... bukalah bajuku juga ..."


"Lakukan seperti yang aku lakukan kepada mu ..." bisik Red lagi masih menatap Winter dengan sangat intens.


Red segera mengarahkan tangan Winter ke arah bajunya, agar Winter bisa menanggalkan nya sendiri.


"Ta ... tapi Tuan ..." balas Winter hendak menolak, dia merasa terlalu malu untuk melalukan itu, apalagi ini akan menjadi malam pertama untuknya.


"Lakukanlah sayang ... ikuti apa yang tubuh mu inginkan ..." bisik Red tentu tak akan menerima penolakan sedikitpun.


.


.


.


.