
Episode 59 : Prinsip hidupnya akan roboh.
***
Winter terkejut ketika mendengar itu, kelihatan sekali wajah Red berubah menjadi marah.
Tekanan ketika mencengkeram tangannya juga menjadi kuat.
Winter juga tersadar bagaimana baru saja ia seperti terhipnotis, dengan berani menyentuh wajah bos Mafia dan mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Tuan ... aku," belum sempat Winter mencoba menjelaskan jika baru saja dia sepertinya telah asal bicara.
"Sssttt ... diamlah!"
"Bukan saatnya memikirkan hal lain, aku tidak peduli hal lain sekarang! malam ini kau milikku!" geram Red dengan senyumannya yang mengerikan.
Tetapi berbeda dengan ekspresinya yang mengerikan, sentuhannya malah sangat lembut.
Red melepaskan genggaman tangannya di tangan Winter lalu disentuhnya wajah Winter dengan sentuhan lembut, Winter yang tersentak langsung menutup matanya.
Tangan Red tidak berhenti bahkan saat menerima reaksi penolakan dan melihat ekspresi ketakutan dari Winter, di bukanya baju yang dikenakan oleh Winter , dilihatnya tubuh polos yang diterangi rembulan.
Matanya tertuju pada bekas biru yang ada di beberapa bagian tubuh Winter. Entah kenapa ada perasaan menyesal dalam diri Red tadi memberikan kesan kasar padahal Winter.
Winter mencoba menutupi tubuh polos tanpa busana nya dengan kedua tangannya, namun tangan itu langsung diraih dan di genggam erat ke belakang hanya menggunakan satu tangan Red saja.
“Kenapa? Tubuhmu sangat indah, bahkan lebih indah dari bulan yang sedang bersinar itu!” bisik Red sudah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya.
Tanpa terasa Winter tak kuasa menahan tangisnya, entah mengapa dia tak bisa menahannya, dia tahu dia akan kehilangan kesuciannya malam ini.
Prinsip hidupnya akan roboh.
Melihat wajah cantik memerah itu dibasahi oleh air mata membuat Red meraih pipi Winter, di usapnya kedua pipi yang sudah basah itu.
'Wanita ini terlalu lemah dan sangat cantik, jika saja wajah dan ekpresi ini dilihat orang lain, aku pasti akan membunuhnya, hanya kepadaku, dia hanya boleh menangis dan menunjukkan ekspresi ini hanya dihadapan ku,' geram Red merasakan kobaran api hasrat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Gadis muda yang seharusnya ia benci ini, wajahnya, ekspresinya, caranya berbicara dan caranya memandang orang lain terlihat terlalu manis dan menggoda, Red yakin, siapapun pria yang melihat Winter seperti ini akan melakukan segalanya demi mendapatkannya.
“Sayang ... aku tidak akan menahan diriku malam ini, mulai hari ini kau akan menghangatkan ranjangku.” bisik Red sembari menggigit tipis leher Winter.
Winter menjadi sangat malu, sudah tidak ada pakaian yang melekat di tubuhnya, bahasa tubuhnya yang malu-malu, tangannya yang mencoba menutupi tubuhnya terlihat sangat menggoda bagi pria seperti Red.
“Kau memang penyihir kecil penggoda, kau tidak akan lepas dariku malam ini, tidak sampai kita melakukannya,” ucap Red memandangi tubuh Winter dari atas kebawah.
Red dengan cepat sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dan setelah itu langsung memeluk tubuh indah Winter dengan sangat erat.
“Tu … tunggu, sebelum itu, bisakah Tuan mematikan lampu? Aku terlalu malu dan tidak bisa membuka mata jika lampunya hidup seperti ini,” ucap Winter memalingkan wajahnya ke samping dan menutup matanya.
Dia sebenarnya belum siap, dia terlalu malu dan tidak bisa melihat tubuh bidang Red, apalagi sekarang tubuh mereka bersentuhan, rasanya geli dan membuatnya malu.
“Hehe, aku tidak suka melakukan ini di kegelapan, kau pilih satu, kita melakukannya di ranjang ini dengan lampu menyala, atau kita lakukan diluar dengan bulan sebagai penerangan, keputusan ada ditanganmu sayang,” bisik Red sembari mengusap lembut daerah sensitif Winter sampai Winter meringis karena terlalu malu.