
Episode 119 : Pesan Winter untuk keluarga Goldwil.
***
Winter sangat tidak suka mendengar bagaimana Avier selalu membahas mengenai jika Avier tidak memiliki keinginan untuk hidup di masa lalu.
***
Hal itu membuat Winter ingin sekali memeluknya kencang dan memberikan semua yang ia miliki agar Avier tetap hidup dan bahagia.
"Jangan mengatakan kau tidak ingin hidup lagi, aku benar-benar bisa gila jika kau membahas itu lagi!"
"Aku tidak akan melepaskan mu! tidak akan pernah!"
Winter benar-benar menunjukkan kepada Avier bagaimana Winter tidak akan meninggalkan dirinya.
Akan selalu ada di sisinya.
"Aku percaya kepada mu sayang, aku percaya jika kau tidak akan meninggalkan aku!"
"Aku mempercayai mu ..." balas Avier memejamkan matanya dan menikmati hangatnya pelukan Winter di dekapannya.
"Ehem ..."
"Tuan ... nyonya, kita sudah sampai ..."
Anggota Avier yang tadi membawakan mobil sebenarnya sudah memanggil Avier dan Winter sejak beberapa menit yang lalu.
Namun keduanya sangat nyaman berpelukan, dan sama seperti pelayan, anggota Avier itu juga sudah seperti angin tak terlihat di mata Avier dan Winter yang tengah dimabuk cinta itu.
Avier dan Winter yang mendengar itu segera terperanjat, keduanya segera salah tingkah dan pipi mereka memerah.
"Silahkan Tuan ..." Anggota Avier yang memang mengawal Avier sejak dari mansion segera membuka pintu mobil untuk mereka.
Winter akhirnya sadar jika mereka sedang berada di makam besar keluarga Goldwil.
Keluarga Avier yang telah tiada.
Di depan makam itu, terlihat ada patung burung Phoenix besar yang melambangkan kehidupan abadi.
Yang artinya walau semula keluarga Goldwil telah tiada, mereka masih hidup di hati para keturunannya.
"Ayo ... sayang," Ucap Avier lembut sekali, dia terus menggenggam tangan Winter dan tak pernah melepaskannya.
Winter menganggukkan kepalanya, lalu keduanya melangkah memasuki makam.
Tibalah mereka di sebuah pemakaman yang di naungi oleh pohon yang sudah dipenuhi oleh salju.
Entah mengapa walau mereka ada di pemakaman, rasanya tidak seram sama sekali.
Malahan keduanya seolah disambut dengan sangat hangat.
Ada angin lembut yang menyapa mereka ketika datang.
.
.
Di batu nisan besar yang megah tertulis nama Ayah Avier, Ibunya dan bahkan adik Avier.
"Ayah, Ibu, Anna ... aku datang," seru Avier dengan suaranya yang sudah bergetar.
Wajahnya yang sangat tampan yang selalu terlihat tegas itu terlihat sangat lembut sekarang.
Ketika Avier berbicara hati Winter menjadi terenyuh dan entah mengapa terharu.
"Aku ingin mengenalkan kekasih ku, wanita yang akan menjadi istriku, wanita yang akan menjadi bagian dari hidupku!"
"Namanya Winter Benson, dia wanita yang sangat cantik, tapi dia cerewet seperti Anna ... hahaha!"
Avier tertawa sedikit namun tetap ada bulir-bulir air mata yang menetes.
"Setiap kali aku ke tempat ini, aku selalu saja mengatakan maaf, aku selalu meminta maaf karena hidup sendirian, kali ini aku tidak ingin mengatakan itu, karena aku tahu kalian akan bersedih kan?"
"Hari ini aku datang ke tempat ini untuk mengatakan terimakasih, terimakasih sudah menjadi Ayahku, Ibuku dan adikku..."
"Terimakasih sudah mengisi hatiku, tetapi sekarang aku ingin hidup."
"Sekarang aku ingin memulai keluarga dan hidup yang baru, aku tidak akan melupakan kalian akan tetapi aku mungkin akan berhenti merasa bersalah ..."
"Kalian akan tetap berada di hatiku, tetapi aku akan mengingat kalian sebagai kenangan yang indah ..."
"Mulai hari ini, detik ini aku lepaskan semua dendam ku, aku lepaskan semua kemarahan ku, sudah saat nya aku melangkah maju,"
"Terimakasih sudah datang ke mimpiku Ayah, Ibu, Anna, aku sangat mencintai kalian!"
Dia hanya akan membawa kenangan indah dan damai.
Saat Avier sudah selesai berbicara, ada angin yang berhembus sehingga salju yang berada di atas pohon turun secara lembut ke arah mereka.
Seolah salju itu memeluk mereka berdua.
Winter yang merasa hatinya menjadi remuk dan sakit melihat kepedihan Avier untuk melupakan kenangan buruk keluarganya segera memeluk Avier.
Keduanya berpelukan, Winter tidak mengatakan apapun, dia hanya memeluk Avier karena hanya itulah ungkapan rasa sayang yang bisa ia berikan sekarang.
.
.
'Aku akan mencintai Avier sepanjang hidupku, aku tidak akan membiarkan dia menderita lagi,'
'Aku memang terlihat lemah, tetapi aku cukup kuat untuk melindungi nya, serahkan saja kepada ku ...'
'Semoga kalian tenang di alam sana, sama seperti Avier menyayangi kalian, aku juga akan menyayangi Avier lebih lagi,'
Winter berbicara dalam hatinya, dia seolah memberikan pesan pribadinya kepada keluarga Avier yang telah tiada itu.
.
.
Disaat yang bersamaan,
Sai dan Kevin tengah menyelesaikan rencana mereka, Asher Goldwil telah sadar namun masih lemah.
"Jangan lancang kalian!"
"Bawakan kuasa hukum ku, akan ku habisi kalian semua!"
"Apa kalian tidak tahu siapa aku?"
Walaupun Asher Goldwil telah lemah, namun dia masih berteriak dan dengan sombongnya masih merasa jika kekuasaannya masih utuh.
Dia belum sadar jika kekuasaan secara perlahan sudah akan turun ke tangan Avier Goldwil selalu pewaris tunggal.
Sekarang ini sidang tengah dilakukan dengan sangat intens, Mengenai hukuman yang pantas untuk Asher.
Semua bukti sudah diserahkan oleh Sai, dan putusan hukum yang diberikan dalam tempo waktu yang singkat.
"Heh tua Bangka! kau kira kau masih berkuasa?"
"Jangan membuat ku tertawa, jika kau tidak ingin kehilangan lidah mu maka diamlah sialan!" geram Sai dari luar ruangan kaca.
Ya, sekarang ini Asher Goldwil tengah berada di dalam ruangan kaca yang tidak bisa ditembus, sebelum putusan hukum di berikan maka Asher akan diawasi secara langsung oleh Sai.
Mendengar ancaman Sai dan sadar jika salah satu keluarga Goldwil masih hidup membuat Asher berteriak.
"HARUSNYA KALIAN SUDAH MATI!"
"KENAPA KEMBALI HIDUP? KENAPA MEREBUT SEMUA DARIKU!"
"AKRAM SIALAN!"
Asher berteriak dan seperti tengah berhalusinasi, dalam bayangannya yang kembali hidup bukanlah Avier melainkan kakak laki-lakinya yang ia bunuh sendiri.
Ialah Akram Goldwil.
Rasa takut dan kengerian yang ia tahan selama bertahun-tahun telah membunuh seolah meledak sekarang, setiap kali Asher membuka matanya maka ia akan melihat Akram di hadapannya.
Melihatnya dengan tatapan remeh dan jijik.
Bagi Asher, hal itu merupakan penyiksaan baginya.
Bagaimana selama hidup, ketika ada Akram maka dia akan diremehkan dan dijadikan pilihan kedua.
.
.
.
Author : Guys menurut kalian cerita ini gimana? kenapa ya aku selalu merasa ada yang kurang?
Aku selalu aja merasa karya ku ga bagus dan merasa tidak maksimal untuk kalian? ππππ
Jika ada yang kurang dikasih tau aja ya semuanya, maafin juga jika memang masih banyak kurang disana-sini.
Duh, maapkeun ya guys lagi insecure parah ini π₯Ίππ