Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 36 : Menjadi simpanan Bos mafia?



Episode 36 : Menjadi simpanan Bos mafia?


 


***


Kenapa aku harus membunuh mu? Apalagi kau baru saja mendapatlan informasi yang penting dari David!”


Red menyeringai tajam terhadap Winter membuat Winter penasaran bercampur tegang menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Red selanjutnya.


.


.


“Ya Tuan? Apakah itu artinya Tuan tidak akan menghabisi aku?” tanya Winter mencoba memperjelas apa yang sedang dijelaskan oleh Red.


Red kemudian mengangguk sembari tersenyum dengan sangat mengerikan, setiap kali Red menyeringai Winter akan merasa merinding di sekujur tubuhnya.


“Ya … aku tidak akan marah, melainkan aku akan memberikan mu sebuah penawaran,”


“Aku merasa sesuatu yang aneh akhir-akhir ini, dan semua terjadi ketika aku sudah bertemu dengan mu,"


"Bagaimana jika kau menjadi simpanan ku sampai rasa penasaran ku usai?”


Red memberikan penawaran yang membuat Winter sangat syok sampai mata Winter tak berkedip sesaat dan dia terdiam mematung berdiri di sisi Red.


Winter merasa jika Red tidak sungguh-sungguh ketika mengatakan hal itu, membuat Winter mencoba menenangkan dirinya, agar dia bisa mendengar lebih jelas.


‘Apakah aku baru saja salah dengar? Tidak mungkin lelaki ini ingin menjadikan aku sebagai simpanan nya, tidak mungkin … mana mungkin!’


Winter masih belum percaya dengan apa yang ia dengar, dia merasa dia sedang berhalusinasi atau salah dengar.


"Kenapa kau diam saja?"


"Tenang saja … aku tidak akan memaksa mu, kau tentu bisa menolak tetapi seperti yang kau bilang tadi, aku mungkin akan langsung melenyapkan mu dan ayah mu!”


“Dan satu lagi, jika kau setuju aku akan berpikir kembali untuk memberikan keringanan kepada Ayah mu, tergantung sikap mu nanti, apakah kau bisa menyenangkan aku atau tidak …”


 "Jika kau berhasil menyenangkan aku, mungkin aku akan membiarkan mu bertemu dengan Ayahmu!"


Red memberikan pilihan yang teramat sulit bagi Winter.


Dalam hal ini bukan hanya nyawanya saja yang dipertaruhkan namun juga nyawa ayahnya.


Jika saja yang dipertaruhkan hanya nyawanya mungkin Winter akan memilih mati saja dibandingkan menjadi simpanan dan teman tidur lelaki yang bukan suaminya.


Tetapi karena Winter masih sangat menyayangi ayahnya dan masih ingin menemukan jawaban sebenarnya dari ayahnya memberikan Winter pilihan paling sulit sepanjang hidupnya.


“Aku hitung sampai tiga, jika kau belum memberikan jawaban maka aku tak akan memberikan pilihan lain selain kau akan kehilangan nyawamu dan ayahmu!”


Red memberikan ancaman yang sangat mengerikan, tentu saja Red tidak serius dengan apa yang ia bicarakan, akan tetapi Red juga merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Bagaimana pun ide itu segera tercetus ketika melihat Winter dengan David, Red merasa harus memeriksa sesuatu, apalagi rasa sakit di dadanya ketika melihat Winter.


“Aku … ummm …” Winter dengan gemetaran sekali mencoba menjawab.


“Satu … dua …”


Apalagi ketika Red sudah mulai menghitung, membuat Winter semakin tertekan.


“Ti …”


Lalu ketika Red hendak menyebutkan angka tiga.


Sembari memejamkan matanya dan mencengkeram tangan satu sama lain, Winter memberikan jawabannya.


“A … aku, aku bersedia Tuan, aku bersedia …” seru Winter dengan terbata-bata dan gemetaran dengan amat sangat.


‘Ya … aku sama sekali tidak memiliki pilihan, aku masih harus hidup, aku harus melakukan apa saja demi menemukan jawaban apa yang dilakukan ayahku di masa lalu, dan untuk sekarang aku sama sekali tidak siap melihat ayahku kehilangan nyawanya …’


‘Tenanglah Winter, anggap saja kau sedang bermimpi buruk, segalanya akan menjadi baik ketika kau sudah bangun …’


Winter berbicara dengan dirinya sendiri, mengatakan jika segalanya akan baik-baik saja, menekankan dirinya sendiri jika semua ini hanyalah mimpi buruk.


.


.


.


“Bagus sekali, tenang saja aku tahu jika aku tak akan pernah bersama mu, kau hanya membuat aku sedikit penasaran, ketika rasa penasaran ku sudah usai maka aku akan segera melepaskan mu,”


“Jadi mulai hari ini kau harus bisa menghibur aku, karena nyawa ayahmu ada di tangan mu sekarang!”


“Apakah kau paham?”


Seru Red merasa puas ketika Winter sama sekali tidak menolak.


Padahal Winter memang dalam posisi tidak bisa menolak sama sekali.


“A … aku paham Tuan, “ balas Winter sudah pasrah dengan jalan hidupnya.


.


.


“Bagus sekali, sekarang mendekatlah …” seru Red sembari tetap menyeringai.


Winter yang sudah setuju menjadi simpanan Red semakin mendekat, Winter melangkah semakin dekat.


Lalu tanpa aba-aba …


Red segera mencengekeram tangan mungil Winter dan membuatnya terjaruh ke pangkuannya.


“Ah …” Winter berteriak kecil karena syok tubuhnya tersungkur begitu saja.


Apalagi ketika dia  merasakan jika Red mendekap pinggang nya dan tersenyum menyeringai menatapnya dari arah dekat.


Winter menatap Red selama sepersekian detik sampai pada akhirnya Winter menunduk juga dan tak bisa menyembunyikan tangannya yang gemetaran itu.


Red meraih tangan Winter lalu melihat nya dengan seksama.


“Apakah kau masih ketakutan kepadaku?” bisik Red sungguh dekat sekali di wajah Winter.


Winter belum pernah sedekat ini dengan lelaki sebelumnya, Winter memiliki motto hidup yang ia ingat dari ibunya, jadi dia tidak boleh terlalu dekat dan melakukan hal diluar batas dengan lelaki yang belum menjadi suaminya.


Jadi walaupun Winter sudah berpacaran sebanyak dua kali, tetapi dia benar-benar belum pernah melakukan hal aneh di samping ciuman pipi bersama kedua mantan pacarnya.


Mungkin karena itulah saat lalu calon suami Winter tak tahan godaan dan malah tidur dengan wanita lain, karena Winter sangat kokoh dengan pendiriannya itu.


‘Jika aku mengatakan aku tidak takut dia tidak akan percaya, jika aku mengatakan aku takut dia pasti akan tersinggung dan marah lagi,’


‘Jadi apa yang harus aku jawab sekarang? Aku benar-benar bingung …’


‘Aku juga tidak tahu harus bersikap seperti apa,’


Winter benar-benar kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Jadi Winter memilih diam dan tak menjawab.


“Cih, kau bahkan tak menjawab ku, tetapi tak apa, karena kau sudah setuju menjadi simpanan ku maka aku sudah bebas melakukan apa saja kepada mu, kau tahu kan apa maksud ku?” bisik Red dekat sekali.


Red menunduk untuk bisa melihat wajah Winter lebih dekat, dimana Winter masih saja tak berani melihat Red yang wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya.


“Lihat aku!” Red memerintahkan kepada Winter untuk segera melihat ke arahnya.


Winter menghela nafasnya dalam ketika mendengar hal itu, dengan keterpaksaan dan hati yang amat berat, Winter dengan berat hati akhirnya melihat mata Red.


Mata tajam yang terlihat sangat dalam, seolah ketika melihat mata itu, dia akan menceritakan apa yang telah dilalui oleh Red selama ini.


 .


.


.


.


Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺


Btw Jangan lupa berikan like, komen dan jika berkenan gift ya hehe..