
Episode 40 : Kau harus bertanggung kepada ku!
***
'Apakah dia baik padaku karena aku akan segera dilenyapkan?'
'Katanya tahanan di penjara akan diberikan makanan enak dan diperlakukan dengan baik sebelum eksekusi mati, aku kan juga tawanan lelaki ini, apakah itu alasan dibalik sikap baik nya?'
Berbeda dengan apa yang hendak Red sampaikan, Winter malah merasa jika hidupnya tidak akan lama lagi karena akan dieksekusi oleh Red.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan diam seperti itu?"
"Jika kau tidak menjawab ku maka aku, maka aku ... akan,"
Red jadi kebingungan, jika Winter tidak menuruti ucapannya hukuman apa yang akan ia berikan.
Karena sekarang hatinya saja menjadi sakit hanya karena melihat Winter.
"Aku akan menghukum mu!"
Ketus Red sama sekali tidak tahu sebenarnya hukuman apa yang akan ia berikan.
Winter menghela nafasnya, dia benar-benar lelah jadi dia memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan, aku mengerti ..." balas Winter menjawab dengan pelan dan lembut.
Anak buah Red yang menyetir saat itu sangat amat syok, dia mendengar segalanya dan menyadari perhatian Red yang berlebihan terhadap gadis itu.
'Ini adalah fenomena yang pertama kali terjadi, apakah Bos menyukai gadis itu?'
'Tetapi tidak mungkin, gadis itu kan anak musuh nya ...'
'Astaga, ini benar-benar mengejutkan!'
Dia berseru dalam hatinya namun tetap mengemudikan mobil dengan hati-hati.
Tanpa sadar waktu berlalu begitu saja, ketika pembicaraan antara Red dan Winter usai, keadaan mobil menjadi sunyi.
Mobil memecah jalanan yang dingin, karena sebentar lagi akan musim salju, udara semakin dingin setiap hari nya.
Mungkin dua mingguan lagi akan turun salju pertama, dimana saat itu Red akan mengalami saat terendah dalam hidupnya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Tuan, kita sudah sampai ..." seru bawahan Red ketika dia sudah sampai di lobby mansion.
"Hei ... kita sudah sampai ..." Red mencoba mengajak Winter untuk segera turun bersamanya.
Akan tetapi saat itu lah Red menyadari jika Winter telah terlelap sejak tadi.
Winter seperti nya benar-benar kelelahan sekali.
Red terdiam sejenak, dia mengusap pipi Winter yang sedikit hangat, helaian rambutnya yang jatuh ke pipi ia singkirkan agar ia bisa menatap wajah itu lebih lama.
Red masih tenggelam dalam diam nya, entah apa yang sedang ia pikirkan akan tetapi hatinya semakin perih.
Red membuka jas nya yang besar jika dibandingkan dengan tubuh Winter.
Dia menutupi tubuh Winter mengunakan jas itu.
"Apakah saya perlu membangun Nona ini Tuan?" anak buahnya yang sudah membuka pintu mobil menawarkan Red untuk segera membangunkan Winter yang tanpa sadar telah tertidur pulas.
"Tidak perlu!" balas Red turun terlebih dahulu dari mobil, lalu dengan hati-hati ia menggendong Winter.
Hanya mengenakan kemeja putih, tubuhnya terlihat sangat indah dan bagus, dia telah memasang kan jas nya terhadap Winter, jadi udara dingin di luar segera merasuki kain tipis kemeja putihnya.
Tetapi Red tetap tegak, dia menggendong Winter dengan mudah, seolah berat badan Winter bukanlah apa-apa baginya.
Seluruh pelayan syok dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihat tuan mereka pulang dengan menggendong gadis malang yang mereka kasihani.
Tetapi mereka senang juga, dengan begitu Winter sepertinya sudah diterima oleh tuan mereka.
.
.
.
Langkah kaki Red melangkah dengan pasti, membawanya dengan cepat sampai di kamar pribadinya.
Red segera merebahkan tubuh Winter di atas ranjang, dia duduk begitu lama menatap Winter yang tertidur pulas.
Tangannya pun bergerak sendiri mengusap pipi Winter, matanya yang tajam seolah mengutarakan segala perasaan yang tak bisa ia ungkapkan secara langsung.
Bagaimana sebenarnya yang ia rasakan tentang Winter.
Benarkah memang hanya ingin merusaknya atau malah ingin melindungi nya yang begitu rapuh dan lemah.
"Hanya dalam waktu singkat, kau membuatku bingung penyihir kecil!"
"Kau harus bertanggung jawab kepada ku mulai hari ini!" bisik Red pelan lalu menyelimuti Winter dengan benar di atas ranjangnya.
Setelah itu Red pergi menuju ruang kerjanya yang ada di mansion, dia akan menghubungi Kevin, dokter pribadinya yang terkenal jenius dalam pengobatan dan tindakan operasi.
"Tring ... Tring ... Tring!"
"Halo Bos? ada apa?"
Kevin baru saja keluar dari lab percobaannya, dia sudah akan segera menyelesaikan bahan kimia yang diinginkan oleh Red.
"Apakah kau tahu mengenai penyakit Multiple Sclerosis?"
Red akan menanyakan mengenai penyakit itu terhadap Kevin.
Kevin sedikit bingung mengapa Bosnya tiba-tiba menanyakan mengenai penyakit itu, akan tetapi dia segera menjawab semampunya, karena Kevin bukanlah dokter spesialis saraf.
"Setau ku penyakit itu adalah gangguan saraf pada otak, mata atau tulang belakang, sampai saat ini belum ada pengobatan siginifikan yang bisa menyembuhkan karena itu adalah penyakit berkepanjangan,"
"Yang bisa dilakukan hanyalah pengobatan secara berkala ke dokter saraf agar menghindar komplikasi dan perkembangan penyakit,"
Kevin menjelaskan secara rinci dan jelas, mengenai penyakit itu sesuai yang ia ketahui.
"Apa dampak terburuk yang bisa terjadi?"
Tanya Red lagi mencengkeram tangannya sekarang, karena jantungnya berdegup sangat kencang.
"Penyakit itu menyerang sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan lemak yang melindungi serabut saraf (mielin). Hal ini menyebabkan gangguan komunikasi antara otak dan seluruh tubuh. Jika tidak segera ditangani, multiple sclerosis dapat menyebabkan penurunan atau kerusakan saraf secara permanen, jika yang diserang adalah saraf di otak maka pengidap akan lumpuh, jika saraf mata maka pengidap akan buta dan ..."
Belum selesai Kevin menjelaskan, Red segera menimpali dengan terburu-buru.
Seolah tak ingin mendengar kemungkinan terburuk dari penyakit itu.
"Apakah kau bisa melakukan pengobatan nya?" Red menjadi sangat terburu-buru, dia ingin mengetahui apakah Kevin bisa melakukan pengobatan atau pemeriksaan berkala itu.
Kevin semakin heran, tetapi dia segera mengingat mengenai Winter yang ada di kediaman Bosnya.
Pasti semua ini mengarah kepada gadis itu.
"Mohon maaf Bos, tetapi penyakit itu aku sarankan di tangani oleh dokter saraf saja, kebetulan aku bukan spesialis saraf ..." balas Kevin jujur sekarang.
Red memejamkan matanya dan mengusap rambutnya dengan kasar.
"Hah!"
Dia menghela nafas berat dan panjang.
"Carikan dokter saraf terhebat di dunia, bawa kepada ku secepatnya!" perintah Red yang menjadi sangat bad mood.
Dia segera mematikan panggilan itu ketika Kevin menyanggupi.
.
.
.
.
Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺
Btw segala hal yang mengangkut penyakit semuanya aku ketahui berdasarkan search di google, jika ada kekeliruan tolong di beritahu ya agar segera aku perbaiki.
Pada dasarnya novel ini hanyalah hasil halu semata, jadi tolong jangan dikaitkan dengan dunia nyata ya.
Lope you sekebon jeruk semuanya 🍊🍊😘