
Episode 38 : Hidupku sendiri juga adalah luka.
***
"Aku ingin menjadikan mu simpanan melayani ku, agar kau kotor seperti salju yang terkena oleh darah!"
Red membisik, dia bertanya-tanya dalam hatinya mengenai apa yang membuatnya begitu gila dan penasaran terhadap Winter.
Dan untuk saat ini jawaban yang ia dapatkan hanyalah jika Red pasti hanya ingin mengotori Winter saja, agar Red merasa puas dengan dirinya.
.
.
.
Winter yang mendengar ucapan demi ucapan dari Red yang selalu menyakiti hatinya hanya diam saja, dia bahkan tak bisa membela dirinya atas ucapan kejam itu.
Bagaikan mangsa yang berada di cakar predator, pasrah dengan nyawanya.
"Sayang sekali kau adalah anak dari Wilson, jika tidak maka mungkin cerita ini akan berbeda!"
"Kau mungkin memang ditakdirkan untuk membayar dosa ayah mu kepadaku!"
Bisik Red lagi, dia meraih pipi Winter dan menatap nya lekat sekali.
Bola mata Winter terlihat jernih namun berangsur memerah karena menahan tangisnya.
Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan namun dia mencengkeram kedua tangannya untuk menekankan dirinya agar tetap tegar.
Tubuhnya yang sudah lelah tak bisa lagi memberontak, dia pasrah sepenuhnya, apapun yang terjadi mungkin itu sudah menjadi jalan hidupnya.
"Jika Tuan bisa meluapkan amarah mu dengan cara menyakiti aku, maka lakukanlah Tuan ... pada dasarnya aku memang bukanlah seseorang yang berharga untuk diperhitungkan keberadaannya,"
"Hidupku sendiri adalah sebuah luka di hati semua orang, mudah sakit dan sangat lemah, merepotkan semua orang, aku juga sebenarnya tidak memiliki harapan untuk terus berjuang,"
"Mungkin Tuan benar, takdir mempertemukan kita agar aku memiliki tujuan hidup, menjadi pelampiasan amarah mu sampai Tuan puas ..."
Winter tanpa sadar menahan semua ucapan Red.
Dengan nada yang begitu lembut dan tulus, Winter mengucapkan semua hal yang ada di hatinya.
Ya, Winter juga menyadari siapa dirinya, dia adalah seseorang yang akan membuat kerepotan orang-orang terdekatnya, karena itulah Winter memilih untuk tidak memiliki teman dekat.
Saat lalu, Winter juga tidak bisa melampiaskan amarahnya terhadap calon suaminya yang terang-terangan selingkuh darinya, karena pada dasarnya Winter juga menjebak lelaki itu secara tidak sengaja.
Menyeret lelaki itu menikah dengannya yang lemah dan mudah sakit, tidak tahu apa yang akan terjadi kepada hidupnya selanjutnya.
Bisa dikatakan, ada sedikit rasa lega ketika calon suaminya itu kabur dan tak terikat lagi dengannya yang lemah ini.
Melainkan dipertemukan dengan sang bos mafia yang hatinya marah dan terluka, membutuhkan pelampiasan amarah.
Dan Winter merasa dirinya cocok dengan hal itu, setidaknya dia akan memiliki tujuan hidup.
.
.
.
'Gadis semuda ini mengapa bisa berbicara begitu pasrah dengan hidupnya?'
'Semakin dia bersikap seperti ini, semakin aku melihat kesamaan diantara kami!'
Red merasakan sakit di hatinya lagi, mendengar suara Winter yang lembut, dengan ekspresi yang begitu tulus dan polos.
Ucapannya yang mengatakan jika dia memang pada dasarnya tidak memiliki tujuan hidup juga.
"Kau memang sangat pandai menghasut orang lain, karena itulah aku kasihan kepada mu! tetapi posisi mu tak akan pernah berubah!"
Balas Red melepaskan Winter, sebelumnya dia memang sudah mencari tahu seluruh informasi mengenai Winter tetapi dia sama sekali tidak peduli dengan penyakit Winter.
Tetapi sekarang entah mengapa dia sangat penasaran sampai mulutnya hendak menanyakan secara langsung, akan tetapi lebih baik ia tanyakan itu kepada assitennya saja.
.
.
Setelah itu Red segera menyelesaikan pekerjaan nya yang tersisa, dia akan pulang bersama Winter.
Juga ada kejutan untuk Winter ketika mereka pulang nanti.
Seru Red terhadap Winter yang bahkan tak bergetar di atas pangkuannya.
Red memang gak melepaskan Winter sedikitpun, sehingga Winter hanya mematung disana.
"Baik Tuan ..." balas Winter menganggukkan kepalanya hormat.
Dia juga sudah lelah sekali ingin segera tidur, jadi dia segera bergegas pergi.
Ketika Winter keluar ruangan, Winter berpapasan dengan Sai yang masuk ruangan Bosnya.
Winter tak berani melihat Sai karena Sai juga adalah orang mengerikan.
"Ctak!"
Winter menutup pintu ruangan pribadi Red lalu di luar sudah ada beberapa anggota Red yang menunggu Winter agar dikawal menuju mobil.
"Bahkan ada banyak pengawal hanya untuk mengantarkan aku ke mobil, lelaki itu tidak percaya jika aku tidak akan kabur ..."
"Menyedihkan sekali ..." seru Winter mengikuti anggota Red itu menuju lift dan ke jalur rahasia dimana mobil Red telah menunggu.
***
Di ruangan pribadi Red,
"Ada apa Bos? apakah ada yang penting yang hendak Bos tanyakan kepada ku?"
Sai sedikit kebingungan, tadi dia berada di ruangan pribadinya mengurus beberapa hal penting, tetapi Bos nya malah memintanya datang ke ruangan pribadi Red sebentar.
"Iya, minggu depan rencana kita sangat berketepatan dengan waktu musuh kita mengadakan pertemuan, meraka semua akan ada disana, jadi siapkan semua tim yang paling mumpuni ..."
"Siapkan juga undangan palsu untuk ku, agar aku bisa memasuki pertemuan itu,"
"Kita akan menghabisi mereka semua dalam waktu dekat, aku benar-benar tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi!"
Seru Red terhadap Sai yang melebar kan matanya ketika mendengar bagaimana rencana mereka sepertinya sangat tepat waktu.
Bagaimana dadi informasi yang didapat oleh Winter, jika musuh mereka akan melakukan pertemuan satu minggu dari sekarang.
"Baik Bos, akan aku persiapkan semuanya ..."
Balas Sai langsung bersemangat, tidak hanya Red yang memiliki dendam pribadi dengan mereka tetapi juga Sai.
"Oh ya satu lagi, aku penasaran sebenarnya apa penyakit Winter? saat lalu aku tidak terlalu memerhatikan nya," tanya Red terlihat ragu-ragu ketika menanyakan itu kepada assitennya.
Sai sedikit bingung ketika mendapati pertanyaan itu, ini adalah kali pertama Red penasaran dengan sesuatu diluar rencana pembalasan dendam nya.
Apalagi itu mengenai seorang gadis yang menjadi tawanan pribadi Red.
"Jangan salah sangka, aku menanyakan ini karena takut dia mati dengan cepat!"
Red segera menimpali pertanyaan nya dengan pernyataan yang tegas dan lugas, seolah tak ingin Sai berasumsi salah dengan dirinya.
Padahal nyatanya Red memang sangat ingin tahu, dan ini memang adalah kali pertama untuknya bersikap seperti ini.
"Iya Bos, aku tidak akan pernah salah sangka kepada mu,"
"Berdasarkan data yang sudah aku cari, Nona Winter menderita penyakit auto imun yang menurun dari Ibunya, nama penyakit spesifik nya adalah Multiple sclerosis, dan sampai sekarang tidak ada pengobatan untuk penyakit itu Bos ..."
Sai menjelaskan lebih rinci mengenai penyakit Winter yang menurun dari Ibunya.
Mengenai mengapa Winter begitu lemah dan mudah sakit.
.
.
.
.
Author : Aloo pembaca setia sayang 😍
crazy up hari ini sudah update ya, jumlah kata per bab nya sudah aku perbanyak 😍
Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️
Ditunggu dua episode lagi yaa 🌹