
Episode 81 : Terimakasih sudah menyambut kami.
***
"Sebelum kita memulai acaranya ..." seru Pak Troy sangat menantikan kedua pasangan baru ini memperkenalkan diri mereka.
Agar semua orang kenal dan akan mengingat nama mereka.
.
.
Mata Red melebar, dia langsung melihat kearah Winter yang juga terdiam membisu, seolah menunggu respon dari Red juga.
"Ehem ... gunakan nama palsu, jangan sampai menggunakan nama asli mu!" bisik Red membuat Winter panik.
Dia tidak terlalu pintar berbohong, tetapi apapun demi Red, jika Red mengatakan hal itu maka Winter akan langsung melaksanakan nya.
"Ba ... baik Tuan ..." bisik Winter membalas sembari tersenyum dengan lembut ke arah para warga yang di dominasi orang tua itu.
"Baiklah Pak, perkenalkan semuanya nama saya Carl Davidson, kebetulan saya dan istri saya sedang berbulan madu di tempat ini karena tempat ini begitu asri dan jauh dari perkotaan,"
Red tersenyum, dia menyebutkan salah satu nama samarannya, ialah Carl Davidson yang merupakan pemilik perusahaan Davidson yang ia bangun sendiri.
Dimana kesuksesan perusahaan adidaya itu menjadikan Red seperti sekarang ini, bisa memulai balas dendamnya yang akan pecah hanya dalam hitungan hari.
Red yang melihat para warga merasa hatinya entah mengapa hangat dan senang ketika melihat para warga yang tengah memandangi dirinya, seolah-olah kesederhanaan para warga desa membuat Red merasa tenang dan seolah-olah dirinya tengah pulang kampung.
Matanya melihat sekeliling, dan dia bisa mendengar para ibu-ibu yang sudah cukup tua ataupun nenek-nenek membisik tersenyum karena membicarakan bagaimana dia begitu sopan datang ke tempat ini dan memperkenalkan diri.
"Dia sopan sekali, dari nama nya saja kelihatan jika dia bukanlah orang sembarangan namun dia tidak segan untuk menyapa kita ..."
"Iya ... apalagi dia kelihatan sangat mencintai istri muda yang sangat cantik itu, sejak tadi tangannya tak dilepaskan oleh nya ..."
Mereka semua berbisik-bisik, bagaimana mereka sangat senang dengan keramahan Red.
Red yang mendengar itu melihat ke arah tangannya, dan benar jika dia sama sekali tidak melepaskan tangan Winter sejak tadi.
Dia tersenyum puas dan bangga, entah mengapa ketika dia melihat para warga yang sopan dan sederhana, melihat Winter di sisinya, dia seolah keluar dari dunia nya yang gelap dan kejam.
Dia seperti memasuki dunia mimpi dimana dia memiliki tempat untuk pulang, dimana dia bisa bahagia tanpa memikirkan apapun.
Disana tanya bersamaan, Winter yang merasa jika sudah saatnya gilirannya berbicara segera menelan salivanya dengan kuat.
"Pe ... perkenalkan semuanya, na ... nama saya ..." sebelum Winter menyebutkan namanya, dia melirik ke arah Red yang baru saja ia sadari jika Red terus menatapnya sejak tadi.
Entah apa maksud dari tatapan yang dalam itu, namun Winter segera mengalihkan pandangannya dan memantapkan hatinya untuk berbicara dengan tegas.
"Perkenalkan semuanya, na ... nama saya Windy Davidson, istri dari Carl Davidson, terimakasih sudah menyambut saya dan suami saya ... tadi juga memberikan banyak makanan ke rumah ..."
"Saya dan suami sangat senang bisa berada di desa ini, desa ini sudah seperti tempat pulang untuk kami ..."
Winter berbicara sembari tersenyum, dia menggandeng tangan Red yang saat ini membelalakkan mata dan wajahnya sudah semerah tomat.
Ketika Winter menyebut dirinya sebagai suaminya entah mengapa seperti ada percikan kembang api dan darahnya rasanya mendidih.
Seperti sesuatu yang membeku dalam dirinya telah mencair hanya dengan ungkapan bagaimana Winter mengakuinya sebagai suami.
Red sesaat lupa jika semua ini hanyalah sandiwara belaka.
'Suami?'
'Oh iya? kenapa jantungku rasanya mau meledak!'
'Bagaimana jika ....'
Red hampir memikirkan bagaimana jika Winter benar-benar menjadi istrinya, namun ketika ia memikirkan itu saat itu Winter tengah melihat kearah Red menunggu reaksi Red dengan sandiwaranya yang ia rasa cukup mumpuni.
*Blush*
Pipi Red segera memerah dan dia mengalihkan pandangannya sesaat, ketika ia melihat mata Winter yang berbinar dia benar-benar tak bisa menahan gejolak yang terbakar dalam hatinya.
'Aku pasti sudah gila! kenapa di saat akan musim salju seperti ini rasanya sangat panas!'
Geram Red merasa sangat panas dan jantungnya sudah tak bisa ia kontrol lagi.
.
.
.