Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 41 : Apakah semesta memusuhi aku?



Episode 41 : Apakah semesta memusuhinya aku?


***


Dia menghela nafas berat dan panjang.


"Carikan dokter saraf terhebat di dunia, bawa kepada ku secepatnya!" perintah Red yang menjadi sangat bad mood.


Dia segera mematikan panggilan itu ketika Kevin menyanggupi.


.


.


*Brak*


Red segera memukul mejanya setelah itu, membuat suara nyaring di tengah ruangan sunyi dan sedikit gelap.


Matanya tajam memecah remang-remang ruangan pribadi yang dimana lampunya memang dengan sengaja tidak dinyalakan.


"Ada apa dengan ku? apa sebenarnya yang terjadi?!"


"Aku marah dan khawatir disaat yang bersama, seharusnya aku tidak perlu peduli dengan gadis menyedihkan itu, tetapi apa yang tengah terjadi padaku ini!"


"Apakah semesta mengutuk aku? ketika aku sudah mampu membalaskan dendam ku, semesta mengirimkan gadis itu kepada ku, dan membuat aku goyah hanya dalam beberapa saat!"


"Seharusnya tidak seperti ini!"


Red marah kepada dirinya, keadaan dan segalanya.


Bagaimana mungkin waktunya bisa begitu tepat.


Segala perasaan yang menjamur di hatinya begitu cepat terjadi ketika ia bertemu dengan Winter dan melihat matanya yang murni.


Sebuah perasaan yang tak ingin melukai Winter itu pada akhirnya menyiksa Red.


Karena dia sudah bersumpah akan membalaskan seluruh musuh dan semua orang yang disayangi oleh musuhnya.


Sama seperti dirinya, semua orang yang dia sayangi direnggut dengan sadis dan tak berperikemanusiaan.


Seharusnya hatinya sudah mati dan perasaan nya sudah beku di musim salju ketika orangtuanya dan seluruh orang yang ia sayangi dibantai dengan sadis.


.


.


Red tak mampu melawan hatinya, tadinya dia tak ingin kembali ke kamar pribadinya karena disana ada Winter.


Tetapi sekarang dia sudah duduk di sisi Winter menatapnya begitu dalam.


"Menyedihkan sekali bukan Winter?"


"Semesta juga tidak adil kepadaku, ketika aku sudah bisa melakukan segalanya, ketika waktunya sudah tepat, dia mengirim mu kepada ku ..."


"Memporak-porandakan hatiku, pikiran ku dan segalanya menjadi begitu semu!"


"Apakah semesta juga memusuhi ku?"


Red berbicara dengan Winter yang tengah tertidur, dan nampaknya tengah bermimpi buruk juga.


..


"Ibu ... jangan pergi ..."


"Jangan pergi ..."


Winter sering bermimpi buruk, ketika ia berada di mansion Red dia bahkan bermimpi buruk setiap ia memejamkan matanya.


Red berada di sisi Winter, dia merebahkan tubuhnya dan menggenggam tangan mungil gadis itu.


Saat ia genggam, Red semakin menyadari betapa rapuh gadis yang ia buat menjadi tawanannya ini.


"Apakah kau bermimpi buruk? seperti aku?"


"Menyakitkan bukan?"


"Aku jadi penasaran apa yang akan terjadi kepada ku selanjutnya, ketika kau tiba-tiba saja hadir di hidupku!"


"Apakah segalanya akan berubah?"


Red memejamkan matanya, dia menggenggam tangan Winter di atas ranjang.


Red juga kelelahan sekali, jadi ketika ia berbaring di atas ranjang, rasa lelahnya membuat kantuk menghampiri begitu cepat.


Untuk pertama kalinya, dua orang yang sebenarnya mengalami luka hati itu terlelap dan menggenggam tangan satu sama lain.


Seolah semesta juga memiliki rencana lain selain Red, mempertemukan nya dengan Winter disaat yang tepat ketika Red sudah mampu melakukan apapun yang ia inginkan.


.


.


Waktu akhirnya berlalu, pagi telah menghampiri.


Pagi ini sedikit hangat, walau musim salju akan tiba tetapi matahari tetap bersinar keemasan menghampiri bumi.


Matahari membuat pandangan Winter silau, dia berada di atas ranjang yang sangat lembut, bahkan selimut hangat yang nyaman sekali.


"Uhmm ..."


Winter mengeluh sembari menutupi seluruh wajahnya menggunakan selimut.


Dia merasa silau ketika matahari menyentuh wajahnya.


"Apakah yang membuka itu Bibi?"


Winter mengira dia masih berada di rumahnya, tidur dengan nyaman dan Bibi yang menjadi pelayan di rumahnya sudah membuka gorden agar Winter segera bangun.


Winter hendak terpejam lagi, sampai beberapa detik setelah itu ia sadar jika hidupnya tak seindah itu lagi.


"AH!"


Serunya nyaring langsung otomatis duduk.


Winter mengedipkan matanya dan penglihatan nya sudah membaik.


Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Winter, bagaimanapun terakhir kali dia tertidur di bahu Red ketika mereka tengah dalam perjalanan pulang.


"Mampus aku! bisa mati dengan cepat aku jika seperti ini!"


"Tidur dengan nyenyak di ranjang ...." belum sempat Winter melanjutkan ucapannya, ketika ia hendak melompat turun dari ranjang.


Matanya menangkap lelaki yang begitu berkarisma, menggunakan piyama ikat gaya kimono berwarna biru yang cocok untuk kulitnya.


Sedang duduk di kursi dekat ranjang sembari membaca majalah bisnis.


Matahari keemasan yang baru saja terbit membuat rambutnya yang sedikit basah kelihatan sangat indah.


Bukan hanya itu saja, wajahnya menjadi terlihat cerah namun beraura dingin disaat yang bersamaan.


Jika saja lelaki itu dibandingkan dengan aktor paling tampan atau model paling tampan, pasti lelaki itu tak akan kalah dan pasti menjadi pemenangnya.


"Tu ... Tuan Red, aku ... uhmmm ..."


Ya, Red adalah lelaki yang duduk di kursi sofa dekat ranjang itu.


Winter tak sempat turun dari atas ranjang, hanya salah satu kakinya yang sudah sampai di lantai tetapi dia masih duduk seluruhnya di atas ranjang.


"Tak!"


Red menutup majalah bisnis dan meletakkan nya di atas meja dekat ranjang.


Dia melangkah mendekat ke arah Winter dengan piyama tidurnya yang sedikit terbuka, Red kelihatan sangat maskulin dan berkharisma ketika ia melangkah ke arah Winter.


'Habis lah aku, pasti aku akan mati sekarang juga!'


'Bagaimana mungkin aku tidak tahu diri sekali, tidur di atas ranjang Tuan nya!'


'Ah ... sudah tidak ada harapan lagi!'


Disaat yang bersamaan, Winter sudah pasrah dengan hidupnya, dia merasa dia memang sudah keterlaluan.


Bisa-bisanya dengan berani tidur di atas ranjang tuan nya.


Padahal dia hanyalah tawanan saja disini tak berharga sama sekali.


.


.


Langkah kaki Red telah sampai di hadapan Winter, Winter menundukkan kepalanya tak berani melihat Red.


Dan ...


*Buk*


Winter dijatuhkan ke atas ranjang, sampai Winter terbaring dan matanya melebar ketika menemukan jika Red sudah menggenggam kedua tangannya di atas kepalanya.


Dan Red bertumpu di atas ranjang tepat di atas tubuhnya.


Winter tak sempat memikirkan apapun, karena segalanya terjadi begitu cepat.


Red yang sepertinya baru saja mandi menggenggam kedua tangannya agar tak bisa bergerak, wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Winter tak mampu lagi berspekulasi apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


"Kau ..." Suara Red sedikit serak, dia memanggil Winter yang sudah menggigil ketakutan.


Berbeda dengan Winter yang ketakutan setengah mati, Red malah tengah memandangi wajah Winter yang kelihatan sangat cantik ketika matahari menyapa nya.


Membuat Red tak bisa menahan dirinya dan membuat Winter berada di posisi seperti ini.


'Gadis ini memang lah benar-benar cantik, tidak hanya cantik entah mengapa dia Sesuai dengan tipe ku!'


Benak Red sudah entah mengapa berapa kali mengakui jika Winter itu sangatlah cantik.


.


.


.


.


Author : Aloo pembaca setia sayang 😍


crazy up hari ini sudah update ya, jumlah kata per bab nya sudah aku perbanyak 😍


Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️


Ditunggu dua episode lagi yaa 🌹


.


.