Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 46 : Kau sudah menjadi milikku! hiduplah untukku!



Episode 46 : Kau sudah menjadi milikku! hiduplah untukku!


***


Di ruangan pertemuan Winter dan Ayahnya ...


"Ayah tenyata masih sangat kejam, bagaimana menurut Ayah jika yang di posisi Tuan Red adalah Ayah?"


"Mendengar musuh yang ikut bekerjasama melenyapkan keluarga mu, dan musuh mu terang-terangan mengatakan apa yang baru saja Ayah katakan ..."


"Ayah ... aku benar-benar kecewa,"


Winter menangis sampai dadanya sesak, ketika mendengar ucapan Winter, Wilson Benson terdiam seribu bahasa.


Seolah menyadari jika ucapan Winter tidaklah salah.


"Ayah tahu Ayah kejam, tetapi seorang Ayah akan melakukan apa saja demi putrinya, Ayah tidak akan membela diri Ayah lagi, Ayah hanya berharap putriku tidak akan menderita lebih dalam lagi ..."


"Ayah akan menyerahkan segalanya kepada semesta, Ayah akan melakukan segalanya sampai setidaknya lelaki itu memaafkan mu, Ayah benar-benar tidak akan mengharapkan permintaan maaf ..."


"Dari lubuk hati yang terdalam, maafkan Ayah, Nak ... tolong ingat Ayah sebagai Ayah yang selama ini menyayangi mu, agar setiap langkah Ayah, Ayah akan melakukan segalanya dengan tanpa beban ..."


"Tolong tetaplah berjuang untuk tetap hidup, jangan terhalang karena dosa Ayah ..."


Wilson benar-benar terluka, dia mengerti apa yang diucapkan oleh Winter tetapi disaat yang bersamaan dia juga tidak akan menyerah demi putrinya.


"Ayah ..."


Winter menangis dengan hebat, pada akhirnya Wilson Benson juga adalah Ayahnya.


Walau Ayahnya memiliki dosa yang sangat berat, Winter juga tak bisa membenci Ayahnya.


"Ayah ..."


Hari itu di ruangan itu suara haru yang teramat sangat antara ayah dan putrinya.


.


.


.


Tak terasa sudah 15 menit berlalu, Sai harus tetap mengawasi Wilson sehingga Sai harus membawa Wilson lagi.


Entah apa rencana tambahan dari Red, tetapi semuanya akan pecah dalam satu minggu.


Red akan menghabisi semuanya dalam satu hentakan tangan.


Dendam sang bos mafia itu akan terbakar dalam waktu dekat.


"Kita harus segera pergi!" seru Sai yang sudah masuk ke dalam ruangan itu.


Wilson segera menggenggam tangan putrinya, lalu memeluknya lagi seolah pelukan itu adalah yang terakhir kali.


"Putriku ... ingatlah jika Ayah sangat sangat menyayangi mu, apapun yang terjadi tetaplah hidup dan jangan pikirkan Ayah ..."


"Ayah akan baik-baik saja, dan sampaikan lah permohonan maaf Ayah kepada lelaki itu ..."


"Ayah pergi dulu ..." seru Wilson melepaskannya putrinya dan harus pergi dengan Sai.


"Tidak ... tidak, Ayah ..."


"Ayah ..."


Winter menangis sampai sesenggukan, dia hendak mengejar ayahnya tetapi dia tahu cctv sedang mengawasi.


Winter tak bisa mengejar Ayahnya yang sudah menghilang dari pandangannya.


.


.


Setelah beberapa saat ...


Winter terdiam di ruangan yang kosong, dengan mata kosong dan harapan yang hancur berkeping-keping.


"Lelaki itu memang pantas marah, di titik ini aku memang tak akan bisa bebas dan melepaskan diriku ..."


"Hidupku tak akan pernah bisa bebas karena dosa Ayahku," Winter sudah tahu jawaban dari segala pertanyaan yang muncul akhir-akhir ini.


Dia akan melakoni peran nya di sisi Red sampai ia tak dibutuhkan lagi.


Dia tak akan melawan dan menolak karena itu sudah menjadi gadis takdirnya.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Nona Winter, anda diminta untuk segera ke ruangan Tuan ..." seru Pak Ronni yang sudah masuk ke dalam ruangan dimana tadi Winter dan Ayahnya bertemu.


Dengan mata yang bengkak dan senyuman yang teramat pilu, Winter menganggukkan kepalanya dan melangkah ke ruangan pribadi Red.


Langkahnya sangat lunglai, hatinya kembaliin rapuh atas kebenaran dan harapan untuk bisa menata kehidupan yang baik telah hancur berkeping-keping.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Lalu ia segera masuk dan melihat Red tengah menghisap rokok sembari duduk di kursi kebesarannya.


Red meminta Winter mendekat dengan gerakan telunjuk jarinya.


"Tak ... Tak ... Tak!"


Winter mendekat dengan menundukkan wajah dan tak berani lagi melihat Red.


"Aku melihat reuni penuh haru biru mu dengan Ayah mu, menyenangkan ya bisa memeluk keluarga mu dan menangis satu sama lain!"


"Sedangkan aku, semuanya sudah pergi dan yang tertinggal hanyalah amarah dan rasa pedih!"


Red menghembuskan asap rokoknya.


Lalu ia melihat Winter yang sepertinya kehilangan harapan hidupnya ketika mengetahui ayahnya benar-benar berdosa.


Sedangkan Winter ketika mendengar itu merasa hatinya semakin tersayat, beban berat di pundaknya semakin berat.


Seolah ia bertanggung jawab untuk menebus kesalahan ayahnya terhadap lelaki yang dahulu menerima ketidakadilan ini.


.


.


Red mematikan rokoknya, lalu ia menepuk-nepuk pahanya.


"Kemarilah ... ada yang ingin aku katakan dari dekat ..." seru Red dengan ekspresi dingin dan tak terbaca.


Winter menganggukkan kepalanya namun tetap tak mampu melihat Red.


Winter datang datang seperti biasa Red akan menarik tangannya dan membuat Winter duduk di pangkuannya.


Red meraih dagu Winter agar mereka bisa saling pandang dari arah yang sangat dekat.


"Aku tidak peduli apa yang sedang kau pikirkan penyihir kecil ..."


"Tetapi Kau sudah menjadi milikku! maka hiduplah untukku!"


"Jika kau ingin menebus dosa Ayah mu maka tetaplah hidup untuk ku, apakah mengerti?" bisik Red menekankan kepada Winter untuk menjadi boneka mainan nya yang tak akan memberontak.


"Jadi boneka mainan ya? tetapi jika itu bisa meringankan beban hati mu maka tidak apa Tuan ..."


Akhirnya Winter membalas dengan suara yang sedikit parau dan lemah.


Winter juga membuka matanya dan menatap Red.


Lalu ...


"Deg!"


Rasa sakit di dada Red semakin menjadi-jadi.


Tatapan mata Winter sungguhlah sangat dalam dan pedih, pandangan mata seseorang yang tak memiliki harapan apapun.


Tatapan mata Winter ini sangat mirip dengan tatapan matanya dahulu.


"KAU!"


Red mencengkeram kedua pipi Winter yang pasrah dalam cengkeraman nya.


Bagaimanapun seharusnya Red membenci Winter tetapi malah pada akhirnya Red selalu berakhir merasakan sakit jika menyakiti Winter.


Hal itu membuat Red sangat marah terhadap dirinya sendiri.


Winter diam saja ketika menerima cengkeram kuat itu, dia terdiam dan menatap Red dengan tatapannya yang sangat dalam.


"Kenapa selalu membuat aku bingung? aku benci perasaan ku, aku ingin segera membuang nya!"


"Tetapi sekarang benar-benar tidak bisa sekuat apapun aku mencoba, kita lihat nanti apakah aku akan bosan atau tidak!"


Geram Red tengah merasakan perasaan mulai sayang namun benci disaat yang bersamaan.


Sungguh hubungan yang aneh, namun Red benar-benar tak bisa melepaskan Winger untuk saat ini.


.


.


.


.


.


Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺


Btw Jangan lupa berikan like, komen dan jika berkenan gift ya hehe..


Lope you sekebon jeruk semuanya 😘❤️