
Episode 62 : Red yang terlalu posesif.
.
.
.
Dokter umum yang kelihatan berusia 30 an keatas itu memeriksa keadaan Winter, memeriksa denyut nadinya dan bola matanya.
Red disana berdiri dengan melipat tangan melihat Dokter itu menyentuh kulit Winter dengan seenaknya.
"Kenapa kau lama sekali menegang tangannya?"
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Pemeriksaan tidaklah membutuhkan waktu selama itu? kau pasti sengaja kan?"
Red marah-marah tidak jelas, dia sangat tidak suka dan ingin segera mematahkan tangan dokter yang memegang pergelangan tangan Winter.
Menurut Red durasinya terlalu lama jika hanya untuk memeriksa denyut nadi.
Dokter yang sudah usai memeriksa keadaan Winter itu melebarkan matanya dan syok jejak mendapati kemarahan lelaki super tampan yang ada di ruangan itu bersamanya.
'Apakah keduanya masih pengantin baru? padahal aku hanya memeriksa denyut nadi saja lelaki seperti sudah ingin menghabisi ku!'
Benak dokter itu mencoba bersabar, lalu ia segera berdiri dan membereskan semua peralatan nya.
"Ehem ..."
"Saya hanya melakukan tugas saya Tuan, kebetulan setelah saya periksa beliau ini baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sepertinya sedang tertidur pulas sekali,"
"Sepertinya beberapa hari terakhir ini dia tidak bisa tidur nyenyak dan tidak tenang, lalu sepertinya dia langsung melakukan perjalanan jauh yang menguras semua energi nya, jadi dia bisa tertidur sangat pulas ketika ada sesuatu yang membuat adrenalin nya bekerja terlalu lelah ..."
Dokter itu segera memberikan penjelasan nya, bagaimana sebenarnya Winter tidak lah pingsan hanya saja sedang tertidur sangat pulas.
Mata Red melebar ketika mendengar itu, dia segera melihat kearah Winter yang sepertinya memang benar-benar sedang tertidur, terlihat dari gerakan tangannya yang bergeser.
"Wanita ini membuat semua anggota ku menjelajahi desa malam-malam dan membuat ku takut setengah mati!"
"Dan ternyata dia hanya tertidur! awas saja kau ya! penyihir kecil!"
Tetapi jika ditelaah lagi, Red lah yang bersikap berlebihan, dia tidak menduga jika Winter bisa tidur dalam sekejap karena adrenalinnya bekerja terlalu keras.
Dokter yang masih berada di ruangan itu masih berdiri tegap dan menunggu respon Red dari semua penjelasannya.
Akan tetapi sepertinya Red sama sekali tidak peduli akan keberadaan nya yang sudah bangun di tengah malam demi pemeriksaan yang tidak berguna ini karena Red susah teralihkan perhatiannya keseluruhannya kepada Winter.
"Haah!"
Dokter itu menghela nafasnya dan menerima nasib, dia segera meminta ijin untuk segera kembali.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan ..." sahut dokter itu dan seperti dugaannya, sahutannya juga seolah tak terdengar oleh lelaki itu lagi.
.
.
.
*Ctak!*
Pintu yang terbuat dari kayu itu akhirnya tertutup, dimana dokter sudah disambut oleh para anggota Red yang sedang berbincang-bincang dengan kepala desa.
"Besok malam kami akan mengadakan pesta penyambutan musim salju, akan ada pesta kembang api ... kami harap kalian hadir ya ... warga di sini ramah-ramah dan pastinya akan menerima kalian dengan baik ..."
Kepala desa yang sepertinya suka berbicara itu sungguh membuat para anggota Red kewalahan namun juga bahagia disaat yang bersamaan.
Sejak tadi mereka terhibur dengan ucapan kepala desa yang usianya sepertinya sudah 50 tahunan, terlihat sekali jika dia bersahaja dan memang suka menyambut orang baru.
"Hehe ... besok kami akan datang ..." sahut anggota Red itu agar perbincangan mereka berakhir dan pak kepala desa itu pulang.
"Pak Se ... ayo kita kembali sudah larut ..." dokter yang sudah bergabung bersama mereka meminta kepala desa untuk kembali bersamanya.
"Baiklah ... jangan lupa besok datang ya biar ramai ..." seru kepala desa itu sembari tersenyum ramah dan melambaikan tangannya.
Lalu suara motor pun terdengar dimana kepala desa dan dokter itu berbonceng untuk kembali pulang.
.
.