
Episode 120 : Hubungan yang semakin erat.
***
Avier, lelaki yang begitu hebat dan memiliki keinginan yang kuat untuk dendam, dia dipeluk oleh seorang gadis yang bernama Winter, gadis bertubuh lemah namun memiliki semangat hidup yang bercahaya.
Avier sadar jika selama makin lama kamu berdansa dengan iblis, makin lama kamu tinggal di neraka.
Ketika keluarganya telah tiada di hadapannya sendiri, Avier tinggal di neraka dan menjadi kemarahan itu sendiri.
Disaat-saat penghujung rencananya, ia hendak menghabisi dirinya sendiri ketika rencana usai.
Agar ia bersatu dengan keluarga nya, agar rasa bersalah telah hidup itu hilang dan hatinya menjadi damai.
Avier dipertemukan semesta dengan gadis lemah itu, gadis yang pertama kali melihatnya dengan mata yang bersinar dan berkaca-kaca.
Walau tubuhnya lemah namun tangannya hangat, walau dia kesakitan tetapi dia terus tersenyum.
Winter yang seharusnya menjadi musim salju berkepanjangan dalam hidup Avier telah menjadi hangat itu sendiri yang menyembuhkan dan meraih tangan Avier dari kegelapan yang ia tinggali selama ini.
"Sayang ... setelah pemeriksaan dokter nanti, bagaimana jika kita pergi ke taman bermain?"
"Apakah kau suka?"
"Oh atau haruskah kita pergi jalan-jalan ke pusat kota? aku dengar banyak makanan disana."
Avier sudah membawa Winter melangkah untuk segera pulang, tangannya masih menggenggam tangan Winter dan ia masukkan ke dalam kantung jaket tebalnya.
Dia bercakap-cakap dengan hati yang baru, setelah ia memberikan pesan terakhirnya, ada sebuah beban yang terangkat dari pundaknya.
"Hmmm ... baiklah ayo kesana ... sudah lama juga aku tidak kesana." balas Winter tersenyum lebar.
Dia melangkah sembari tangannya di genggam oleh Avier dan rasanya Winter sangat disayang oleh lelaki ini.
"Okey! ini akan menjadi pertama kalinya aku ke luar jalan-jalan santai, aku tidak sabar!" seru Avier bersemangat sekali.
Avier memang tidak pernah pergi jalan-jalan seperti anak muda pada umumnya, ketika keluarga nya tiada, Avier menghabiskan waktunya belajar taktik militer dan sepanjang hidupnya, dia hanya mengembangkan perkumpulan mafia nya dan perusahaan nya.
Winter yang mendengar itu merasa sedih, dia terdiam sejenak namun segera mengeratkan genggaman tangannya di tangan Avier.
'Tenang saja Avier, aku akan menunjukkan betapa enaknya jalan-jalan di malam hari sembari memakan jajanan pasar!'
'Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya hidup anak muda di jaman sekarang!'
'Aku akan menjadi pacar terhebat sepanjang masa!'
Benak Winter mengepal tangannya dan sedang dalam luapan semangat untuk menunjukkan Avier dunia luar.
Dalam hal ini, walaupun Avier adalah seorang pemimpin perusahaan dan memiliki kekuasaan yang sangat hebat, Avier memang tidak terlalu mengetahui gaya hidup anak muda jaman sekarang.
Dan Winter berencana menunjukkan nya kepada kekasihnya ini.
"Ah!"
Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Winter terjatuh karena tiba-tiba saja pandangannya kabur.
Seperti biasa, jika Winter terlalu bersemangat dan adrenalin nya meningkat maka pandangannya akan kabur dan kepalanya menjadi pusing.
"Sayang ... ada apa? kenapa terjatuh?"
"Apakah kau baik-baik saja? ada yang sakit tidak?"
Avier yang memang membukakan pintu untuk kekasihnya segera berlutut untuk meraih Winter dan melihat apakah ada luka di kaki atau siku wanitanya itu.
"Ummm?" Winter mencoba memperjelas pandangannya, dia menyipit agar bisa melihat Avier yang tengah memeriksa luka nya.
"DEG!"
Hati Winter terasa sangat sakit, dia sejenak lupa jika dia adalah seorang gadis yang memiliki penyakit.
Dia disadarkan lagi oleh bagaimana sekarang ini dia tidak bisa melihat Avier dengan jelas.
Waktu seolah berjalan dengan lambat, suara Avier seolah tidak terdengar di telinga Winter.
'Kenapa sekarang? aku tidak mau sakit sekarang, kenapa sekarang?'
'Aku masih harus membuat lelaki ini bahagia!'
'Aku tidak mau sakit! aku mohon, aku mohon jangan buat aku sakit, aku tidak ingin meninggalkan lelaki ini!'
Winter terdiam membisu, di dalam mobil dimana dia sudah dituntun oleh Avier untuk duduk dengan nyaman.
Pandangannya kosong dan dengan ucapan Avier tak lagi ia dengar.
"Sayang maafkan aku, sepertinya aku terlalu bersemangat sehingga tidak memerhatikan, bahkan membuat mu sampai terjatuh!"
"Aku akan sangat berhati-hati lain kali, maafkan aku ya sayang ..." seru Avier mengusap rambut Winter yang tiba-tiba saja diam.
Entah karena apa, Avier belum sadar jika saat ini Winter merasakan pandangannya kabur lagi.
Walau sekarang sudah membaik seperti biasanya, namun pandangan kabur nya itu menyadarkan Winter jika dia bukanlah gadis sehat yang bisa melakukan apa yang ia inginkan.
Ketika Avier masih berbicara, Winter meraih kedua pipi Avier, melihat wajahnya sekali lagi, untuk memeriksa apakah pandangannya sudah membaik.
"Tes!"
Tiba-tiba ada buliran air mata menetes di pipinya, Winter senang sekali ketika tahu jika pandangannya sudah membaik lagi.
Winter langsung memeluk Avier erat sekali, tubuhnya bergetar hebat.
Avier yang menyadari itu membalas pelukan Winter, Avier masih merasa jika Winter menangis karena ia terjatuh tadi.
Padahal Winter menangis karena sadar jika mungkin dia bisa menjadi luka baru bagi Avier jika saja penyakitnya kambuh sekarang.
'Tuhan, tolong jangan buat aku sakit, aku tidak ingin sakit, aku ingin sembuh, tolong jangan merebut kebahagiaan lelaki yang aku peluk ini ...'
'Tuhan, berikan aku keajaiban agar aku sembuh, aku ingin berada di sisi lelaki ini selama nya, aku tidak ingin dia kembali hidup dalam kegelapan ...'
'Aku mohon ...' Winter berdoa dalam hatinya, dengan tangan yang bergetar hebat dan nafas ya berat dia tidak mau melepaskan pelukannya dari Avier.
.
.
Di kediaman Avier,
Hanya dalam perjalanan sebentar, keduanya sudah sampai di kediaman Avier yang begitu luas itu.
"Tuan, dokter Florence sudah ada di ruang tamu, hendak bertemu dengan anda dan Nona Winter ..." seru kepala pelayan ketika melihat Avier dan Winter sudah sampai di kediaman.
Winter kelihatan tidak mau lepas dari Avier, tangan terus menggenggam Avier dan matanya terlihat sembah karena baru saja menangis.
"Sayang ... dokter nya sudah datang, ayo kita temui dia, sekalian melihat apakah tadi saat kau jatuh ada luka yang serius." ucap Avier menunduk melihat Winter yang terus menempel di sisinya.
"Hummm ..." balas Winter menganggukkan kepalanya dan keduanya melangkah pelan menuju mansion.
Sebenarnya Avier memiliki firasat yang buruk atas perubahan sikap Winter yang terjadi tiba-tiba namun Avier masih berusaha tetap positif thinking.
.
.
.
.
Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺
Kemarin terimakasih ya komentar membangunnya yang bilang novel ini bagus dan kalian menikmatinya.
Komentar kalian benar-benar memberikan semangat untuk author loh 🥺