
Episode 111 : Takdir sang musim salju.
***
"Terimakasih Sai, aku tidak menyangka kau bahkan berbohong tentang hari ulangtahun ku ..." balas Avier tersenyum bangga ke arah saudaranya ini.
Sai hanya tersenyum sedikit, dia kemudian menundukkan kepalanya ketika Avier akhirnya menaiki yatch.
.
.
.
Avier Goldwil yang merasakan banyak guncangan perasaan malam ini tidak sabar hendak pulang.
Ini adalah pertama kalinya dia merasa hatinya berada di rumah.
"Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi awalnya aku membenci kata rumah, karena aku sadar tak akan ada yang menunggu aku!"
"Tetapi sekarang, kata rumah kembali menjadi kata yang nyaman,"
Avier melihat lautan yang luas.
Angin kencang yang menyapa dirinya karena yatch telah melaku ke pelabuhan berbeda dari tujuan Sai dan para anggota nya.
Avier memejamkan matanya dan merasakan angin dingin menerpa nya.
Di rambutnya sudah ada beberapa salju putih, dia meraih butiran salju lalu ia ingat akan Winter lagi.
Avier tersenyum namun menangis, siapa sangka musim salju kali ini berbeda dari musim salju sebelumnya.
Jika musim salju sebelumnya selama bertahun-tahun, Avier akan menderita sendirian dan mengalami bentrokan batin yang hampir membuatnya gila.
Namun kali ini, ketika musim salju ini, ketika ia melihat putih salju itu, dia mengingat Winter.
Sesuai dengan namanya, Winter ... siapa yang bisa menduga, musim salju yang dingin yang meninggalkan kepahitan yang meninggalkan bercak darah yang tak pernah terlupakan, berubah menjadi hangat.
Musim yang seharusnya dipenuhi perasaan dingin, saat ini hati Avier malah menjadi hangat.
Hanya dengan mengingat wanita muda yang bernama Winter itu.
.
.
Semesta memang penuh misteri, dari sebuah kisah yang kelam, dia mempertemukan Avier dengan seorang gadis perwujudan musim salju.
Gadis yang kesepian karena merasa lemah, siapa sangka gadis perwujudan musim salju itu menjadi terang dan nyala api yang memberikan rasa hangat bagi Avier.
Seorang lelaki yang membenci musim salju dan merasa hatinya telah beku saat musim salju terakhir ketika keluarganya dihabisi.
Hanya dalam waktu singkat, Avier sudah sampai di pelabuhan, dan para anggotanya yang telah menunggu segera menundukkan kepalanya
"Tuan ... silahkan masuk ..." para anak buah Avier yang memang memberikan pengawalan ketat kepadanya segera menuntun Tuan mereka memasuki mobil.
Avier tidak berbicara sedikitpun, dia hanya ingin pulang.
***
Di kediaman Avier,
Winter sedang berada di balkon kamar pribadi Avier yang luas, dia berdiri di sana menggunakan jaket tebal dan syal merah nya.
Dia memejamkan matanya lalu merasakan salju pertama itu turun melalui dirinya.
"Ibu ... sebentar lagi aku akan berusia 21 tahun, aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa sekarang, walaupun aku tetap memiliki tubuh lemah tetapi aku bisa merasakan jika hatiku semakin kuat ..."
"Ibu, apakah Ibu tahu sekarang ada seorang lelaki yang ingin aku lindungi, awalnya dia terlihat sangat menyeramkan dan menakutkan, tetapi jauh di dalam dirinya, dia sangat lemah dan rapuh ..."
"Aku terjebak dengannya karena kesalahan Ayah dahulu, awalnya aku hanya ingin berada di sisinya agar dia mengampuni Ayah, tetapi sekarang berbeda ... aku ingin berada di sisinya ..."
"Berikan aku sedikit lagi kekuatan Ibu, aku ingin terus berada di sisinya ... aku ingin membuat dia bahagia selama berada di sisiku ..."
Winter seolah berbicara dengan alam, dengan salju yang menggambarkan namanya.
Dia menggenggam erat syal merah pemberian ibunya, lalu ia memejamkan matanya.
.
.
.
Ketika Winter tengah berada di balkon kamar Avier, menikmati salju pertama dan memberikan permohonannya agar diberikan kekuatan berada di sisi Avier.
Bertepatan saat itu Avier telah sampai.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Avier langsung berlari ke kamar nya, dimana Winter berada.
Nafasnya begitu berat dan dia melihat dari pintu kaca jika Winter tengah berdiri membelakangi nya.
"Winter ..." seru Avier melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.
Tanpa menunggu lama, Avier langsung mendekap Winter dari belakang.
Nafasnya terasa panas dan berat, ada buliran air mata mengalir di pipinya.
"Tuan ... Anda sudah pulang?" tanya Winter terkejut ketika melihat Avier tengah mendekapnya.
Winter hendak memutar badannya dan melihat Avier dari depan.
Namun Avier segera menahan tubuh Winter dan semakin memeluknya erat sekali.
"Tuan ..." ucap Winter lagi masih bingung sebenarnya apa yang tengah terjadi.
Mengapa Avier datang dan langsung mendekap erat sekali.
"Biarkan seperti ini sebentar, diamlah dan genggam tanganku seperti ini ..."
"Biarkan aku memeluk mu ..."
"Aku sangat merindukan mu, aku merindukan mu sampai aku hampir gila ... jangan tinggalkan aku dan jangan lepaskan tangan ku ..."
"Aku merindukan mu ..."
Avier terisak, ungkapan rindu ini adalah untuk rumah nya, untuk kehidupannya dan untuk semua orang terkasihnya yang telah tiada.
Ungkapan rindu yang begitu dalam dan pedih, Avier mengatakan rindu kepada Winter namun disaat yang sama mengatakan rindu kepada keluarganya yang telah tiada.
Karena itulah ia sampai menangis, karena Winter adalah rumah untuknya sekarang.
Ungkapan rindu ke dua dunia, satu Winter dan satu lagi kepada mereka yang telah tiada.
Winter terdiam, dia melihat tangan Avier yang gemetaran memeluknya.
"Tes!"
Winter ikut menangis, getaran yang dirasakan oleh Avier yang ia kenal begitu kuat mampu membuat Winter mengetahui semua cerita yang tidak bisa dijelaskan oleh Avier sekarang.
Winter segera menggenggam tangan Avier dengan erat.
Dia terdiam namun dia tetap berdiri kokoh untuk menjadi sandaran lelaki yang bahkan tak bisa mengungkapkan semua perasaan campur aduknya dalam kata-kata.
.
.
Setelah beberapa menit ...
Avier telah mulai tenang, dia tetap memeluk Winter namun sekarang tidak terlalu kencang lagi.
"Winter ..." bisik Avier dari arah belakang Winter yang tetap memberikan sandaran bahunya kepada Avier.
"Ya Tuan?" balas Winter lembut.
"Apakah kau bisa mengatakan hal itu kepadaku secara langsung?"
Seru Avier membuat Winter terperanjat.
Winter segera tahu jika Avier tengah membahas mengenai video yang ia rekam saat lalu atas permintaan anggota Avier.
"Me ... mengenai apa Tuan?" seru Winter tanpa di duga langsung malu, dia menundukkan kepalanya dan pipinya memerah sekali.
Avier segera menarik tangan Winter dan membuat keduanya berdiri berhadapan.
Winter yang tadi tidak bisa melihat wajah Red sekarang bisa melihatnya dengan jelas.
"Deg!"
Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan olehnya ketika melihat wajah putus asa lelaki ini.
Seperti wajah seseorang yang baru hilang dan tidak menemukan jalan pulang.
Winter tanpa diminta lagi segera mengusap wajah Avier, dia mengusapnya sembari menangis dengan sangat hebat.
"Aku tidak tahu apa yang kau alami Tuan ..."
"Tetapi wajah mu ini membuat hatiku sakit, aku tidak suka melihat wajah putus asa dan kelam ini ..."
"Tolong jangan bersedih ... aku tidak tahu mengapa tetapi aku menderita melihat ini, hatiku sakit dan aku merasa sesak ..."
Bisik Winter tak bisa mengontrol ucapannya.
Semuanya ia ucapkan berdasarkan hatinya, dan bagaimana ia tidak bisa melihat Avier berada di titik yang sangat lemah seperti ini.
.
.
.