
Episode 28 : Winter harus ke kamar Red!
***
Kata-kata Pak Ronni mengingatkan Winter dengan alasan Red membalaskan dendam, ialah karena keluarganya dibantai dan adiknya diperlakukan dengan tidak manusiawi.
Winter merasa Pak Ronni tahu sesuatu, tetapi saat ini bukan saatnya Winter menanyai hal itu.
Ucapan Pak Ronni benar, jika Winter harus menurut untuk sekarang demi keselamatan dirinya dan ayahnya.
Demi menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya ketika Red datang bagaikan badai ke dalam hidupnya.
"Terimakasih Pak Ronni, Poppy dan yang lain ... aku akan melanjutkan makanan ku agar Tuan Red tidak marah," seru Winter seperti mendapatkan angin segar ketika mengetahui jika semua pelayan di mansion ini memiliki hati yang baik dan mau membantu dirinya.
"Sama-sama Nona Winter," seru Pak Ronni dan Poppy yang sudah meletakkan kotak p3k di atas meja makan di sisi Winter.
Winter segera menyantap makanannya.
'Ya, aku harus makan banyak dan sehat, bukan saatnya menangis dan merenungi penderitaan, seperti yang Pak Ronni katakan, pasti badai akan berlalu, untuk mendapatkan semua jawaban dan demi keselamatan Ayah, aku harus makan untuk tetap sehat!'
Winter seperti menemukan tekadnya kembali, dia makan dengan banyak dan menghabiskan makanan seperti yang Red perintahkan.
Red di kamar pribadinya,
"Heh! kau bahkan menangis karena itu! aku yang mengijinkan Poppy membawakan obat untuk mu!"
"Aku juga yang menyuruh mu makan, kenapa kau berterimakasih kepada mereka bukan kepadaku?!"
Red sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, dia kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang ia lakukan.
Sembari memakan roti bungkus dengan segelas teh, kesukaan adiknya dulu, Red tengah memantau cctv di kamar pribadinya.
"Wajahnya menggemaskan sekali ketika makan banyak! haruskah aku meminta dia makan di hadapan ku seterusnya?"
Red tanpa sadar berfokus kepada Winter lagi.
"Astaga!"
Red segera berdiri ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan dan ucapkan.
Red segera mematikan monitor dan menghabiskan roti dan minumannya.
"Dia benar-benar menyihir ku! gadis penyihir, kenapa aku hanya bisa berfokus kepadanya! sialan!"
gerutu Red segera berbaring di atas ranjang luasnya, matanya melihat langit-langit kamar dan dia tenggelam dalam dirinya lagi.
"Maafkan aku Ayah Ibu, Anna ... aku malah memuji anak dari orang yang melenyapkan kalian ..." ucapnya pelan dan pilu.
Setiap kali Red sendirian seperti ini, isi kepalanya hanya lah mengenai kenangan keluarga nya yang bahagia dahulu.
Tawa adik kecilnya dan bagaimana hari-hari nya benar-benar bahagia bersama mereka.
Sekarang semuanya sudah tidak ada, hanya tinggal Red di ruangan kosong yang dingin, benar-benar menyedihkan.
Semua itu terjadi hanya karena ketamakan beberapa kelompok, menghabisi hidup yang berharga.
Winter sudah menyelesaikan makanannya, dia sudah membalut lukanya dengan perban yang bersih.
Sungguh, Winter yang lemah benar-benar mampu melakukan itu semua, bahkan bertahan di bawah derita.
Sungguh perubahan hidup yang drastis.
"Nona ... ketika Tuan tidur, harap Nona jangan menyebabkan bunyi ya ... takutnya Tuan Red terbangun dan memarahi Nona lagi," seru Pak Ronni kepada Winter yang sudah berpakaian rapih pemberian para pelayan.
Sekarang ini Winter sudah berada di depan kamar sang bos mafia, jantung Winter berdegup sangat kencang.
"Baik Pak Ronni, akan aku ingat ... terimakasih ya Pak Ronni dan kalian semua ..." seru Winter mengusap dadanya karena benar-benar tegang.
Dia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, berusaha tak mengeluarkan bunyi.
Ketika ia sudah masuk, Winter menemukan jika Red tengah duduk di atas ranjang sembari membaca sebuah buku.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Winter berdegup kencang sekali karena takut, rasanya adrenalin nya dikuras habis ketika ia melihat Red duduk dengan santai di atas ranjang, bersandar dan membaca buku.
Winter menelan salivanya dengan kasar dan mencoba berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu.
Winter sampai menjijitkan kaki nya hendak duduk menuju sofa yang ada di dekat ranjang Red.
"Apa yang kau lakukan berjalan seperti pencuri?"
Red berseru ketika ia melihat Winter menjijitkan kaki ketika melangkah, seperti pencuri memang.
"Deg!"
Jantung Winter serasa berhenti berdetak sesaat, rasanya seperti ketika kita melakukan kesalahan paling fatal dan sedang dihukum dengan sangat berat.
Begitulah perasaan Winter ketika mendengar suara Red.
Winter segera menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada Red.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin berhati-hati agar saya tidak membuat kebisingan," balas Winter dengan sangat halus dan hati-hati.
Agar Red tak akan marah oleh kata-katanya.
Author : Maaf ya guys update per bab nya kata-kata nya masih sedikit, sebagai gantinya episode nya yang di perbanyak.
Nanti akan aku perbanyak kata per bab nya jika sudah memiliki banyak waktu, mohon dimengerti ya semuanya 🥺
Untuk saat ini hanya bisa seperti ini dulu.
Terimakasih sudah mampir ke karya ku yang ini, lope you sekebon jeruk semuanya 😘🍊