Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 86 : Panggil Aku Avier.



Episode 86 : Panggil Aku Avier.


***


Entah apa yang dilakukan oleh Red bisa sampai di posisi ini akan tetapi hal itu benar-benar sangat menakutkan.


Entah apapun jawaban Winter selanjutnya akan benar-benar menentukan dan sedikit merubah jalan hidup sang bos mafia.


.


.


Winter yang mendengar pertanyaan itu merasa entah mengapa waktu seolah berhenti berdetak, dia tenggelam dalam lautan kepedihan dari tatapan sang bos mafia.


Pertanyaan yang menunjukkan seberapa rapuh jiwa dan hati lelaki mengerikan yang tenggelam dalam gelapnya hatinya.


"Tuan ... aku sudah menentukan hatiku,"


"Aku tahu ayahku bersalah dan aku harus bertanggung jawab, jadi jawaban ku adalah aku akan terus berada di sisimu sampai Tuan merasa lega di hati ..."


"Aku sadar saat ini aku tidak bisa memberikan hal banyak tetapi aku tidak akan mengubah keputusan ku jika aku tidak akan meninggalkan Tuan ..."


Winter menjawab dengan sangat tenang, dia menggenggam syal merah yang diberikan oleh ibunya.


Berharap jika keputusan nya adalah yang tepat.


Red terdiam, matanya menyelidik seolah mencari tahu apakah Winter serius dengan ucapannya.


Lalu Red tersenyum dengan senyuman yang pilu, merasa dunia ini sangatlah misterius.


Bagaimana tidak, disaat penghujung pembalasan dendam yang akan terjadi nanti, dia malah menemukan sebuah cahaya yang tulus yang entah mengapa menenangkan dirinya dan memberikan banyak perasaan aneh dalam hatinya.


"Aku tidak mengerti, sebenarnya semesta ini hendak menunjukkan apa kepadaku, semesta memberikan aku rasa lega dari seseorang yang seharusnya aku hancurkan ... tetapi aku senang dengan jawaban tulus mu,"


"Setidaknya aku bisa bersandar sejenak di tengah kepahitan yang tengah aku alami, setidaknya aku bisa lega mengetahui kau sudah bersumpah tak akan meninggalkan aku ..."


Red menjawab dengan sangat lembut, dia mengusap rambut Winter, dengan mata yang dalam dan rasa perih di hati.


"Mmmm ... jika Tuan berkenan Tuan bisa bersandar di pundak ku, walaupun aku sedikit kecil tetapi pasti nyaman bersandar di pundak seseorang ketika lelah ..."


"Kemarilah ... bersandar di sini ..." seru Winter sembari menepuk pundaknya.


"Pffft ..." Red terkekeh kecil lalu dia mendekatkan wajahnya kemudian membisik dengan sangat lembut.


"Panggil aku Avier ... nama asliku Avier, aku ingin kau memanggilku Avier secara pribadi ... tetapi ketika hanya ada kita berdua,"


Bisik Red memberitahu nama aslinya, dia ingin Winter memanggilnya dengan nama aslinya.


Jika Winter memanggilnya dengan nama asli maka Red akan merasa seperti dia sedang pulang, seolah dia telah memiliki rumah untuk tempatnya berteduh selamanya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Winter yang mendengar itu merasa jantungnya berdegup sangat kencang.


Bukan kata cinta atau bukan ungkapan rasa sayang berlebihan akan tetapi ketika Red mengungkapkan nama aslinya dari semua mama palsu yang ia gunakan untuk menyembunyikan jati dirinya dari musuh.


Winter merasa hal itu lebih berharga dari harta semahal apapun yang ada di dunia ini.


"Avier ..."


"Tuan Avier ..."


Balas Winter sembari menundukkan wajahnya karena pipinya sekarang memerah.


*Duar*


Ketika mendengar itu Red merasa asa ledakan perasaan bagaikan kembang api yang bermekaran tadi di hatinya.


Ketika Winter memanggil nama aslinya, rasanya Red terpanggil secara nyata dan dia sudah tak bisa menahan dirinya.


Ketika itu, di tengah keramaian yang sedang merayakan perayaan itu, Red menggenggam tangan Winter dan menariknya membawanya kembali ke kediaman sementara mereka.


Red sudah benar-benar diujung penantian pelepasan nya, dia akan menumpahkan perasaannya dan memberitahu Winter jika dirinya telah merasakan sesuatu dari hubungan yang awalnya berawal dari kebencian.


.


.


.


.