
Episode 118 : Dunia hanya milik berdua.
***
Avier sungguh berhasil mengembalikan ingatan mengenai tindakan super nakal yang mereka lakukan tadi malam.
'APA YANG BARU SAJA DIKATAKAN LELAKI INI!'
'AKU INGIN MENGHILANG SAJA! AAAAAAAA!'
Seperti ada bom yang meledak di kepala Winter dan Winter sudah tidak bisa menjawab ucapan dari Avier lagi.
.
.
.
"Sayang ... kenapa wajah mu merah sekali?"
"Apakah kau sakit? haruskah aku memanggil dokternya sekarang?"
"Wajah mu benar-benar terlihat seperti tomat merah ..." seru Avier panik melihat wajah Winter yang sudah semerah tomat itu.
"Avier ... ini semua karena mu, berhenti lah menggodaku, jangan membuat aku malu!"
"Banyak orang disini ..." bisik Winter menunduk dan sungguh merasa malu sekali.
Winter bahkan tidak bisa mengangkat wajahnya lagi.
"Pfft ... baiklah ... baiklah, maafkan aku,"
"Siapa suruh kau menggemaskan sekali ketika malu, ini salah mu sayang!" bisik Avier membuat Winter kesal.
Winter memukul pelan bahu Avier sebagai bentuk kekesalan yang menggemaskan.
Sungguh tingkah menggemaskan nan romantis Avier dan Winter membuat semua pelayan yang ada di ruangan itu sudah seperti patung yang tak terlihat.
Mereka melihat keromantisan itu dengan hati yang tercabik-cabik karena sepertinya keberadaan mereka sungguh tidak dianggap lagi oleh Tuan mereka.
"Aku tidak tahu sejak kapan Tuan berubah, tetapi ini adalah pertama kalinya Tuan tersenyum begitu lepas!"
"Seolah beban yang selama ini dipikul oleh Tuan sudah terlepas ..."
"Entah mengapa aku sangat senang sekali ..."
"Ketika Nona Winter datang ke mansion ini, Tuan secara perlahan mulai berubah ..."
Banyak pelayan yang berbisik-bisik dan kelihatan sangat senang dengan perubahan sikap Tuan mereka yang berubah karena adanya Winter.
Semuanya sepakat bagaimana Avier terlihat lebih cerah dan terang, seolah Avier telah melepaskan semua beban yang ada di pundaknya.
.
.
Setelah Avier dan Winter sudah selesai memakan sarapan pagi mereka ...
"Tring ... Tring ... Tring!"
Ada panggilan dari Kevin masuk ke ponsel Avier.
"Halo?"
Seru Avier tengah menunggu Winter bersiap-siap dengan pakaian tebal, karena mereka akan keluar sebentar lagi.
"Bos ... dokter yang aku rekomendasikan siang ini akan sampai di kediaman Bos ..."
"Dia membawa semua peralatan yang bisa ia bawa dan Nona Winter bisa diperiksa dengan nyaman di kediaman mu ..."
Seru Kevin memberikan laporan jika semua persiapan rekan sesama dokter yang memang ia kenal sangat handal dalam dunia bidang penyakit autoimun sudah rampung.
Bahkan jika dokter yang direkomendasikan oleh Kevin benar-benar bagus maka dokter itu akan diberikan fasilitas lengkap oleh Avier agar bisa senantiasa mengobati Winter kapanpun dibutuhkan.
Avier menghela nafasnya, dia melihat Winter yang tengah mengenakan syal merah yang ia sangat suka.
Dengan senyuman yang merekah di wajah Winter, Avier ikut tersenyum.
Walau ketika membahas mengenai pengobatan Winter jantungnya tiba-tiba sakit, Avier tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk.
Dia yakin Winter akan sembuh, dan penyakitnya bukanlah apa-apa.
"Baiklah Kevin, aku percayakan kepadamu ..." balas Avier kemudian menyudahi panggilan itu.
.
.
"Ehem ... Avier, tadi malam begitu banyak hal yang terjadi, jadi aku tidak sempat memberikan hadiah ulangtahun mu ..."
"Juga ucapan selamat ulangtahun ..."
"Ummm ..."
Winter kelihatan gugup sekali, dia berdiri di hadapan Avier yang sudah berdiri menyambut nya barusan.
"Ini adalah kado yang aku siapkan secara rahasia, aku membuatnya menjadi warna merah agar kita memiliki barang couple berdua ..."
"Kau bilang Kita sudah menjadi kekasih, jadi aku ingin kita berdua memiliki barang yang sama ..." seru Winter memberikan syal merah yang memang ia buatkan sendiri.
Di jaman sekarang, ketika pasangan menjalin kasih, kerap kali keduanya membelikan hal yang sama agar menunjukkan kepemilikan dari keduanya.
Dan Winter ingin sekali barang couple pertama mereka adalah syal yang ia buatkan.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Avier berdebar kencang sekali, pipinya memerah namun ia baru saja sadar jika ia belum mengatakan jika kemarin bukanlah hari ulangtahun nya.
Sebenarnya Sai berbohong agar bisa menyadarkan dirinya.
'Aku jadi merasa sedikit bersalah, tetapi aku tidak ingin ada kebohongan, kekasih ku yang paling manis ini harus tahu jika kemarin bukanlah hari ulangtahun ku!'
Benak Avier akan memberitahu Winter jika kemarin bukanlah hari ulangtahun nya.
Avier menerima syal yang diberikan oleh Winter dengan sikapnya yang sangat manis dan menggemaskan itu.
"Sayang ..."
"Aku suka sekali, jika aku mengenakan ini kita benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi sekali ..."
"Aku tidak akan pernah melepaskannya,"
"Kalau begitu pasangkan lah di leher ku, agar kita segera pergi ..." seru Avier menundukkan kepalanya dan menyerahkan syal itu agar dipasangkan di lehernya.
"Hummm!"
Winter menganggukkan kepalanya dan senang sekali ketika hadiah yang ia berikan sangat disenanginya oleh Avier.
Winter segera memasangkan syal itu.
Avier kemudian menggenggam tangan Winter, lalu menariknya agar memasuki jas coklat tebalnya.
"Ayo pergi sayang ..." seru Avier mengajak Winter untuk keluar sebentar.
Mereka melangkah benar-benar penuh senyuman, semua pelayan yang mereka lewati seolah tidak terlihat lagi.
Karena bagi keduanya dunia hanya milik berdua, yang lain hanya mengontrak.
.
.
Di mobil,
Avier dan Winter tengah dalam perjalanan menuju makam keluarga Avier, ke makam keluarga Goldwil.
"Sayang ... sebenarnya kemarin bukanlah ulangtahun ku, ada hal yang terjadi sehingga Sai terpaksa membohongi mu ..."
Avier tiba-tiba saja memberikan fakta jika memang kemarin bukanlah hari ulangtahun nya.
"DEG!"
Mata Winter melebar dan senyuman merekah ketika melihat salju berwarna putih yang mereka lalui langsung hilang karena syok.
Winter langsung menundukkan kepalanya.
"Aku tidak tahu apa masalah nya, tidak sepantasnya aku marah dan kesal juga sekarang, hanya saja aku benar-benar dibuat percaya jika ulangtahun mu adalah kemarin ..."
"Haaaah!"
Winter menghela nafasnya panjang.
Dia kesal namun di satu sisi, Winter juga sadar jika ada beberapa hal yang pasti tidak bisa diberitahukan oleh Avier untuk saat ini.
Karena itulah saat pulang kemarin, Avier menangis dan memeluknya.
Jadi Winter mencoba mengerti keadaan Avier, dan juga mengerti mengapa Sai harus berbohong kepadanya.
"Srek!"
Avier segera menarik tangan Winter dan memeluknya erat sekali.
"Kau tahu, kebohongan itu menyelematkan hidupku, Sai melakukan itu agar aku bisa tetap hidup ..."
"Aku mungkin sudah mengatakannya tadi malam, tetapi ucapan mu di rekaman itu memberikan aku kekuatan dan harapan untuk tetap hidup ..."
Seru Avier membuat Winter melebarkan matanya.
Winter sangat tidak suka mendengar bagaimana Avier selalu membahas mengenai jika Avier tidak memiliki keinginan untuk hidup di masa lalu.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan komentar membangunnya.