Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 39 : Salju itu putih tetapi akan segera hilang.



Episode 39 : Salju itu putih tetapi akan segera hilang.


***


Mendengar kata Multiple sclerosis, Mata Red segera melebar, dia langsung menggerakkan jemarinya mengetik di keyboard komputer kerjanya.


Dia mencari informasi mengenai Multiple sclerosis yang memang adalah penyakit yang disebabkan autoimun dan memang belum dapat temukan obat untuk penyakit itu.


Entah mengapa nafas Red menjadi berat, dia jadi ingat bagaimana Winter begitu menderita ketika tangannya terluka, ketika kepalanya sering pusing dan mudah pingsan.


Semuanya ternyata berkaitan dengan penyakit yang ia derita.


Lalu ia juga mengingat bagaimana Winter baru saja mengatakan jika hidupnya sendiri juga adalah luka bagi orang-orang terdekatnya.


"Kau sudah boleh pergi, misi kita harus dilakukan dengan cepat!" seru Red memejamkan matanya sejenak.


Dia mengurut pelipis nya karena merasa pusing dan dadanya menjadi sesak.


"Baik Bos," balas Sai tidak lagi bertanya banyak hal.


Sai sendiri juga bingung mengapa Bosnya tiba-tiba penasaran dengan gadis itu, tetapi jika gadis itu tidak akan mengganggu rencana mereka maka Sai tidak akan masalah dengan hal itu.


Ketika Sai sudah berada di luar ruangan ....


Red segera mencari lebih dalam mengenai penyakit itu, bagaimana penyakit itu bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan dan kehilangan penglihatan.


"Apakah dia sudah melakukan suntik interferon beta ini?"


"Apakah dia sudah mengonsumsi obat fingolimod ini?"


Red berbicara pada dirinya sendiri, nama-nama suntik dan nama obat itu ia dapatkan dari hasil pencariannya mencegah kekambuhan penyakit Winter.


"Ahhhh! aku bisa gila! kepalaku hampir pecah, dan jantung ku rasanya sakit!"


Red mengusap kasar rambutnya, dia tidak bisa berpikir dengan jernih.


Setelah beberapa saat bersama Winter nampaknya Winter menjadi salah satu fokus utamanya, dan hal itu membingungkan Red tentunya.


Dengan hati yang kacau dan kemarahan yang tak jelas dia memukul meja nya lalu pergi menuju mobil untuk pulang bersama Winter.


"Brak!"


"Sialan! sialan! sialan!"


Geram nya menepuk dadanya yang terasa semakin sakit.


.


.


.


Di mobil Red,


Winter sudah kelelahan sekali, dia bersandar di kursi mobil dengan tangan yang masih bergetar hebat.


Pandangannya sedikit kabur dan kepala nya pusing sekali, tetapi hal ini sudah sering terjadi membuat Winter tidak panik dan hanya diam saja.


Menarik nafas dan membuang nafas, mengatur pernafasannya agar saraf nya sedikit tenang dan tidak menegang.


"Winter ... ya, nama ku sangat cantik ..."


"Salju itu putih tetapi akan segera hilang ketika musim panas tiba ..."


"Tetapi setidaknya Winter memiliki tujuan hidup bukan? ini jauh lebih baik dari apapun, jika aku bisa meredakan amarah lelaki yang juga kesakitan itu maka aku akan dengan senang hati melakukannya."


Winter menekankan dirinya, dia mengusap kedua tangannya, mencoba meredakan getaran disana.


Tanpa sadar seseorang memasuki mobil, Winter melihat ke arah orang itu namun pandangannya masih berbayang.


Akan tetapi dari bau nya, Winter sudah tahu jika lelaki itu adalah Red.


Red diam saja di sana, tak mengatakan apapun sedangkan Winter duduk tegap dan menunduk kan kepalanya.


Red sebenarnya menatap Winter sejak tadi, semakin diperhatikan semakin sakit hatinya.


Apalagi tangan Winter yang tidak berhenti bergetar sejak tadi.


'Ternyata benar, gejala penyakit itu berdasarkan pencairan ku juga menyatakan jika penyakit itu akan menyebabkan tremor atau gemetaran!'


Dia meraih tangan Winter dan menariknya dengan cepat ke sisinya.


Lalu dengan menekan Red meraih wajah Winter agar kepalanya disandarkan di bahunya.


Mata Winter melebar, dia belum bisa melihat dengan jernih, semuanya masih berbayang tetapi dia tahu jika Red menariknya lalu membuat nya bersandar.


'Ada apa ini? apakah ini model penyiksaan terbaru?'


'Kenapa dia membuat ku bersandar dan menggenggam tangan ku?'


'Ah, mungkin karena aku sudah menjadi wanita pemuas nya dan dia ingin melakukan hal itu kepada ku, iya ... pasti itu!'


Winter awalnya syok tetapi dia segera menyimpulkan alasannya sendiri.


Karena menurut Winter, tidak mungkin sang bos mafia mengasihani dirinya, karena Red pada dasarnya sangat amat membenci Winter.


"Aku melakukan ini karena aku butuh kehangatan, aku merasa dingin jadi jangan berpikiran hal yang aneh-aneh!" ketus Red sembari mencengkeram tangan Winter yang tidak bisa diam dan terus bergetar.


Seolah mencoba menahan getaran yang terjadi di tangannya.


"Ya Tuan, aku mengerti ..." balas Winter tersenyum lembut.


Karena jawaban Red mengkonfirmasi dugaan Winter mengenai tindakan yang tiba-tiba ini.


"Bagaimana dengan tubuh mu? apakah kau masih merasa sakit?"


Tanya Red kemudian tetapi mengusap tangan Winter yang gemetaran.


Mata Winter melebar lagi, dahinya mengentikan karena belum bisa melihat dengan jelas.


Winter sangat penasaran mengapa Red tiba-tiba menanyakan mengenai keadaan tubuhnya.


"Jangan salah sangka, aku menanyakan itu karena kau akan menjadi teman tidurku, aku tidak ingin membuat mu pingsan!"


Gerutu Red sama sekali tidak pandai mencari alasan dan jawaban yang normal.


Mungkin karena ini adalah pertama kali baginya membuatnya Red beranggapan jika semua ucapan nya adalah ucapan biasa, bukan sesuatu yang menyakitkan.


Mendengar itu Winter terdiam sejenak namun ia tersenyum lagi, dengan nafas yang berat dan sedikit getaran di nadanya dia menjawab Red.


"Aku baik-baik saja Tuan, lakukan saja apa yang ingin Tuan lakukan, seperti yang aku katakan aku sudah cukup senang jika hidupku ini masih berguna untuk seseorang."


Jawaban yang sama lagi, jawaban yang menunjukkan keputus-asaan lagi.


Red sampai mencengkeram bahu Winter karena merasakan gejolak emosi dalam dirinya.


"Hei kau! berhenti mengatakan itu! tidakkah kau ingin bertemu Ayah mu?"


"Tidakkah kau memiliki hal untuk dilakukan di dunia ini? berhenti mengatakan hal-hal menyedihkan seperti itu! aku tidak suka!"


"Apa kau mengerti?"


Red menjadi sangat posesif, dia tidak suka dengan ucapan Winter tetapi disaat yang sama dia juga mengancam nya.


Winter kembali kebingungan, hari ini baginya merupakan hari yang sangat aneh dan bagaikan naik rollercoaster, Red menunjukkan perubahan sikap yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Membuat Winter bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


'Apakah dia baik padaku karena aku akan segera dilenyapkan?'


'Katanya tahanan di penjara akan diberikan makanan enak dan diperlakukan dengan baik sebelum eksekusi mati, aku kan juga tawanan lelaki ini, apakah itu alasan dibalik sikap baik nya?'


Berbeda dengan apa yang hendak Red sampaikan, Winter malah merasa jika hidupnya tidak akan lama lagi karena akan dieksekusi oleh Red.


.


.


.


.


Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺


Btw Jangan lupa berikan like, komen dan jika berkenan gift ya hehe..