
Episode 93 : Sejak kapan Bos berubah?
***
Winter menganggukkan kepalanya ketika Red mengajaknya pulang, Winter sangat malu hendak mengakui jika sekarang dia sulit berjalan dan kakinya ngilu akibat kejadian tadi malam.
Red hendak menarik tangan Winter yang ia genggam begitu erat namun rasanya ia entah mengapa merasa Winter melangkah menyeret dan terasa sangat lambat.
Dengan wajah yang penasaran campur khawatir, Red menoleh ke belakang dan Winter yang terperanjat itu segera melepaskan salah satu tangannya yang tadi memegangi sisi pahanya karena merasa perih.
"Ada apa? kenapa wajah mu kelihatan kesakitan?" tanya Red terlihat begitu perhatian.
'Astaga ... sudah ku duga dia akan menyadari nya, bagaimana ini? aku sangat malu mengakui nya akan tetapi aku tidak bisa memaksakan berjalan jika rasanya sepegal ini!'
Benak Winter merasa sangat malu, dia menundukkan kepalanya lalu dengan sangat pelan dan sedikit terbata-bata dia mengakuinya kepada Red.
"Tu ... Tuan Avier, kakiku maksud ku, diantara kakiku rasanya sangat perih dan aku sebenarnya sulit berjalan ... karena ..."
"Ummm ... karena itu,"
Winter merasa terlalu berat dan gagap mengakuinya.
Red yang segera menyadari apa yang tengah terjadi langsung terperanjat.
Pipinya segera memerah dan jantungnya berdegup sangat kencang.
"Deg ... Deg ... Deg!"
"Ehem!"
"Jangan menggodaku seperti itu, aku benar-benar akan menghabisi mu lagi jika bersikap sangat menggemaskan!"
"Dan lagian jika kau merasa sakit seharusnya kau katakan kepadaku, jangan menahannya sendiri!"
"Mulai ke depannya kau harus seperti itu! mengerti?"
seru Red dengan nafasnya yang berat karena entah mengapa darahnya mendidih ketika menyadari betapa Winter sangat menggemaskan dan lucu mengatakan hal barusan.
Ketika itu Red segera menggendong Winter di tangannya membuat Winter terkejut dan membisu.
"Tu ... Tuan, aku ..." belum sempat Winter menyelesaikan ucapannya ...
Sembari berjalan Red menggenggam pinggang Winter lalu membisik ...
"Jangan membantah, kau hanya perlu menganggukkan wajahnya mu, jangan menggodaku di sini karena banyak anak buahku!"
"Mengerti sayang?"
Bisik Red sudah melangkahkan kaki dan pintu segera di buka oleh para anggotanya.
Winter yang mendengar segera bersembunyi dalam dada Red dan menganggukkan kepalanya.
Dia terlalu malu untuk melihat para anak buah Red ketika ia digendong begitu lembut dan mesra.
Dan seperti dugaannya Winter, mata para anak buah Red ketika melihat Red menggendong Winter sudah melebar dan mereka membisu serempak.
"Sudah ku duga, Bos sudah benar-benar berubah! kengerian di matanya seolah hilang ketika bersama gadis itu!"
"Apakah Bos sudah benar-benar jatuh cinta?"
"Hal yang paling mengejutkan adalah ternyata cinta juga bisa merobohkan es dalam hati Bos ... ini terlalu mengejutkan!"
Para anak buahnya yang tertinggal di desa saling membisik dan saling bertanya apakah Bos mereka telah benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu.
***
Sesampainya di mobil, Winter yang sudah malu teramat sangat menundukkan wajahnya.
Red tak mampu mengalihkan pandangannya dari wanita yang sangat menggemaskan itu.
Red terlihat terlalu kentara ketika menatap Winter dengan intens.
Jika melihat sikap Red ini, bahkan anak kecil pun akan tahu jika Red tengah jatuh hati kepada Winter.
Bagaimana pun, ini adalah kali pertama untuk Red jadi dia benar-benar menunjukkan segalanya secara gamblang.
"Sayang ... bersandar lah di pundak ku, kita akan melakukan perjalanan panjang, maafkan aku tidak sadar jika kakimu sakit karena tadi malam ..."
"Lain kali akan aku pastikan melakukan itu dengan sangat lembut ..."
Bisik Red tersenyum sangat nakal.
Membuat wajah Winter semakin memerah dan tak bisa lagi berkata apa-apa karena dia sudah sangat ingin bersembunyi sekarang.
'AAAAAA! Aku malu sekali, sejak kapan aku bisa merasakan rasa malu yang teramat sangat ini!'
'Rasanya aku ingin bersembunyi saja!'
'Tapi tidak apa, yang penting Tuan Avier senang, setidaknya aku bisa menorehkan senyuman di wajahnya!'
'Walaupun itu senyuman yang sangat nakal dan mencurigakan!'
Benak Winter mengobarkan semangat dalam dirinya lagi demi memberikan sedikit rasa tenang dan bahagia untuk lelaki yang telah menderita seumur hidupnya ini.
Sedangkan anak buah Red yang menyetir di depan tak mengerti apa yang terjadi, hanya saja dia melihat Bos nya tersenyum sangat nakal dan Winter menundukkan wajahnya bersandar di pundak Bosnya dengan wajahnya yang sangat mereka.
'Sejak kapan Bos ku bisa tersenyum begitu lepas? apakah ada hal yang luar biasa terjadi di antara mereka?'
'Ini sungguh belum pernah terjadi sebelumnya!' benak anak buah Red, namun ia tetap melakukan tugas nya menyetir dengan baik.
.
.
.
.