Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 114 : Malam indah Avier dan Winter.



Episode 114 : Malam indah Avier dan Winter.


***


Bahkan bisa dibilang dalam hal percintaan, Winter jauh lebih berpengalaman, karena semua ini baru pertama dirasakan oleh Avier.


Jadi Avier memang terlihat sangat berhati-hati, dan akibat ke hati-hatiannya, kata-kata lamaran yang seharusnya ia katakan malah dicuri oleh Winter.


"MULAI HARI INI AKU TIDAK AKAN LENGAH!" Seru Avier dalam dirinya.


.


.


Winter yang merasa dirinya telah ditolak terdiam menatap langit-langit.


Ya, Winter mengatakan hendak menikah karena dia tahu dia tidak akan pergi dari Avier, lalu dia juga tidak ingin merasakan perasaan sesak dan bersalah ketika melakukan hubungan intim dengan Avier.


Winter ingin memiliki ikatan bersama lelaki ini.


"Sayang ..."


Avier berbicara dari balik selimut, sungguh malam ini Winter telah memporak-porandakan hatinya.


Bahkan secara tiba-tiba melamarnya.


"Hmm?" jawab Winter dengan lemas, bukan saja karena tenaga nya habis sebab telah melakukan beberapa ronde olahraga panas bersama Avier.


Namun Winter juga merasa telah ditolak mentah-mentah.


"Kau mencuri ucapan ku, kau mencuri rencana ku, harusnya aku yang seharusnya mengatakan itu!"


"Dan aku sudah merencanakan nya dengan sangat sistematis dan romantis, aku bahkan hendak membeli buku cara melamar agar kekasih yang dilamar terharu dan tak akan melupakannya seumur hidup!"


"Tapi kau tega mencuri nya dariku!"


"Kau harus bertanggung jawab!"


Avier benar-benar serius dengan ucapannya, dia segera keluar dari selimut dan duduk.


Matanya yang tajam, dagunya yang naik dan ekspresi kesal nya yang lucu.


Winter mengedipkan matanya berkali-kali, dia belum mengerti dan masih memproses dengan ucapan Avier yang baru diucapkan dengan lantang.


"Ummm ... jadi kamu kesal karena aku yang mengatakannya lebih dulu, jadi bukan karena kamu menolak aku?"


Winter memperjelas ucapan Avier, sebenarnya apa yang hendak disampaikan oleh lelaki yang pipinya sudah memerah ini.


"HMMMM!"


Avier menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.


"Kau harus bertanggung jawab, karena telah menghancurkan rencana ku!" seru Avier sekarang sudah turun dari ranjang.


Hal itu membuat Winter panik dan wajahnya benar-benar khawatir.


Merasa dirinya ternyata terlalu gegabah dan malah mencuri start dari Avier.


"Ba ... bagaimana caraku bertanggung jawab untuk itu? aku benar-benar tidak sengaja, aku hanya ingin melakukan ... ummm.. ma ... maksud ku ..."


Winter hendak membahas mengenai melakukan hubungan intim terhadap Avier namun dia masih terlalu malu.


"Intinya aku hanya ingin melakukan ITU tanpa merasa berdosa makanya aku menyarankan pernikahan, aku tekan tahu kamu akan kesal karena nya ..."


"Maafkan aku ..."


Seru Winter benar-benar dengan kepolosan dan niatnya yang memang baik.


Wajahnya terlihat memerah dan memelas, layaknya kucing kecil yang ingin disayang.


Begitulah Avier melihat Winter sekarang.


"Hehe ... tentu saja ada caranya, jika kau ingin aku memaafkan mu, maka bertanggung jawablah dengan cara ..."


"Kita harus mandi bersama!"


"HA HA HA!"


Avier tertawa bangga, dia langsung menyingkap selimut yang sejak tadi melindungi tubuh Winter dan tanpa aba-aba segera menggendongnya di tangannya.


"Ah!"


Winter berteriak kecil dan dia menutup matanya karena terlalu malu.


"Ini sangat memalukan ..." teriak Winter namun teriakannya teriakan yang kecil dan bagi Avier tetap terdengar seperti kucing kecil yang sangat imut.


"Ho ho ho, sayang ... aku sudah melihat semua nya, memangnya bagaian mana lagi yang tidak pernah aku lihat? tidak usah malu ..." bisik Avier malah membuat Winter semakin malu.


*Boom!*


Seperti ada kembang api yang meledak di kepala Winter, wajahnya merah sekali dan dia sungguh tidak bisa membalas ucapan Avier.


'Ini sungguh memalukan! aku tidak tahu lagi!'


'Aku benar-benar tidak menyadari jika lelaki ini sangat nakal dan ucapannya benar-benar bisa membuat rasa malu ku berada di puncak!'


'Ah, apa yang harus aku lakukan? aku malu sekali!'


'Aku ingat bersembunyi saja!'


Winter berteriak dalam dirinya sendiri, dia merasa terlalu malu.


"Sayang ... tidak usah takut, aku tidak akan melakukannya lagi kecuali kau menggodaku!"


"Aku perhatikan tubuhmu sangat lemah, jadi aku tidak ingin kekasih ku terluka ..." seru Avier meletakkan Winter di bathtub yang sudah dipenuhi busa dan air hangat.


Sepertinya para pelayan sudah menyiapkan air hangat jauh sebelum Avier pulang.


"Ah ... hangat sekali," seru Winter memejamkan matanya menikmati kehangatan dari air yang menyentuh kulitnya.


"Janji ya tidak akan melakukan itu ..." balas Winter mencoba menyadarkan dirinya.


"Janji sayang ..." balas Avier masuk ke dalam bathtub juga.


Dia menggendong Winter seolah tubuh Winter sangat ringan.


Avier segera membuat Winter duduk di hadapannya, sehingga Avier bisa bersandar dari belakang.


"Ah, kenapa suka sekali tiba-tiba menggendong aku? aku benar-benar terkejut ..." gerutu Winter merasa Avier ini sangat suka tiba-tiba menggendong dirinya.


Bukan karena Winter membenci hal itu, hanya saja kadang Winter merasa terkejut sekali.


"Hehe ... aku suka menggendong wanita ku, apakah ada yang salah dengan Itu?"


"Oh ya, kenapa malam ini kau cerewet sekali? ingat ya ... ini adalah hukuman mu yang telah mencuri rencana ku hendak melamar mu!" gerutu Avier memeluk Winter dari belakang dan mengecup tengkuk nya.


"Ge ... geli," balas Winter mencoba maju karena tidak tahan dengan rasa geli nya.


"Hehe ... mau lari kemana sayang?"


Bisik Avier menarik Winter dengan cepat dan mendekapnya lebih erat.


"Aku kan sudah bilang tidak akan melakukannya, malah jika kau seperti ini aku akan sulit mengendalikan diriku, jangan menggodaku dan diam saja di pelukan ku, mengerti?"


Bisik Avier benar-benar terlihat nakal sekali malam ini.


Avier terlihat sudah tidak menahan dirinya lagi, mungkin karena Avier telah tahu tujuan pastinya bersama Winter.


Avier tahu jika dia hanya akan bersama dengan wanitanya ini selamanya, jadi dia tidak akan menahan dirinya lagi.


Mendengar itu Winter terdiam membisu, dia lalu mengatur pernafasannya agar tidak terlalu gugup.


Namun lama kelamaan sepertinya dia menjadi nyaman, sekarang yang bersandar bukan Avier melainkan Winter bersandar di dada Avier


.


.


"Sayang ..."


Avier memanggil Winter lagi, sembari memainkan helaian rambut Winter yang basah itu.


"Hmm? ada apa?" tanya Winter dengan pelan dan sepertinya sedikit mengantuk karena air hangat dan suasana tenang itu.


"Untuk masalah lamaran tadi, aku benar-benar ingin melakukannya, tapi masih ada beberapa masalah, mungkin sekitar satu minggu lagi ..."


"Tunggu saja ya, jangan takut ... karena aku tidak akan meninggalkan mu, sebelum itu aku juga ingin membawa mu ke suatu tempat ..." seru Avier dengan lembut sekali.


.


.


.


Author : Jangan lupa berikan like dan komentar membangunnya, maaf ya jika masih banyak kekurangan, apalagi typo dimana-mana, jika ada typo komen saja ya biar aku perbaiki.