Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 72 : Akan ada pelangi yang menghampiri badai mu.



Episode 72 : Akan ada pelangi yang menghampiri badai mu.


***


Winter yang melihat senjata api itu terdiam, dia seolah akrab dengan senjata api kecil itu.


Dia melihatnya ketika di pesta pernikahan nya, dan kali ini dia melihatnya lagi namun kali ini berbeda, senjata api itu akan ia gunakan sendiri.


Air matanya tadi telah membasahi pipinya, Winter dengan sukarela mengambil senjata api itu.


Tak ada rasa takut sama sekali dalam dirinya, yang ia pikirkan hanya mungkin ini sudah menjadi takdir hidupnya.


'Mungkin ini sudah menjadi takdir hidup ku, rasanya aku sama sekali tidak takut ...'


'Melainkan aku merasakan sedih yang teramat sangat, melihat lelaki yang berada di hadapan ku ini menderita begitu dalam, bahkan ia tak bisa mati karena kebencian nya yang belum terbalas kan ...'


'Jika semesta mendengarkan permohonan ku ini, aku mohon ... aku sangat memohon untuk perdamaian hatinya, dia hanyalah lelaki biasa pada umumnya yang hatinya telah terkoyak ... selamat kan hatinya ... aku mohon ...'


Winter sudah menggenggam senjata api itu, dia melihatnya sesaat sembari berdoa kepada Yang Kuasa agar hati lelaki yang menderita ini bisa segera sembuh dan berdamai.


Winter menggenggam senjata api itu lalu ia mengarahkan nya ke kepalanya.


Red yang melihat itu merasakan gejolak yang lebih hebat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, gejolak rasa sakit yang tak ia kenali.


Perasaan baru yang tak pernah ia rasakan sebelumnya mengambil alih dirinya.


Matanya melebar dan tangannya mencengkeram kuat ketika melihat Winter dengan pasrah mengambil senjata api yang ia sodorkan, tak ada pembelaan diri sama sekali dan rela mengakhirinya hidupnya begitu saja.


"Sialan!"


Teriaknya mencengkeram tangan Winter dan meraih senjata itu, dia melemparkan nya begitu jauh dan dia berteriak.


"Aku benci fakta jika aku masih merasakan sakit, aku benci fakta jika aku ternyata tidak bisa berbuat banyak terhadap mu,"


"Sebenarnya apa yang kau miliki? kau siapa sampai bisa membuat ku seperti ini?"


Red benar-benar tengah berada di luar kendali nya, dia tidak bisa melihat Winter menggenggam senjata itu, tidak bisa melihat Winter melukai dirinya.


Seperti ledakan yang tak terbendung, rasanya Red tak lagi mengerti apa yang sedang terbakar dalam dirinya saat ini.


Segala sesuatu yang dikatakan oleh Red menusuk Winter dengan cara yang sangat menyakitkan.


Merasakan sakit karena Winter sadar bagaimana hati lelaki ini memiliki sisi yang sangat rapuh dan hancur, tak bisa disembuhkan oleh apapun.


Winter tak lagi memikirkan dirinya sendiri, yang ia memenuhi dirinya sekarang hanyalah bagaimana cara menyembuhkan hati lelaki yang menutupi dirinya dengan kekejaman.


Winter melihat tangan Red yang bergetar hebat, tak kuasa tangan Winter menggenggam nya lagi.


Dia menggenggam erat tangan yang tadi menghempaskan tangannya, dan tangan yang tadi memberikan senjata api kepadanya.


Winter mengusap tangan itu, dia tidak ingin melihat tangan itu bergetar karena ledakan trauma yang memenuhi Red.


Dengan tangan mungil yang dingin, dia mengusap tangan Red.


Dia menangis untuk Red, menangis untuk kesakitan yang selama ini dihadapi oleh Red setiap harinya.


"Maka Tuan bisa membenci ku seumur hidupku, benci saja aku sebanyak yang Tuan mau, tumpahkan semua yang mengganjal di hatimu kepada ku,"


"Aku akan selalu berada di sisimu, menerima semuanya sampai Tuan merasa puas ... aku sangat berharap suatu hari nanti akan ada pelangi yang menghampiri badai mu ..."


"Semesta mungkin mempertemukan kita agar aku bisa memberikan Tuan sedikit kelegaan ..."


Red terpaku dengan semua ucapan lemah lembut, tulus dan apa adanya dari Winter.


Seperti air yang tenang, Winter sama sekali tidak membela dirinya, tidak mempertahankan dirinya, tetapi dia menerima semua kemarahan dan dendam Red.


Menerima semuanya seolah Winter bisa merasakan rasa sakit dari Red.


Gadis muda yang sepertinya memang dipersiapkan oleh semesta untuk Red, untuk mendamaikan amarah yang tak pernah padam di hatinya yang telah terkoyak.


.


.


.


.