Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 24 : Mengapa Red datang ke sini?



Episode 24 : Mengapa Red datang ke sini?


***


“Menjemur pakaian? Sudah mau malam begini? Bagaimana jika hujan! Dasar bodoh … tidak bisa di andalkan!”


Seolah mencari alasan yang lain untuk marah, Red meninggalkan Ronni di tempat itu dan melanjutkan langkahnya menuju belakang mansion.


“Tak … Tak … Tak!”


Langlah kakinya menggema di segala ruangan, dia pergi bergegas ke belakang mansion untuk segera memarahi Winter lagi.


..


Di belakang mansion,


Winter sedang menjemur kain putih yang begitu banyak, dia sudah kelelahan sekali, perban luka nya juga sudah rusak karena air yang merembes ke seluruh tubuhnya.


Bagaimana pun tubuh Winter masih terbilang mungil dibandingkan kain kain yang cuci, sehingga mustahil menghindari diri terkena air.


"Aku harus bisa!"


"Aku harus kuat, bukan saatnya untuk menjadi lemah, jika kau lemah Ayah bisa dibunuh kapan saja!"


Winter menyemangati dirinya, tubuhnya yang memang lemah dan mudah sakit ia paksakan bekerja begitu keras.


Satu-satunya yang membuat Winter bisa bertahan hanyalah kekuatan tekad dan ingin mencari tahu kebenaran sesungguhnya dari kejahatan ayahnya.


Bagaimanapun selama hidup, Winter selalu berkecukupan dan hidupnya tak pernah susah.


Ayahnya sukses dengan perusahaan Benson, walah Winter lemah dan mudah sakit, segalanya bisa ia dapatkan hanya dengan menunjuk jari.


Tetapi sekarang, dunia seolah terbalik baginya.


Dia mengenakan pakaian pelayan, terluka dan sakit, ditambah lagi melakukan pekerjaan kasar yang begitu berat.


.


.


Karena langkah kaki Red begitu lebar karena kaki jenjangnya, dia segera sampai di belakang mansion.


Tepatnya di lapangan rumput hijau luas dimana matahari sudah mengintip hendak tenggelam.


Red akhirnya melihat Winter, gadis yang ia cari-cari sejak ia menyelesaikan pekerjaannya, dan kali ini ketika melihat Winter, dada Red kesakitan lagi, ada rasa perih yang tak bisa ia jelaskan terasa disana.


Dia bahkan sampai meremas baju yang ia kenakan karena rasa sakitnya begtu menyelekit.


Beberapa meter di hadapannya, ketika matahari senja keemasan itu terlihat begitu indah, seorang gadis berwajah pucat dengan bekas infus dan balutan luka tengah menjemur kain-kain putih yang begitu besar.


Wajahnya benar-benar menyedihkan, rambutnya hanya diikat begitu saja, dan tangannya yang bergetar hebat itu tak bisa dia sembunyikan.


.


.


“Apa lagi ini? ada apa denganku? Sialan! Dia pantas mendapatkan ini! seharusnya dia sudah mati sejak kemarin!” geram Red tetap mengabaikan perasaannya.


Dia melangkah mendekat ke arah Winter yang sangat serius dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang.


“Srak … Srak!”


Terdengar suara langkah kaki memecah rumput hijau yang terbentang luas di belakang mansion Red


Winter terperanjat dan rasa takut itu memenuhi dirinya lagi, secara spontan dia menunduk dan ketakutan dengan sangat hebat.


Dia mencengkeram kuat kain putih yang sudah ia gantungkan dan dia bersembunyi di belakang kain itu.


Seolah tahu siapa yang sudah ada di hadapannya, dari bayangannya yang menembus kain putih saja sudah membuat Winter merasa ketakutan yang teramat sangat.


Nafas Winter menjadi berat dan kasar, tangannya bergetar hebat sampai membuat kain yang masih dia cengkeram ikut bergoyang.


'Kenapa dia bisa kesini? ada apa ini?'


'Apa aku akan disiksa?'


'Aku takut sekali sampai tak bisa bergerak?'


'Bagaimana ini?'


Winter memikirkan banyak hal mengerikan di kepalanya, dia merasa Red akan memukul atau menyiksanya.


Padahal sebenernya Red sama sekali tidak pernah memukul Winter, tetapi imajinasi Winter lah yang merajalela karena ketakutan yang menggerogoti begitu kuat.


Red yang menyadari kelinci lemah yang ketakutan itu segera menyeringai.


“Heh, ketakutan seperti kelinci tetapi masih berani bersembunyi! Kau kira kau sedang bertamasya!” geram Red menyingkirkan kain putih yang menghalangi pandangannya terhadap Winter.


.


.


.


.