
Episode 125 : Menghabiskan waktu dengan Ayah.
***
"Bos ... kau tahu, aku sangat bangga kepada mu, aku bersumpah akan terus membantu mu Bos, aku akan melakukan sesuai dengan yang Bos inginkan!" balas Sai terharu sekali.
Dia merasa Avier sangatlah hebat mengatasi semua ini.
Mendengar ucapan dari Sai, ada rasa haru yang begitu besar di dada Avier.
"Sai, aku juga bangga kepadamu, setelah semua ini selesai, aku ingin kau menjalani kehidupan yang kau inginkan! aku tidak ingin merenggut kebahagiaan mu karena tujuanku sendiri!"
Seru Avier sembari melihat salju putih di hadapannya.
Maksud Avier adalah agar Sai bisa mencari masa depannya sendiri, dan tidak terikat dengannya karena paksaan.
"Bos, berada di sisimu adalah sebuah anugerah, aku sudah pernah mengatakannya sejak kita kecil, jika aku akan terus menjadi sayap mu di belakang mu!"
"Bos menyelematkan aku berkali-kali dari para bangsawan yang ingin memperbudak aku dahulu, aku benar-benar telah menganggap Bos sebagai keluarga ku, jadi berada di sisimu, membantu mu adalah pilihan ku sendiri Bos!"
Balas Sai benar-benar berterus terang.
Sai sama sekali tidak terpaksa berada di sisi Avier.
Sai memang memilihkan membantu Avier dan menjadi kaki tangan untuk Avier, dan hal itu tak akan pernah berubah.
Avier melihat ke arah langit sekarang, lalu dia melihat hembusan nafasnya karena udara dingin.
"Sai ... aku tahu kau memang ingin membantuku, tetapi kau juga harus mencari jodoh!"
"Kau mau menjomblo seimut hidup? aku saja sudah mau menikah!"
"Sudah dulu ya, aku mau menemui calon istriku dulu!"
Seru Avier sungguh membuat Sai syok sejak.
"Apa? calon istri? aku?"
"Oh iya? aku benar-benar belum memikirkan nya sebelumnya!" seru Sai tertampar oleh keadaan.
Bagaimana Bos nya telah menyadarkan dirinya jika dia adalah jomblo sejati.
Kevin yang memang membantu Sai dalam semua kekacauan setelah misi segera berdiri di sisi Sai dan menepuk bahunya.
"Sai ... aku tahu perasaan mu, Bos memang sudah berubah Sai, dia jatuh cinta Sekarang sedangkan kita tidak!"
"Sepertinya kita harus mencari pasangan juga!"
Seru Kevin menganggukkan kepalanya melihat pemandangan luas dari gedung tinggi perusahaan Avier.
Mendengar itu Sai mengangkat dagunya dan menganggukkan kepalanya juga.
"Ya! seperti kata Bos, aku tidak ingin kesepian seumur hidup!" balas Sai menyetujui.
Kedua lelaki dewasa yang menyadari betapa kesepiannya hidup mereka, tengah berdiri melihat pemandangan kota.
Dan ketika melihat kota itu rasa sepi dalam diri mereka semakin membesar.
.
.
Di saat yang sama ...
Winter sudah selesai melakukan pemeriksaan hariannya bersama dokter Florence, daya tahan tubuh Winter entah mengapa semakin kuat.
Dan dokter Florence belum bisa memastikan penyebab daya tahan tubuh Winter yang semakin hari semakin kuat.
Di ruangan pribadi Avier ...
Avier melipat tangan dan bersandar di dinding melihat Winter mempersiapkan dirinya untuk jalan-jalan bersama Ayahnya.
"Sayang ... anggota ku akan mengikuti kalian dari segala arah, kau tahu itu kan?"
Seru Avier dengan mata yang menajam, seolah tak ingin kekasihnya pergi tanpa dirinya.
"Iya aku tahu dan aku mengerti, semua juga demi keselamatan, jadi tidak apa-apa ..." balas Winter tersenyum dan sudah selesai mempersiapkan dirinya.
"Sayang, cepat pulang ya, jangan terlalu lelah! jika ada apa-apa langsung hubungi aku dan aku akan segera datang!"
"Jika kau telah pulang lima menit aku akan menghukum mu di ranjang selama 10 jam!"
Avier menarik tangan Winter dan menggenggam nya erat.
Winter yang sadar jika sepertinya Avier begitu khawatir terhadap nya segera berdiri di hadapan kekasihnya ini.
"Aku tidak akan bisa melarang Ayah pergi karena itu adalah keputusannya, jangan khawatir karena aku akan segera pulang ..."
"Aku baik-baik saja, dan aku berjanji tidak akan terluka!"
"Jangan terlalu mencemaskan aku ya, aku tidak suka melihat mu khawatir berlebihan seperti ini, hal itu membuat aku tidak tenang ..." ucapan Winter begitu lembut.
Dia menatap Avier dalam-dalam.
Winter tidak ingin Avier merasa berat hati dan nanti akan melukai dirinya sendiri.
"Tidak! aku tidak bisa tidak mengkhawatirkan mu! pokoknya kau harus pulang cepat! jika kau terluka aku akan menghabisi mu!"
Seru Avier memeluk Winter erat sekali.
Avier sebenarnya tidak ingin Winter menghabiskan hari bersama Ayahnya, akan tetapi Avier juga sadar jika mungkin ini akan menjadi hari terakhir Winter dan Ayahnya bertemu sebelum Wilson Benson pergi jauh dan menebus kesalahannya dengan caranya sendiri.
"Haaah!"
Winter menghela nafasnya dalam-dalam, dia benar-benar tidak bisa membuat Avier tidak terlalu memikirkannya.
"Baiklah ... baiklah, aku pergi dulu ya ... aku pasti pulang dengan cepat!" seru Winter tersenyum dan pergi dari hadapan Avier.
.
.
Di depan mansion,
Wilson Benson, Ayah Winter sudah berpakaian rapih, dia menjemput putrinya yang sangat ia rindukan itu.
Lalu ketika ia melihat Winter terlihat sangat sehat dan rona wajahnya menunjukkan kebahagiaan, entah mengapa hal itu membuat Wilson menangis.
Dia memeluk putrinya erat sekali.
"Putriku, ternyata dia memperlakukan mu dengan sangat baik, kau kelihatan sehat dan bahagia!"
"Itu saja sudah cukup bagi Ayah, putriku ... Ayah benar-benar bahagia melihat keadaan mu yang sekarang!"
"Melunasi kerinduan Ayah kepada mu!" seru Wilson benar-benar terlihat sangat menyayangi putrinya ini.
Winter menganggukkan kepalanya, lalu ia menangis tersedu-sedu.
"Aku merindukan mu Ayah, Ayah jangan khawatir karena Avier menjaga ku dengan sangat baik!"
"Ayah tidak perlu khawatir karena Winter sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri ..."
Winter menangis dan memeluk Ayahnya.
Dia sangat merindukan Ayahnya, namun Winter juga tidak bisa melarang ayahnya untuk menghukum dirinya sendiri atas kesalahannya di masa lalu.
Ya, Avier sebenarnya ingin melepaskan dan sudah memaafkan Wilson, akan tetapi Wilson lah yang ingin menebus dosanya sendiri.
"Salju putih ku yang kecil sudah dewasa rupanya, putri Ayah yang sangat cantik ... hari ini kita ke taman bermain yang dulu kita sering kunjungi bersama Ibumu saja ya ..." seru Wilson akan meninggalkan kenangan yang baik terhadap putrinya.
"Ummm, baik Ayah, sudah lama kita tidak ke tempat itu." seru Winter mengusap air matanya dan pergi bersama Ayahnya.
Rasanya seperti nostalgia, apalagi yang menyetir adalah Ayahnya sendiri.
Seolah mereka kembali ke masa lalu, saat Winter kecil, mereka akan ke taman bermain bersama Ibunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya 🥺
Juga jika kosa kata masih banyak yang janggal nanti akan segera aku perbaiki.
Jangan lupa berikan saran membangun ya semuanya, Lope you sekebon jeruk 😘❤️