
Episode 85 : Apakah Tuan senang?
***
Entah siapa yang mereka bahas namun Asher segera meminta pengawal untuk membawa Julia ke ruangannya dan akan dikurung disana sampai amarahnya mereda.
Lalu ia berbicara secara pribadi dengan bawahannya untuk laporan yang membahagiakan ini.
.
.
Di ruangan pribadi Asher Goldwil,
"Jelaskan secara rinci semua informasi yang kau dapatkan!" seru Asher kelihatan sangat puas dan bahagia.
Orang yang mereka cari itu sudah begitu lama ia cari-cari, salah satu kunci yang memegang rahasianya dahulu dan surat warisan yang sebenarnya pewarisnya sudah meninggal dahulu.
Jadi sebenarnya bukanlah masalah jika surat warisan asli itu ditemukan karena toh pewaris sah nya juga sudah tidak ada.
Akan tetapi Asher merasa masih perlu menutup mulut orang itu yang dalam artian melenyapkan orang tersebut dan menghancurkan surat warisan yang disembunyikan agar hidupnya bisa tenang.
"Iya Tuan, beliau telah ditemukan jejaknya setelah potret tak sengaja ini ditemukan oleh salah satu orang kita ..."
Seru anak buah Asher sembari menunjukkan sebuah rekamanan rumah sakit jiwa yang menunjukkan beberapa pasiennya.
Di salah satu slide yang menunjukkan beberapa pasien, ditemukan salah seorang yang sudah mereka cari selama ini.
Saat itu rumah sakit itu tengah membutuhkan penggalangan dana sehingga dibutuhkan slide video yang diiklankan di daerah mereka.
Tetapi siapa sangka hal itu lah yang membuat pihak Asher langsung menemukan jejak Dave, kuasa hukum dari keluarga Goldwil dahulu.
Yang melarikan diri setelah tahu apa yang terjadi kepada keluarga Goldwil saat dahulu.
Dave melarikan diri dengan cara menggantikan identitas dan pergi ke pelosok desa yang teknologi nya belum mumpuni, sehingga jejaknya seolah hilang ditelan bumi.
"Heh! kau mau melarikan diri tetapi kau sudah mengotori tangan mu sejak kejadian itu! kau harus lenyap Dave! pengecut!" seru Asher tertawa sinis.
Dia akhirnya akan bisa tidur dengan tenang sejak juru kunci yang mengetahui rahasianya akan lenyap.
"Tidak boleh ada satupun yang tertinggal, semuanya harus tuntas! besok semua anggota mu harus sudah ada di desa itu! kepung desa nya jika dia mencoba melarikan diri!"
"Kali ini dia tidak boleh lepas dari genggaman ku! dan habisi semua orang yang mencoba menghalangi! tidak peduli siapapun dia!"
"Apa kau mengerti?"
Perintah Asher begitu jelas, dia akan melenyapkan siapapun yang menghalanginya.
Dia akan menghabisi semua yang mencoba mengkhianati nya dan kabur seperti Dave.
"Saya mengerti Tuan ..." seru anak buah Asher segera berlalu melakukan perintah dari Tuannya.
.
.
Di desa tempat Red dan Winter,
Red duduk berdampingan bersama Winter, dengan dinginnya udara dihangatkan oleh api unggun yang dinyalakan oleh para warga ketika acara sederhana penyambutan musim salju.
Red merasa hatinya belum pernah sehangat ini sebelumnya, seolah dia lupa jika dia memiliki tujuan yang sangat besar yang akan pecah sebentar lagi.
Winter nampaknya menyadari energi positif dari Red, sehingga Winter tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Red yang tersenyum disinari cahaya api unggun yang berada di tengah-tengah mereka.
"Tuan ... apakah anda senang? bagaimana jika kita tinggal disini saja jika Tuan senang?"
"Aku bersedia menemani mu disini ... kita bisa membaur dengan warga yang baik hati dan menikmati pemandangan indah ini setiap hari ..."
Winter berbicara dengan sangat tulus, matanya yang indah dimana ketika melihatnya akan terlihat warna merah oranye dari cahaya api unggun.
Winter terihat sangat cantik dan indah dengan balutan syal merah di lehernya, kain tebal yang dikenakan malah membuat Winter sangat menggemaskan.
Red tersenyum, ada rasa haru di wajahnya, lalu ia menatap lekat gadis yang entah mengapa membawakan badai yang menghancurkan bongkahan es di hatinya.
"Winter, tanganku penuh darah dan hatiku penuh dendam ... hatiku pernah mati sehingga aku tak mempedulikan siapapun demi mencapai tujuan dan dahaga benci ku!"
"Apakah kau masih tetap mau berada di sisiku ketika kau tahu seberapa mengerikan nya aku? aku ini hanyalah seseorang yang harusnya sudah mati dahulu,"
"Aku tetap hidup karena kebencian ... aku tidak pernah tahu caranya menyayangi lagi ..."
"Walaupun begitu apakah kau masih mau tetap berada di sisiku?"
Red nampaknya sangat serius, ditengah keramaian warga yang juga berbincang dengan orang terdekatnya.
Red dan Winter juga rasanya berada di dunia mereka sendiri.
Winter terpaku dan terdiam, tangannya sedikit bergetar ketika Red mengingatkan dirinya bagaimana Red adalah orang yang sangat mengerikan.
Entah apa yang dilakukan oleh Red bisa sampai di posisi ini akan tetapi hal itu benar-benar sangat menakutkan.
Entah apapun jawaban Winter selanjutnya akan benar-benar menentukan dan sedikit merubah jalan hidup sang bos mafia.
.
.
.
.