
Episode 31 : Ketegangan dan keimutan.
***
"Apa yang kau lakukan di sana mematung seperti batu? cepat ambilkan obat di laci untukku!"
Red meminta Winter yang terdiam mematung karena tak berani bergerak untuk mengambilkan obat penenang yang ada di laci meja yang ada di dekat ranjang.
"Baik Tuan," balas Winter benar-benar menurut sekali.
Winter melangkahkan kakinya, sebentar tadi Winter sudah panik ketika mendengar Red bermimpi buruk dan memanggil kedua orangtuanya, dan Anna adik perempuannya.
Ketika itu, hati Winter tergerak dengan hebat, bagaimana dia merasa Red sepertinya telah mengalami luka batin yang hebat.
Winter meletakkan wadah di tangan ke atas meja.
Lalu ketika ia membuka lagi meja, matanya melebar ketika melihat banyak sekali jenis obat-obatan disana.
Winter juga mudah sakit, pernah mengonsumsi obat penenang juga jadi Winter langsung tahu obat yang mana yang dibutuhkan oleh Red.
"Ini Tuan,"
Winter menyodorkan obat penenang yang segera dilahap oleh Red.
Red memejamkan matanya sejenak lalu ia berdiri.
Tubuhnya gerah dan harus segera mandi.
"Kau! persiapkan baju untukku! aku mau mandi." ketus Red lagi sudah melangkahkan kakinya hendak menuju kamar mandi yang ada di kamar pribadinya.
"Y ... Ya Tuan? baju?" seru Winter tentu saja terkejut, mengapa dia harus memilihkan baju untuk Red.
Bukankah seharusnya itu dipilih sendiri, bukankah nanti akan menemukan barang-barang personal Red dan hal itu pasti akan membuat Winter malu sekali.
"Tentu saja? kenapa? kau mau menolak?"
Sembari berkacak pinggang, Red menolah ke belakang dimana tadi Winter tak sengaja segera berdiri karena terkejut sekali.
"Saya tidak akan berani menolak perintah mu Tuan," balas Winter duduk sopan dan menunduk lagi.
Mata Red memicing lalu melihat Winter dengan ekspresi yang aneh.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Langkah kaki Red semakin menjauh dan suara pintu kamar mandi sudah terdengar.
"Memilih baju untuknya? apa-apaan itu? apa dia tidak punya malu?"
"Eh, tapi tunggu dulu, bukankah jika seperti itu aku bisa bebas membuka lemarinya? siapa tahu ada petunjuk dimana Ayahku dikurung."
Winter langsung sadar dan merasa dia mendapatkan kesempatan emas.
Dia akan mencarikan baju untuk Red sembari mencari informasi-informasi yang penting, siapa tahu ada yang menunjukkan lokasi dimana Ayahnya ditawan.
.
.
.
Ketika itu sudah jam satu pagi, Winter dengan sangat cepat melangkahkan kaki membuka lemari Red, dengan tangan yang bergetar karena terlalu takut, Winter mencoba mencari-cari sesuatu.
Hal penting yang setidaknya mengarah ke tempat dimana ayahnya di kurung.
"Srak ... Srak!"
Winter membolak-balik kan beberapa berkas yang ada di laci paling bawah, dia mencari-cari sesuatu.
Seperti seorang pencuri, jantungnya berdegup kencang sekali.
Apalagi ruangan ini kedap suara, sehingga suara air di kamar mandi tak terdengar sama sekali.
Hal itu membuat suasana semakin tegang, dan mencekam tentunya.
"Haah!"
Suara nafas Winter terdengar begitu berat, keringat sudah membasahi dahinya dan dia tak bisa mengalihkannya perhatiannya terhadap pintu kamar mandi.
Mata Winter segera melihat sebuah berkas, sebuah bangunan dengan alamat lengkap, entah mengapa firasat Winter mengatakan jika bangunan ini adalah tempat dimana ayahnya ditawan.
Dengan cepat-cepat Winter menghafal alamat gedung itu, dia menghafal nya dengan seksama agar tidak lupa.
Dia tidak mungkin mengambil berkas itu karena akan langsung ketahuan oleh Red.
.
.
*Ctak*
Terdengar suara pintu kamar mandi.
Mata Winter terbelalak dan jantungnya hampir berhenti.
Dia sama sekali tidak malu berpakaian seperti itu dengan dada bidang terbuka lebar.
"Apa yang kau lakukan di sudut lemari itu?"
Seru Red ketika mendapati Winter masih berada di ruangan pakaian dan tertunduk di sudut lemari.
"Maafkan saya Tuan, tempat pakaian Tuan yang biasa ada di tempat paling atas, aku sama sekali tidak bisa meraih nya,"
Dengan nafas yang terengah-engah, Winter memberitahu Red jika di ruangan pakaian ini dia terlalu kecil dan tidak bisa meraih ke tempat paling atas.
"Karena itulah kau kelelahan?" seru Red sudah melangkah ke arah Winter.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Winter berdegup sangat kencang, dia takut ketahuan jika baru saja dia menggeledah lemari sang bos mafia.
"I ... Iya Tuan," balas Winter bergetar ketakutan.
Dia sedang mempertaruhkan nyawanya dan nyawa ayahnya sekarang, ketika ia berani membuka dan menggeledah berkas-berkas sang bos mafia.
*Glek*
Winter menelan salivanya kuat sekali ketika Red sudah berada di hadapannya.
'Apakah aku sudah ketahuan?'
'Kenapa dia ada di hadapan ku?'
'Apakah aku akan mati malam ini?'
'Rasanya aku bahkan sulit bernafas.'
Winter merasa sulit bernafaskan ketika Red sudah berada di hadapannya, dekat sekali.
Winter terihat sangat mungil jika dibandingkan dengan tubuh Red.
"Tak!"
Red sebenar mengambilkan pakaian untuk dia sendiri.
"Apa yang kau lakukan disitu? apakah kau sangat suka peran patung? kenapa kau suka sekali mematung?"
gerutu Red meninggalkan Winter di ruangan pakaian.
Lalu ketika Red sudah berada di luar, tepatnya di tempat ranjang dan sofa tadi berada, ada rasa yang aneh yang dirasakan Red sekarang.
"Astaga, kenapa dia mungil sekali? aku baru menyadari nya!"
"Red sadarlah, itu adalah salah satu cara nya untuk menyihir mu!"
"Jangan mau termakan oleh sihirnya!"
Geram Red sejak tadi memerhatikan ternyata Winter benar-benar mungil, menambahkan keimutannya.
Pantas saja ada dua laki-laki yang tergila-gila dengan Winter, satu calon suaminya yang sudah keburu entah kemana, satu lagi lelaki yang sebenarnya dicintai oleh Winter namun tidak akan pernah dipilih oleh Winter sebagai pasangannya.
.
.
.
Disaat yang bersamaan,
"Besok aku akan bertemu Winter lagi, dia mengatakan untuk tidak memberitahu siapapun,"
"Sebenarnya ada apa ya? apakah dia ada masalah keuangan, aku dengar perusahaan Ayahnya telah diakuisisi oleh perusahaan asing,"
David sedang bersemangat sekali, dia bertanya-tanya mengapa Winter meminta dia untuk bertemu besok hari.
David tidak tahu jika yang mengatur itu semua adalah Red, dan orang yang berhubungan dengan David adalah Red melalui ponsel Winter yang tadi diberikan Red terhadap Winter.
Tetapi atas tidak sepengetahuannya, David merasa hubungannya dengan Winter semakin membaik, ketika mendengar Winter dijodohkan saat lalu dan Winter memilih lelaki itu, David merasa putus asa dan sudah melepaskan Winter.
Namun sekarang, melihat kesempatan di depan mata, David tak akan melepaskan kesempatan ini lagi.
.
.
.
.
Author : Yuhu crazy up hari ini sudah selesai, aku sudah update tiga episode hari ini, ditunggu besok lagi yaa sheyeng 😘❤️
Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️
Lope you sekebon jeruk semua.