Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 48 : Benci dan cinta jadi satu.



Episode 48 : Benci dan cinta jadi satu.


***


Dia akan sesungguhnya menjadi alat pemuas Red demi meredam kemarahan yang menggelora dalam diri Red.


Red menyeringai tajam ketika mendapat anggukan persetujuan dari Winter.


"Srak!"


Red membuang semua hal yang tergeletak di atas meja kerjanya menggunakan tangan.


Sejam pecah jatuh ke bawah meja kerjanya, yang tertinggal hanyalah gelas yang masih berisikan sampanye.


Lalu ia mengangkat tubuh Winter sampai berbaring di atas meja kerjanya.


Winger yang terbaring tak berada di atas meja kerja lelaki ini masih mencoba menutupi tubuhnya yang sudah terekspos di hadapan Red yang benar-benar memang tengah mabuk.


Tatapan Red sangat tajam, bahkan cukup tajam untuk membuat bulu kuduk merinding.


Red membuka piyama yang masih terpasang di tubuhnya, lalu terlihatlah tubuh bidang atletisnya.


Dia menarik tangan Winter yang mencoba menutupi tubuhnya ke atas agar dia bisa menatap tubuh Winter sepuas yang ia bisa.


"Jangan ditutupi! jangan melakukan apa yang tidak aku perintahkan!"


"Diam saja dan lakukan peran mu!" bisik Red menatap Winter penuh degan kemarahan.


Winter tak mampu menatap Red, Winter juga tak menyangka dia akan berada di titik ini.


Titik dimana dia tak bisa membela dirinya dan bahkan tanpa sehelai benang pun di hadapan lelaki dewasa.


.


.


.


Red menatap tubuh Winter, setiap lekuk tubuhnya Membuatnya semakin gila, rasanya tubuh itu memanggil nya untuk segera melaksanakan penyatuan yang membabi-buta.


Kedua gunung kembar yang terpampang nyata juga meminta untuk segera ditaklukkan, Red benar-benar sudah gelap mata sekarang.


Di meraih gelas berisikan sampanye, lalu dia tersenyum mengerikan.


"Aku penasaran bagaimana rasa sampanye ini jika aku minum dari tubuh mu, aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mencicipi nya ..." seru Red menuangkan sampanye ke tubuh Winter.


Sampanye yang dingin itu membuat Winter terperanjat dan bergetar karena dingin.


Tetapi goncangan itu membuat Red semakin bersemangat menatap Winter dengan puas.


"Ho? sudah tidak sabar rupanya ... kau memang sangat cocok untuk menjadi pemuas ku!"


Bisik Red segera menurunkan wajahnya lalu melahap sisa sampanye yang ada di tubuh Winter.


'Rasanya aku ingin mati saja, dia melakukan itu kepada tubuhku, aku benar-benar akan menjadi wanita pemuas!'


Winter tak bisa menahan air matanya membasahi pipinya, dia menatap ke arah samping agar tak melihat Red menguasai tubuhnya.


Bagaimana tidak, Red menyesap seluruh tubuh Winter bagian atas.


Gunung kembar yang belum pernah dilakukan sentuh pria manapun, dia genggam dengan kuat dan diesap dengan bebas oleh Red.


"Ah ..." Winter kembali mengeluarkan suara ketika merasakan hal itu pertama kali, ketika bibir Red mulai menyentuh gunung kembar nya.


Winter segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan hanya bisa meringis menangis.


Dia takut mengeluarkan suara dan akan memberikan Red marah nantinya.


Red mendengar teriakan kecil itu, dia ingin bermain lagi dengan tubuh Winter yang membuatnya senang.


"Rasa minumannya jauh lebih enak, dikemudikan hari aku akan meminum nya dengan cara yang barusan ..."


Seru Red meraih pinggang Winter, agar Winter duduk di atas meja kerjanya dan keduanya bisa saling berhadapan.


"Tetapi sekarang, aku sudah ingin mencium lagi, jadi ..." Red tak begitu jelas melihat wajah Winter tadi.


Tetapi sekarang, Red bisa melihat dengan jelas bagaimana Winter menahan tangis dengan menggigit bibit bawahnya dan wajahnya benar-benar pucat karena ketakutan.


Red terdiam sejenak, di saat yang bersamaan gairahnya sudah memuncak dan tak bisa ia tahan, di sisi yang lain Red benar-benar lemah jika Winter dalam keadaan menyedihkan seperti ini.


"KENAPA KAU MENANGIS?"


"APA KAU PANTAS MENANGIS DI HADAPAN KU?"


Red dengan suara yang bergetar menahan amarahnya, dia mencengkeram kedua pipi Winter dan meminta penjelasan.


Dengan gugup dan tak tahu lagi harus bagaimana, Winter menundukkan wajahnya dan menjawab sembari bergetar hebat.


"Ma ... maafkan aku Tuan, aku benar-benar tidak tahu cara melayani mu, aku menangis karena merasa sakit di tubuh ku ketika Tuan melakukan itu,"


Winter meminta maaf karena sudah menangis dan mencoba menolak Red.


Ketika Red mendengar itu, Red melihat ke arah tubuh Winter yang membuatnya gila tadi.


Lalu ia perhatikan jika sudah banyak tanda merah yang ia torehkan disana.


Dimana Red juga tak menyadari jika dia melakukan itu barusan.


Mata Red melebar dan dia memejamkan matanya sejenak.


Red mengurut keningnya karena merasa pusing.


Lalu ia meraih jas yang masih tergantung di kursi kebesarannya dan melemparkannya ke tubuh Winter.


"Pergilah, dan bersihkan dirimu!"


"Aku ingin melihat mu!"


Geram Red meraih piyama tidurnya dan mengenakannya lagi.


"Tu ... Tuan?"


Sembari meraih jas itu dan menutupi tubuhnya, Winter ketakutan setengah mati ketika Red memintanya keluar.


'Apakah aku telah gagal? apakah Ayahku apakah segera dibunuh karena aku gagal?'


'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?'


Winter menatap Red mencoba mengetahui mengapa Red mengusirnya.


"Apa kau mau mati? kenapa kau belum pergi?!"


Teriak Red merasa jika dia melihat Winter lebih lama maka mungkin dia akan kehilangan dirimu dan menghabisi Winter secara brutal.


Perasaan itu lah yang membuat Red kesal dan marah, perasaan bagaimana dia masih saja seolah melindungi dan tidak ingin menyakiti Winter.


"Ba ... baik Tuan, sa ... saya permisi dulu ..." seru Winter mengambil semua pakaiannya dan melangkah dengan sangat cepat menuju luar ruangan kerja Red.


.


.


.


Setelah Winter pergi dari ruangannya ...


"AHHH!"


Red memukul semua hal yang ada di ruangan kerjanya, termasuk kaca sampai darahnya menetes di lantai.


"Kenapa dia harus menjadi anak dari musuh ku? semakin aku tak mampu melukainya semakin aku merasa aku mengkhianati keluarga ku!"


"Aku benci perasaan ini!" teriak Red tak mampu meluapkan perasaannya lagi.


Ketika Winter datang ke dalam hidupnya, sepertinya seluruh rencananya dan hatinya diporakporandakan begitu saja.


Membuat Red bingung dan marah disaat yang bersamaan.


.


.


Di kediaman David,


David sedang melangkah mondar mandir di kamar pribadinya, dia mencari cara agar gadis menghindari perjodohan sepihak yang diatur oleh ayahnya dengan putri dari keluarga Goldwil.


"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, aku tidak ingin menjadi pewaris sah keluarga ku! jika aku kabur bersama Winter, apakah dia akan mau?"


"Aku tidak ingin membuang kesempatan lagi, Winter adalah wanita satu-satunya yang aku inginkan!"


geram David mencetuskan ide gila di kepalanya.


.


.


.


.


Author : Jika ada typo tolong di komentari saja ya, agar langsung aku perbaiki, maapkeun juga jika semisal masih banyak typo, aku ngetik ngebut soalnya, kejar target crazy up 🥺


Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️


Lope you sekebon jeruk semua, terimakasih ya sudah setia membaca karya ku yang banyak kekurangan ini 😌