
Episode 83 : Red benar-benar terpesona.
.
.
.
"Jangan banyak alasan dan suapi aku, kita berperan sebagai pengantin baru di tempat ini, kau harus menunjukkan kemesraan bersama ku ... jadi suapi aku makan!" seru Red dengan wajah angkuhnya.
Dia bahkan mencari banyak alasan hanya untuk disuapi oleh Winter.
.
.
Winter terdiam sebentar, dia tidak pernah menyuapi seseorang, dia juga entah mengapa merasa malu ketika Red meminta hal itu.
'Menyuapi? ta ... tapi banyak orang disini?! tapi jika aku menolak pasti dia akan marah!'
'Ya sudah lah, lakukan apa yang ia perintahkan, jangan lupakan misi mu!'
Winter tengah berkutat dengan batinnya, sebenarnya dia terlalu malu untuk melakukan itu di depan umum akan tetapi karena yang meminta adalah Red, Winter tentu saja tak akan bisa menolak.
"Baik Tuan ..." balas Winter menganggukkan kepalanya dan mengambil sendok.
"Oh ya! jangan panggil aku Tuan, panggil aku sayang! kan aku sudah katakan jika kita disini tengah berperan sebagai suami istri yang baru menikah?!"
Geram Red dengan pipi yang memerah dan entah mengapa sejak tadi begitu banyak trik berada di kepalanya untuk membuat Winter melakukan apa yang ia mau.
"Sa ... sayang?" Winter meninggikan suaranya sesaat karena mendengar hal itu.
Sampai-sampai semua mata memandang ke arah mereka.
Mata Winter melebar dan menyadari semua perhatian itu.
"Sa ... sayang, oh iya ... sayang lapar ya, ya sudah ini makan ya sayang ..."
Dengan tersenyum kaku dan sembari menelan saliva dengan kasar, dia mengambil makanan di sendok dan hendak memberikan nya kepada Red.
Mulut para anak buah Red ketika melihat itu semuanya melebar mengaga, seolah ada petir yang menggelegar ketika melihat dan menyadari Bos Mereka dengan pipi yang memerah dan wajah yang terlihat syok sekali ketika Winter memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Apakah Bos kita benar-benar telah berubah karena gadis itu?"
"Tapi bagaimana mungkin? dia itu sangat dingin dan tak pernah menampilkan wajah memerah seperti itu?"
"Ini benar-benar fenomenal! seolah aku bahkan tak akan mempercayai apa yang aku lihat secara langsung ini!"
Mata bulat Winter melebar dan tangannya bergetar hebat ketika menyodorkan sendok ke depan mulut Red sembari sedikit meninggikan tangannya agar tangannya yang kecil bisa meraih sejajar dengan mulut Red.
Sedangkan Red ...
"DEG ... DEG ... DEG!"
Jantungnya berpacu dengan sangat cepat dan dia membisu membeku dengan wajah memerah sembari melihat dengan lekat wajah Winter yang menatapnya dengan ekspresi bingung.
Bagaimana tidak, Red bahkan tidak menyantap makanan yang sudah ada di hadapan mulutnya.
'Aku benar-benar gila! bahkan waktu serasa berjalan sangat lambat sekarang!'
'Penyihir kecil ini sangat sangat berbahaya!'
'Aku benar-benar akan ketagihan! ini tak akan bisa di hindarkan lagi!'
Red benar-benar tak tahan lagi dengan gejolak yang ada di dalam dirinya.
Dia sudah benar-benar ingin menghabisi Winter.
"Tuan ... kita diperhatikan orang, tolong jangan menatapku seperti itu dan makan makanannya ..." bisik Winter mendekat kan diri dan Red semakin bisa melihat mata bulat Winter yang membuat jantungnya sampai berhenti sesaat.
Rasa malu, bersemangat, rasa gila dan keinginannya yang lain meledak di dadanya.
Angin lembut, dan lampu remang-remang yang menyinari wajah Winter karena malam telah menyapa membuat tampilan Winter layaknya wanita paling cantik yang pernah dilihat oleh Red.
Red masih saja terdiam membisu, dia menatap Winter dengan wajahnya yang memerah dan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
"Tuan ..."
Winter membisik lagi, tangannya sudah tak mampu lagi menggenggam sendok itu lebih lama.
Sedangkan Red yang tak lagi menghiraukan apapun lagi, dia menarik tangan Winter sampai makanan terjatuh dan segera mencium bibir Winter di hadapan Semua orang.
Tindakan ini benar-benar tidak terhindar olehnya, karena jika dia tak melakukan itu maka mungkin dia akan frustasi karena nya.
.
.
.
.