
Episode 112 : Bukan lagi Tuan mu, tetapi kekasih mu.
***
"Tetapi wajah mu ini membuat hatiku sakit, aku tidak suka melihat wajah putus asa dan kelam ini ..."
"Tolong jangan bersedih ... aku tidak tahu mengapa tetapi aku menderita melihat ini, hatiku sakit dan aku merasa sesak ..."
Bisik Winter tak bisa mengontrol ucapannya.
***
Avier memejamkan matanya, dia merasakan sentuhan hangat Winter di wajahnya dan dia ingin merasakan kehangatan itu sebisanya.
"Katakan lah, apa yang kau katakan di rekaman itu, aku ingin dengar secara langsung ... agar aku bisa melangkah maju ..."
"Agar aku tahu apa yang harus aku lakukan dikemudian hari ..." Seru Avier memejamkan matanya.
suaranya sangat lembut, ada getaran kepedihan disana.
Semua orang mungkin tidak akan percaya jika sekarang ini, sang bos mafia yang dikenal telah kehilangan hatinya terlihat begitu lemah dan menggantungkan hatinya kepada seorang wanita yang tidak pernah di duga siapapun.
Ialah Winter.
Mendengar hal itu, Winter tak lagi berpikir dua kali, dia akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan hati lelaki yang tidak dia sangka mengisi hatinya ini.
Ya, Winter masa setiap ucapannya akan menjadi penyelamat hati dan jiwa Avier yang telah beku.
"Tuan Avier, kau selalu mengatakan tidak memilih tempat untuk pulang, selalu mengatakan merindukan arti keluarga ..."
"Aku ingin mengatakan ini kepada mu, jika keluarga itu adalah tempat dimana kita tidak bisa berkeluh kesah, bahagia dan tempat dimana kita membagi segalanya ..."
"Jika Tuan merasa tidak memiliki keluarga, maka aku akan menjadi keluarga mu, jika Tuan merindukan tempat untuk pulang, maka aku akan menjadi rumah mu ..."
"Aku sudah berjanji bersama dengan mu sampai hatimu tenang dan damai, aku tidak berbohong dengan ucapan ku ..."
"Aku akan berada di sisimu, menjadi keluarga, rumah, sandaran dan apapun yang Tuan inginkan, hatiku seutuhnya milik mu ..."
Itulah yang diucapkan oleh Winter di dalam video.
Winter sangat jelas mengatakan kepada Avier, apa yang paling Avier inginkan.
Ialah sandaran hidup, terang, rumah dan keluarga.
.
.
Ketika Avier mendengar itu secara langsung dari mulut Winter secara langsung, Avier segera membuka matanya.
"Kau bersumpah kan tidak akan meninggalkan aku?"
"Menjadi rumah tempat untukku pulang?"
"Kau bersumpah?"
Bisik Avier memastikan lagi.
Sungguh, Avier benar-benar rapuh sekarang ini.
Winter langsung menganggukkan kepalanya tanpa berpikir panjang.
"Iya Tuan, aku bersumpah akan berada di sisimu, aku akan menjadi semua hal yang Tuan butuhkan ..." balas Winter dengan percaya diri.
Dia mengusap air matanya dan bersikap sok kuat di hadapan Avier.
"Aku ... aku juga akan menjaga mu Tuan, aku berjanji ... katakan saja siapa yang mengganggu mu, aku akan memarahi nya ..." seru Winter sungguh polos dan benar-benar tulus.
Layaknya seseorang yang ingin melindungi, mungkin Winter sesaat lupa jika lelaki yang ada di hadapannya ini adalah bos mafia.
Seseorang yang sangat berkuasa dan begitu kuat.
.
.
Avier tersenyum lalu mendekatkan wajahnya, dia menunduk agar dia bisa berhadapan dengan wajah Winter.
"Kau harus bertanggungjawab kalau begitu ... dan panggil aku Avier ... jangan panggil Tuan ..."
"Aku bukan lagi Tuan mu, tetapi kekasih mu ..." bisik Avier membuat Winter terperanjat terkejut.
Winter terdiam saat itu, dia tidak tahu harus merespon apa.
Akan tetapi ketika Avier mengatakan jika dia adalah kekasihnya, seolah ada bom bunga mekar di hatinya.
"DEG ... DEG ... DEG!"
"A ... Avier ..." bisik Winter tiba-tiba jantungnya semakin berpacu sangat kencang sekali.
Winter mungkin tidak tahu jika Avier juga merasakan hal yang sama, bahkan ledakan perasaan di hati Winter tidak seberapa dengan apa yang dirasakan oleh Avier sekarang ini.
"Hah!"
Nafas Avier menjadi panas, dia dengan lembut meraih dagu Winter dan segera mengecup bibirnya dengan sangat lembut.
Di tengah salju pertama, dimana salju terlihat putih indah di sekitar mereka, Avier memeluk Winter dengan sangat erat sembari mencium nya dengan sangat lembut namun penuh perasaan.
"Sayang ... apakah kau tahu? jika kau telah merubah hidupku? apakah kau tahu jika ucapan mu barusan telah memberikan aku alasan untuk hidup?"
"Kau ... memang diciptakan khusus untuk ku, untuk hatiku dan untuk bersamaku selama-lamanya,"
Bisik Avier segera menggendong Winter memasuki kamar mereka.
Keduanya sedang terlena oleh ledakan perasaan yang membuat keduanya haus akan satu sama lain.
.
.
Avier meletakkan Winter duduk di atas ranjang, dia mulai melepaskan syal merah yang melekat di leher istrinya.
Melepaskan jaket tebal yang juga melekat disana.
Keduanya terdiam, membaur dengan perasaan dan hati yang hangat.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung mereka berpacu dan saat tangan Avier mulai membuka kancing baju Winter secara perlahan-lahan, Winter tidak mengerti apa yang sedang melanda nya.
'Ada apa denganku? mengapa aku merasakan panas di sekujur tubuh ku?'
'Padahal sudah musim salju,'
'Setiap tangannya bersentuhan dengan kulitku, aku merasa pusing ...'
Bagaimana pun, Avier tidak melakukan apapun kepada tubuh Winter sejak mereka pertama kali melakukannya di desa.
Avier merasa tubuh Winter masih terlalu lemah dan syok untuk merasakan hal itu.
Avier selalu menahan keinginannya untuk merasakan tubuh Winter, wanita yang mampu memberikan segalanya kepadanya.
"Sayang ... apakah kau takut?"
Bisik Avier sudah melepaskan pakaian Winter.
Sekarang ini, Winter hanya mengenakan pakaian dalam nya yang berwarna merah marun.
"Haah!"
Nafas Winter terasa berat dan panas.
"Aku ... aku tidak takut, tapi aku tidak tahu mengapa, rasanya jantungku seperti mau meledak ..." bisik Winter dengan sangat jujur.
Dia bahkan menggenggam tangan Avier karena merasa jantungnya berpacu sangat cepat.
Wajah Avier segera memerah ketika mendengar itu, dia menyentuh bahu Winter dan sedikit mendorong nya agar berbaring di ranjang.
Saat itu, Avier mulai mencium Winter lagi, ciumannya sangat lembut seperti menenangkan wanita nya itu.
"Aku juga sama, aku merasakan hal yang sama, rasanya jantungku seperti mau meledak ..." bisik Avier mulai melepaskan kaitan bra Winter dan mereka melakukannya lagi malam itu.
Winter kebingungan sekali ketika dia tidak merasakan sakit sama sekali, melainkan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan.
Perasaannya seperti ketika ia haus dan dia meneguk minuman paling segar sepanjang hidupnya.
Begitulah Winter menggambarkan perasaanmu sekarang ini.
.
.
.
.
Author : Guys aku baca komentar kalian mengenai pesan Winter wkwkwk banyak yang bilang Winter hamil.
Maaf ya bukan itu pesan nya, waktunya terlalu mepet kalau Winter hamil, soalnya waktu mereka melakukan masih dalam rentang waktu dua Minggu hehe😍
Semoga kalian tetap suka ya, maafkan jika banyak typo.
Satu episode lagi nyusul yaa.