
Episode 63 : Pagi hari bagai naik rollercoaster.
.
.
.
.
Waktu akhirnya berlalu, pagi hari yang sangat dingin sudah menyapa, walau suhunya dingin namun matahari masih kelihatan dengan warna keemasan nya menyapa bumi.
Sepertinya musim salju akan benar-benar segera datang.
Winter yang merasa tubuhnya segar kembali karena tertidur sangat pulas semalaman mencoba membuka matanya.
Pagi ini Winter merasa sangat hangat, seperti ada seseorang yang mendekapnya semalaman.
Dan saat ia membuka matanya, benar saja Red memeluknya semalaman dan tidak memberikan ruang sedikitpun, agar Winter tidak merasakan kedinginan.
Winter terdiam membisu sejenak lalu bayangannya mengingat ingatan tadi malam.
Matanya yang bulat itu berkedip-kedip dengan ekspresi yang mulai panik.
'APA YANG TERJADI TADI MALAM!'
'KENAPA AKU JADI TIDAK INGAT APA YANG TERJADI!'
Winter berteriak dalam hatinya, Bagaimana ia tidak ingat lagi apa yang terjadi ketika penyatuan itu hendak terjadi.
Saat itulah sebenarnya Winter terlelap begitu saja.
'Aduh aku malu sekali, setidaknya aku harus melepaskan diriku pagi ini!'
Seru Winter lagi mencoba menenangkan dirinya yang panik.
Winter merasa mereka sudah melakukan itu, padahal sebenarnya Red sama sekali tidak melakukannya walau saat itu Red sudah hampir meledak.
Red masih menahannya dan tidak menghabisi Winter.
Winter dengan sangat hati-hati mencoba menggeser tangan Red yang membungkus nya, dia ingin melepaskan dirinya.
Tetapi ketika tangan Winter hendak mengangkat tangan Red, dan wajahnya mendongak untuk melihat wajah Red yang tadi tertutup oleh tangannya.
Winter langsung terkejut sekali dan matanya membulat dan mulutnya tertutup rapat.
Bagaimana tidak, ketika Winter mengangkat tangan Red, bisa dilihat oleh Winter bagaimana mata Red sudah terbuka dan sedang memerhatikan nya.
'Mampus aku!' geram Winter segera tersenyum kaku dan kembali pelan-pelan mengembalikan tangan Red ke pundaknya dan wajahnya ia benamkan lagi di data Red.
Pasrah seperti mangsa, begitulah Winter bersikap sekarang.
.
.
.
Jantung Red berdegup kencang sekali, pipinya tanpa ia ketahui sudah merona.
Lalu ia terdiam membisu sejenak sampai akhirnya ia menarik tubuh Winter agar sejajar dengannya.
Wajah mereka bertemu dan Winter yang gugup itu tak bisa mengelak lagi.
"Tu ... Tuan," Winter hendak meminta maaf atas sikapnya barusan.
"Diam ..."
Tetapi Red segera memerintahkan agar Winter segera diam.
"Jika kau berbicara lagi, maka aku akan menganggapnya sebagai tingkah untuk menggoda ku dan aku akan segera menghabisi mu!"
Geram Red masih dengan pipinya yang memerah itu, dia sungguh terpesona melihat Winter.
Winter yang mendengar itu setelah menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dan menganggukkan kepalanya.
"Pagi ini aku harus pergi sebentar, akan ada anggota ku menjaga mu di luar! jangan pergi kemanapun dan mencoba kabur, apa kau mengerti?"
Red memberitahu kepada Winter jika dia akan pergi pagi ini namun akan segera kembali, jadi Winter tidak boleh kabur ataupun pergi kemanapun.
"Ummm ..." Winter menatap menggunakan bola matanya yang bulat itu sembari menganggukkan kepalanya dengan tanpa membalas dengan kata-kata.
Dahi Red mengernyit lalu ia meraih kedua pipi Winter yang berada di hadapannya.
"Jawab aku! kenapa hanya mengangguk?" seru Red menuntut dan tentu saja membuat Winter Bingung.
Padahal yang meminta Winter diam adalah Red sendiri.
'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?'
'Jika aku menjawab maka akan dinilai sebagai bentuk menggoda!'
'Jika aku tidak jawab maka aku akan dihabisi juga!'
'Lalu apa yang harus aku lakukan?'
'Beginikah nasib tawanan yang merangkap menjadi simpanan? setiap harinya sangat menegangkan seperti menaiki roller coaster.'
Benak Winter sekarang ini benar-benar di tengah-tengah pilihan yang sangat sulit.
.
.