
Pagi ini mentari nampak malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Di sebuah kamar berukuran 3x3 nampak seorang gadis dengan wajah yang cantik masih terlelap. Terbuai dalam mimpi yang mungkin lebih menyenangkan dari pada KDI kehidupan yang sebenarnya. Dia adalah Disti, seorang gadis yang hidup sebatang kara. Dia masih terlelap di kamar kosnya, kemudian suara ketukan pintu mengganggu mimpinya.
Tok
Tok
Tok
"Hoammm,,,,, siapa sih mengganggu saja !!!" ucapnya sambil mengucek matanya, lalu menyesuaikan dengan cahaya yang menelusup masuk ke kamarnya.
"Ini jam berapa?" sambil melihat ke sisi tempat tidurnya, tempat jamnya terletak.
"Oh astaga,,,!!! Mati aku !!! Aduh bagaimana ini aku ada jam kuliah pagi !!" gerutunya, melupakan tamu yang mengetuk pintu tadi. hingga terdengar ketukan kembali saat itu lah Disti sadar ada seseorang di luar kamar kos nya.
Ceklek
Tampak lah sesosok pria muka dengan karisma dan ketampanan yang tak perlu di ragukan lagi.
"Kak Thian,,?Kenapa pagi-pagi sudah di sini?" tanya Disti yang masih menggunakan piala serta rambut yang acak-acakan, menandakan dia baru bangun tidur.
"Kau baru bangun? Bukankah hari ini ada jam kuliah pagi?" tanya Thian yang langsung menerobos masuk membawa makanan yang sudah dia beli tadi.
"Iya,,, Aku kesiangan kak!! Aku akan mengikuti jam kuliah ke dua saja nanti."ucapnya yang langsung duduk di tepi tempat tidur. Kamar Disti memang sempit hanya ada tempat tidur juga lemari kecil dan meja kecil tempatnya belajar dan juga kamar mandi dalam jadi dia tak perlu mengantri hanya untuk mandi dan lainnya.
"Makan dulu,, aku membawakan sarapan untukmu !!" ucap Thian sambil membuka makanan yang dia bawa.
"Tapi aku ingin mandi dulu kak, aku terlihat menyeramkan jika seperti ini bukan?" langsung berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti.
Thian hanya memandangi punggung gadis itu. pikirannya berkecamuk, bagaimana bisa dia berada di tempat seorang gadis, yang bahkan gadis itu tak tertarik padanya? Entah pura-pura tidak tertarik atau memang tidak tertarik? Tapi yang jelas dia hanya menuruti pikirannya untuk menjadikan gadis itu barisan mantannya mungkin.
Tak lama gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. nampak cantik dalam balutan celana jeans dan kaos pendek berwarna peach polos. Lekuk tubuhnya membuat siapa saja tertarik padanya, tak terkecuali Thian.
"Kenapa kak?" Tanya Disti yang menyadari Thian memandangnya.
"Ah,,, tidak kok. ayo sarapan dulu" ajak Thian. setelah itu mereka sarapan bersama, Thian selalu mencuri pandang pada Disti.
Suasana kampus begitu sesak dengan ribuan mahasiswa. Disti dan Thian keluar dari mobil bersamaan. pandangan mahasiswi sudah seperti serigala yang lapar, bukan di sengaja oleh Disti, dia sudah terlibat adu mulut sepanjang jalan dengan Thian. Namun Thian terlalu keras kepala dia ingin semua orang tahu kalo Disti adalah miliknya.
"Dis... tunggu !!" dengan meraih lengan Disti, Thian mencegah Disti untuk berlalu.
"Kenapa?" tanya lagi.
"Masih tanya kenapa? Tidak kah kakak sadar dengan dengan tatapan semua orang. Aku tak ingin jadi Bullying mereka kak? Aku cukup sadar posisiku !" Dengan nada marah dan kesal Disti menghempaskan tangan Thian di lengannya lalu dia pergi menuju kelasnya. Thian tak mengejar lagi dia kan menunggu Disti di kantin kampus saja, itu pikir Thian.
"Wihhh,,, ada kabar apa nih, sampai se isi kampus heboh dengan datangnya loe dan Disti?" sambar Zoni kala Thian sudah bergabung dengan mereka. Iya Thian memang mengabari akan ke kampus dan selama Disti sedang di kelas dia meminta teman-temannya menemaninya di kantin kampus.
"Thian,,, sebenernya apa yang loe inginkan dari gadis itu?" Sambung Bisma yang merasa penasaran.
"Entahlah,,, tapi gue mau semua orang tahu kalau dia milik gue !!" ucapannya singkat tanpa merubah raut wajahnya.
"Thian,,,. dia gak sama dengan gadis-gadis yang pernah ngisi kekosongan hati loe. Dia berbeda, jangan buat dia merasa terbebani dengan loe di sampingnya. kalau loe memang merasa dia bisa gantiin masa lalu loe gue pasti dukung, tapi kalau loe cuma jadikan dia sama seperti gadis sebelum-sebelumnya gue harap loe berhenti di sini." Bisma memang orang yang mengerti Thian dari pada Zoni, maka dari itu Thian akan selalu bercerita padanya hanya untuk meminta pendapat tentang kehidupan pribadinya atau cintanya.
"Entahlah, gue bingung satu sisi hati gue tetap kosong, tapi satu sisi gue gak mau dia di miliki orang lain Bis !! gue baru sekarang jadi egois gini dan kayak orang yang lagi berharap cinta darinya. Selalu datang ke kosannya,. nemenin dia makan siang bahkan antar jemput dia." ucap Thian dengan nada pasrah dan bingung.
"Apa loe merasa jatuh cinta padanya?" tanya Bisma lagi. Sedang Zoni hanya menjadi pendengar yang baik untuk mereka tanpa ada niatan untuk menyela.
"Entahlah, bahkan gue lupa rasanya mencintai seseorang Bis!!" nada ke putus asaan lolos dari mulut Thian. Baru kali ini seorang Fathian bisa merasa bimbang pada perasaannya sendiri. Antara jatuh cinta atau hanya ingin memiliki.
Sedang Disti yang telah selesai dari jam kuliahnya langsung menuju tempat favoritnya. mengerjakan setiap tugas dengan baik tanpa peduli dengan gunjingan orang. baginya hidup akan terus berjalan selama kita tetap pada jalannya. jika kata pepatah Biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.