
Ferga sedang berada dalam perjalanan ke Rumah sakit Royal Taruka untuk menyelidiki sesuatu yang sempat membuatnya curiga beberapa waktu lalu. Saat sampai Ferga langsung masuk dan menuju ke meja informasi untuk menanyakan seseorang yang terlihat asing di rumah sakit ini. Dari kecil Ferga jika sakit selalu berobat kerumah sakit ini sampai dia hapal semua perawatnya jika pun ada yang baru dia pasti mengenalnya karena sampai saat ini dia sering berkunjung ke rumah sakit selain pasien VIP dia adalh donator rumah sakit ini. Setahun yang lalu saat Zarra meninggal, Ferga melihat ada perawat yang mencurigakan namun dia baru menyadarinya sekarang. Mungkin saja perawat itu yang meracuni Zarra namun dia berpikir lain karena saat dia menuju basmen perawat itu seperti memasukkan sesuatu ke dalam truk dan pergi dengan terburu-buru.
“ Mohon maaf, apa anda mengenali perawat ini? Namanya Natei Karsana. “ ujar Ferga sambil menunjukkan foto perawat itu ke suster yang melayani di meja informasi.
Suster itu menyipitkan matanya mencoba untuk mengingat siapa pria ini, “ Oh ini perawat yang dokter menangani dalam bidang autopsy. Emm dan dia baru habis kontrak 6 bulan yang lalu pak Ferga. Maaf pak sebelumnya apa ada masalah? “
“ Ah begitu ya? Jadi dia benaran bekerja disini? “ tanya Ferga merasa masih tidak yakin.
“ Benar pak, dia adalah perawat terbaik kami disini dalam bidang autopsi dia bisa menemukan sesuatu yang aneh yang bahkan bisa mengalahkan dokternya. Sebenarnya dia sempat ditawari menjadi dokter bahkan sertifikat kuliahnya dari fakultas ke dokter dan lulus praktek tetapi entah kenapa dia malah memilih menjadi perawat. “ ujar suster itu.
Ferga mengerutkan kening dan melihat resume perawat pria itu, memang benar perawat itu lulusan terbaik dari fakultas kedokteran di Universitas Yarsi. Dia memiliki nilai tertinggi bahkan tanpa melalui tes perawat ini bisa menjadi dokter langsung. Tapi entah kenapa dia hanya memilih menjadi perawat saja, namun saat suster itu bilang perawat itu pernah gagal menyelamatkan pasiennya dan memilih menjadi perawat saja kecurigaannya sedikit berkurang.
“ Terimakasih suster, silahkan kembali bekerja. Maaf saya mengganggu waktu anda. “ kata Ferga lalu berjalan keluar menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Ferga pergi, suster itu langsung mengambil hpnya dan menelpon seseorang dan orang itu pun langsung mengangkatnya.
“ Halo pak, tadi ada seseorang yang mencari bapak dan menanyakan semua tentang bapak. “ kata suster itu.
“ Siapa dia dan apa yang kamu katakan padanya? “ tanya pria yang dibalik telpon itu.
“ Dia adalah Ferga Genio donatour di rumah sakit kami,Saya mengatakan seperti apa yang bapak perintahkan. “ ujar Suster itu.
“ Bagus, jika dia datang lagi tolong beritahu saya. “ kata pria itu lalu menutup telponnya. Pria itu menyenderkan badannya di kursi kerjanya dan memutar-mutarkan kursinya. “ Ferga, aku tau kau memang orang yang pintar namun aku akan muncul jika rencana kami sudah berhasil. “
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Ferga mencoba berpikir kembali tentang info yang dia tau dari suster itu, entah mengapa di hatinya masih ada yang mengganjal dan malah pikirannya seperti menentang apa yang dijelaskan suster itu. Raut wajah suster itu tadi saat menjelaskan tentang perawat itu, seperti sedang menghapal sebuah pidato dengan kata lain ada yang menyuruhnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
“ Aku masih tidak percaya dengan apa yang suster itu katakan, cari tahulah tentang perawat ini diam-diam. “ perintah Ferga terhadap asisten yang duduk di kursi kemudi.
Asisten Ferga mengambil foto dari tangan Ferga dan mengangguk, “ Baik bos akan secepatnya saya dapatkan info tentang dia. “ jawab asisten Ferga.
“ Baiklah, antar kan aku ke restoran Kean. “ ujar Ferga sambil memakai kacamata hitamnya.
Kean sedang mengarahkan kokinya dalam membuat menu baru di restorannya karena permintaan beberapa konsumen. Kean memastikan agar tidak ada kesalahan di makanan yang mereka buat dan semoga para pelangggan puas dan menyukai menu baru mereka. Kean mencicipi yang sedang dimasak oleh koki setelah rasanya pas dia meminta koki untuk melanjutkannya. Tiba-tiba ponsel Kean berdering dan Kean keluar dari dapur untuk mengangkat telpon. Saat baru saja dia akan mengangkatnya telpon itu sudah mati, melihat ID caller dari Ferga dia tahu Ferga pasti akan kesini. Dan saat dia kembali masuk ternyata Ferga sudah duduk menunggu disitu, Ferga pun melambaikan tangannya dan Kean langsung menghampirinya.
“ Sepertinya kau sedang tidak fokus ya saat kau keluar kau tidak menyadari akua da disini. “ kata Ferga sambil menyeruput jusnya.
“ Hari ini aku sangat sibuk mengarahkan para kokiku untuk menu baru di restoran kami. “ jawab Kean yang sedang meminta pelayan untuk membawakan minuman untuknya.
“ Waw mantap, apakah kau tidak bisa berikan kepadaku secara gratis? “ tanya Ferga yang berharap-harap.
Kean melempar kotak tisu ke arah Ferga namun Ferga langsung menghindar dan menggelengkan kepala menatap Kean, “ Ckckck kau sama saja seperti Chris hobi melempar barang. Tidak bisa kah kau melempar barang mahal kepada ku? “
“ Cih kau kan orang kaya, bahkan kau lebih kaya dariku tetapi selalu meminta traktir padaku. Dasar medit. “ kata Kean dengan senyum miringnya.
“ Hahahaha bukan medit, tapi aku hanya malas mengeluarkan uang. Selama bisa dibayarin orang lain kenapa tidak ya kan? “ balas Ferga
“ Ck kau ii. Oh iya bagaimana tentang perawat itu? Apa kau sudah menemukan info tentangnya? “ tanya Kean.
Ferga menggarut keningnya dan mengusapnya serta menghela nafas pelan, “ Perawat yang kita curigai dia memang bekerja disitu, tapi yang anehnya dia adalah lulusan terbaik dan bisa menjadi dokter tetapi dia malah lebih memilih menjadi perawat daripada dokter. Suster disitu bilang itu karena trauma tapi aku masih tidak percaya. “
“ Jika kau bilang tadi dia adalah lulusan terbaik memang agak mencurigakan jika dia lebih memilih menjadi perawat di banding dokter. Namun kalau sudah mendengar kata trauma itu juga bisa jadi alasannya kenapa dia menolak menjadi dokter. “ ujar Kean sambil menganggukkan kepalanya dan menatap Ferga.
“ Jadi kau percaya? “ tanya Ferga.
“ Tidak. “ jawab Kean singkat.
“ Lalu kenapa kau menjawab seperti itu tadi? “ tanya Ferga lagi yang tampak bingung terhadap Kean yan plin plan.
“ Sejujurnya aku bingung kemana aku harus mencari info tentang perawat ini. “ ujar Ferga yang menumpangkan wajahnya di tangan sebelah kanan.
“ Kenapa kau tidak menemui direktur di rumah sakit itu? Minta lah bantuan untuk mencari tahu siapa perawat itu sebenarnya. “ kata Kean sambil menusuk kan buah dengan tusuk gigi dan memakannya.
“ Ide yang brilian. Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana ya? Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. “ ujar Ferga dan berdiri lalu masuk ke dalam mobil dan pergi.
“ Ck dasar orang itu, kenapa sekarang kau menjadi lemot. “ kata Kean menatap kepergian Ferga lalu kembali ke dapur untuk memeriksa masakan kokinya.
Jodes seharian hanya di kamarnya saja sambil menonton video liburan mereka yang ada Zarra. Dia menonton itu secara berulang-ulang, sama seperti Chris yang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Zarra. Sungguh Jodes masih tidak menyangka bahwa Zarra sudah meninggal, dan dia merasa gagal menjadi teman karena tidak bisa melindungi temannya sendiri. Jodes juga ikut mencari keberadaan Sinthya, sama seperti Ferga dan Chris yang ingin membalas semua kejahatan wanita itu. Seperti biasa dengan di bantu oleh Xaven namun entah kenapa mereka susah menemukannya. Jodes mencoba berpikir sejenak dan tiba-tiba dia terpikir kenapa tidak bisa menemukan Sinthya. Jodes mengambil ponselnya dan menelpon Xaven segera, namun tidak terangkat karena saat itu Xaven sedang meeting.
Jodes pun mencoba menelpon Ragan namun tidak diangkat juga, ingin menelpon Chris namun dia tau pria itu juga masih bersedih karena kematian pacarnya. Sampai akhirnya Jodes pun menghubungi Ferga, dan dia sangat senang saat Ferga mengangkatnya.
“ Halo Des, ada apa? “ tanya Ferga langsung.
“ Kak Ferga ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Bisakah kita bertemu di cafe biasa? “ kata Jodes.
“ Baiklah kalau begitu, kita akan bertemu disana. “ jawab Ferga dan meminta supirnya mengantarkan di ke tempat biasa dia bertemu dengan Ragan dan Jodes.
Jodes langsung bersiap-siap untuk pergi, dia mengambil jaketnya dan pamit kepada orangtuanya untuk bertemu dengan seorang teman. Jodes masuk ke mobil dan buru-buru menyetir. Saat sampai dia langsung masuk dan menuju ke meja yang sudah ada Ferga ternyata menunggu.
“ Maaf kak, aku lama ya? “ kata Jodes dengan nafas terengah-engah.
“ No problem, aku juga baru sampai. Duduklah dan pesan minuman dulu. “ kata Ferga dan menjetikkan jarinya memanggil pelayan.
Jodes pun langsung memesan minuman, dan pas sudah datang dia langsung meneguknya, “ Kak Ferga sepertinya aku tau kenapa kita tidak bisa menemukan Sinthya. “
“ Kenapa? Beri tahu alasannya. “ ujar Ferga yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan Jodes sampaikan.
“ Menurutku dia bisa saja operasi plastic dan mengganti identitasnya sekarang karena itu kita tidak bisa menemukannya. Dan lokasi terakhir adalah di Pelabuhan gelap yang sudah kita datangi, dan bisa saja dia masih di negara ini dan soal lokasi terakhir bisa saja dia hanya mengelabui kita. “
“ Astaga, kenapa aku sangat lemot dan baru memikirkannya sekarang ckck. “ ucap Ferga sambil mengusap kepalanya dan menggaruknya karena dia merasa sangat lelet soal ini.
“ Kita sama kak, bukan kau saja. Hhhh dasar si perempuan licik itu ternyata dia lebih pintar dari kita. “ ujar Jodes.
“ Lalu bagaimana cara kita mencari dia? Jika benar katamu dia melakukan oplas pasti akan sulit mencarinya. “ ujar Ferga sambil mencoba memikirkan suatu cara.
“ Emm gimana kita cari rumah sakit dimana dia melakukan oplas, di rumah sakit terbaik di Jakarta ya kita mulai dari situ. “ jawab Jodes dengan tersenyum dan penuh harap semoga disitu mereka bisa menemukannya.
“ Kau sungguh pintar Jodes, sama seperti Kean. sepertinya kalian berjodoh. “ ujar Ferga tanpa sengaja mengingat Kean juga tadi memberikan ide yang brilian.
“ Kenapa jadi nyambung ke jodoh? “ kata Jodes sambil mengerutkan keningnya.
“ Ya kan bisa saja, toh kau jomblo si kutu kupret itu juga jomblo. Kenapa kalian tidak coba pdkt saja mana tau kan jadian. “ ujar Ferga asal dan mendapat toyoran dari Jodes tepat di keningnya.
“ Ck, pdkt itu disaat kedua pihak memang sama-sama suka, mana bisa seperti yang kau katakana kak. Inilah kau yang sudah menjomblo sejak lama, tidak mengerti soal cinta. Ckckck aku merasa kasihan terhadap dirimu kak Ferga. “ ujar Jodes sambil menggelengkan kepalanya dan berpura-pura berwajah prihatin.
“ Kau mengejekku? “ kata Ferga yang sekarang sedang berdiri dan berkacak pinggang.
“ Tidak, hanya mengatai. “ jawab Jodes lalu langsung berlari keluar dan masuk ke mobilnya, sedangkan Ferga masih melongo karena Jodes secepat itu berlari.
Ferga menghembuskan nafas kasar dengan tatapan tidak menyangka melihat Jodes yang melesat begitu cepat, “ Apa mungkin dia siluman vampir ya? “
Jodes tertawa puas di mobilnya karena hari ini dia bisa meledek Ferga. Seandainya ada Ragan pasti bakal tambah seru apalagi pasti Ragan membantunya membully Ferga. Jodes mengambil hpnya dan menelpon Xaven, karena sudah menemukan titik terang mencari keberadaan Sinthya. Xaven pun langsung melaksanakan dengan apa yang dikatakan Jodes barusan dan mencoba memeriksa cctv di pelabihan gelap itu. Jika disitu titik terakhirnya, pasti ada jalan lain yang mereka tidak ketahui mungkin lewat situlah Sinthya kabur dan menuju kerumah sakit tempat dia melakukan oplas. Xaven agak tidak yakin jika Sinthya melakukannya di rumah sakit terbaik di Jakarta, maka Xaven mencari dokter-dokter yang sudah pension bisa saja Sinthya membayar mereka untuk melakukan oplas.
Saat Xaven melihat Sinthya di kamera cctv dia lewat jalan lain, Xaven merasa puas dan melihat mobil yang di kenal oleh nya yaitu adalah mobil Aldi yang dipakai oleh anak buahnya Aldi. “ Oh jadi di luar kalian masih bekerja sama. Baiklah Aldi akan ku buat kalian semakin mendekam di penjara. “ ujar Xaven sinis.