
"kalau begitu, setelah jam kerja mu selesai, datanglah kepada ku" Mizumi menunjuk ke arah Iris.
"Kepada Nona?, Dimana?" Iris masih saja bingung, ia bahkan tidak mengerti apa yang di maksud Mizumi dengan "berhubungan".
"Kediaman keluarga Febergland, di tunggu ya, ingat! dandan yang cantik, tampilah apa adanya" perintah Mizumi.
"Baik Nona" sahut Iris segera.
Setelah selesai berbicara, Mizumi segera menghampiri Edward yang terlihat bosan.
"Kakak ayo pulang" Mizumi memegang pundak Edward.
"Kau tidak pesan minum? Bukankah ini cafe?"
"Tidak" (tersenyum manis)
Edward memandang Mizumi beberapa detik, kemudian menghela nafas.
Ia tidak paham kenapa Mizumi bertingkah aneh, memasang wajah manis, dan datang ke cafe tanpa memesan minum.
Ada ada saja anak ini, entah apa yang ia rencanakan kali ini...
~@~
Setelah menginjakan kakinya kembali ke kediaman Febergland.
Mizumi tetap berada di depan gerbang, ia seperti pengawal sekarang.
"Aneh" Tukas Edward di dalam hati, kemudian bersikap tidak peduli.
Lihat saja kakak, aku akan membuat mu menyukai iris.
~@~
Matahari sebentar lagi akan menghilang, Mizumi masih saja berjaga di depan pintu gerbang.
Ia menunggu Iris datang menemuinya, penantiannya berbuah manis.
Dari kejauhan, Mizumi melihat iris yang sudah merias diri, gaun yang sederhana, rambut tersisir rapih dengan jepit rambut berbentuk bunga di sisi kanan kepalanya.
Rias wajah yang sederhana menambah kesan bahwa Iris bukanlah gadis yang serakah.
"Iris!!" Ucap Mizumi menyapa, ia melambai sambil melompat girang.
"Huff..saya sampai Nona, maaf terlambat, tarif taksi naik, jadi saya memilih untuk berlari"
Iris memegang lututnya, nafasnya tersengal.
"Atur pernafasan mu, jangan sampai gugup!"
"Baiklah Nona"
"Jangan memanggilku Nona!, Panggil saja Erisa, anggap kita sudah berteman lama ok!"
Lagi lagi Iris menjawab setiap kata yang di ucapkan Mizumi dengan kalimat "Baiklah Nona".
Anak ini memang susah di beri tau (tersenyum canggung).
~@~
"Siapa dia?" Ucap Mama Mizumi, ia memandang Iris dengan jeli, dari penampilan bawah hingga atas.
"Dia teman ku ma, kami sudah berteman lama, dia akan makan malam disini" Mizumi mencoba membuat Mamanya menyetujui keberadaan Iris.
"Boleh, silahkan masuk"
Begitulah Mama Mizumi, sikapnya ramah, baik hati, di tambah lagi ia adalah orang yang penyayang dan lemah lembut.
Bagus! Mama tidak marah
Keduanya menuju kamar Mizumi.
"Nyonya besar sangat baik sekali" Iris memuji.
"Hehe...tentu saja, seperti anak nya bukan" (meringis)
Sambil tertawa kecil, Iris dengan anggun menganggukan kepalanya.
"Iya, seperti Nona, sebagian besar"
"Apa maksudmu sebagian besar, aku memang mirip mama ku, kami juga sama sama cantik, tapi.....masih cantikan aku" sungut Mizumi sembari bercanda.
"Iya Nona.."
Tidak sempat 5 detik, keduanya menjadi serius, Iris yang masih gugup menyimak apa yang di arahkan Mizumi dengan baik.
"Seperti yang kita tau, Mama bersikap baik, namun, berbeda dengan papa!, Sikap papa sangat tegas dan keputusan yang dia ambil tidak akan pernah di ubahnya"
"Jadi jika bertemu dengan papa di makan malam ini, kau harus bersikap sopan, tunjukan tata krama yang baik, papa akan menyukai itu"
Mizumi mengangkat tangan kanannya setinggi pundak. "Tos dulu!" Ucapnya dengan ekspresi semangat.
Iris menuruti perintah Mizumi.
"Semoga berhasil" keduanya kompak.
~@~
Tiba waktunya makan malam, Iris duduk perlahan layaknya seorang bangsawan.
Ia makan dengan pelan, dan minum seperti bangsawan.
Bagus iris! (Puji Mizumi didalam hati sambil cengengesan).
"Nak, kau nampak sangat bahagia, kenapa tidak mengenalkan papa, kepada teman mu ini?"
Mendengar komentar papanya, Mizumi tersedak dan memukul meja.
Edward yang duduk di samping Mizumi kaget akan tingkah Mizumi dan ikut tersedak.
Buset ni anak (Gerutu Edward)
"Mohon maaf menyela, sebelumnya perkenalkan nama saya Iris, teman baik Nona Erisa, Berkerja sebagai pelayan Cafe di pinggiran kota"
Mendengar Iris yang mengakui identitasnya, Mizumi yang tersedak semakin tersedak, ia bahkan sampai mengeluarkan air mata.
Berbeda dengan papanya, jawaban Iris membuat Papa Mizumi menatap dingin ke arah nya.
Iris meyakini di dalam hati, jujur adalah hal terbaik untuk memperoleh kepercayaan. Maka dari itu ia tidak segan mengakui identitasnya.
"Erisa bukankah kamu tau tidak sembarang orang yang boleh masuk ke kediaman kita, kenapa kau mengajak semut kemari"
"Papa jangan berkata seperti itu, dia adalah teman putri kita, tamu kita" Mama Mizumi memegang tangan suaminya, mencoba membuat nya tidak merendahkan orang lain.
"Teman?? Sampah!! Aku pergi, tiba tiba saja nafsu makan ku hilang"
Papa Mizumi meninggal ruang makan dengan emosinya.
Seisi ruangan menatap kepergian Papa Mizumi dari ruang makan, termasuk Mizumi yang batuk sedari tadi.
Mizumi mengangkat tangannya, seolah ia ingin meraih jas yang papanya kenakan, namun tidak sampai.
Papa...tunggu aku selesai keselek.
Baru biarkan aku bicara...
To be continue....