
Iris menyodorkan segelas minuman pada Mizumi, ia menunduk.
"Terimakasih..."
Mizumi merasa lega, ia menatap ke arah Iris yang menunduk kaku di samping nya.
Iris menangis, air matanya menetes membasahi gaunnya.
"Hei, jangan menangis, aku...aku akan bicara pada papa" bisik Mizumi.
"Tidak usah Nona, saya sadar derajat saya" jawab Iris segera.
Iris bangkit dari tempat duduknya kemudian berlari keluar."Iris!! Tunggu!" Mizumi mengejarnya.
"Biarkan aku yang mengejarnya" sela Edward menghentikan langkah Mizumi.
"Baiklah"
Perasaan khawatir dan bahagia bercampur aduk, Mizumi tidak tau apakah ia harus khawatir karena iris menangis, ataukah harus bahagia karena Edward telah mengejar Iris.
Apa ini, perasaan ini tidak enak...
~@~
Drap drap drap
Langkah kaki keduanya seakan berirama.
"Woi cewek tunggu!" Kata Edward sambil berlari.
Jangan kejar aku...aku malu...(iris berkata di dalam hati).
Setelah bermain kejar kejaran, akhirnya Edward bisa membuat Iris berhenti berlari.
"Kenapa lari? Apa aku menakutkan?" Tanya Edward dengan wajah dingin. Iris menanggapinya dengan menggeleng pelan.
"Ini" Edward memberi sapu tangannya untuk Iris. "Aku tidak suka melihat cewek nangis, jadi husap air mata mu".
"Saya tidak butuh di kasihani, saya akan bangkit sendiri tanpa dorongan dari siapapun" tekad Iris.
"Aku tidak mengasihanimu, aku hanya tidak suka jika kau menangis, maksudku...jika cewek menangis"
Edward mengulangi kalimatnya, kali ini Iris menerima sapu tangan itu, kemudian mengusapkan ke wajahnya.
"Sa-saya permisi pulang"
Iris melewati Edward.
Dasar belagu, udah di tolongin, terimakasih kek!
Edward mulai menggerutu di dalam hati.
Tak di sangka Iris berhenti melangkah kemudian melihat ke belakang, ke arah Edward berdiri pada saat itu.
"Terimakasih" Ucapnya, kemudian tersenyum pahit.
Edward membalas senyuman itu dengan tipis. Entah mengapa tiba tiba angin bertiup, membuat rambut pendek Iris tertiup dan menutupi sebagian wajahnya.
Cantik...
~@~
"Bagaimana kak!" Mizumi langsung bertanya ketika melihat Edward memasuki ruang tamu.
"Apa ada yang terjadi, apa dia masih menangis, apa ada adegan romantis kak"
Mizumi mengepalkan tangannya di dada, ia menatap Edward dengan bersinar. Edward membalas nya dengan ekspresi datar.
Apa yang adik bodoh ini mau...ada ada saja tingkahnya..
"Kak jawab aku!" Mizumi terdengar memaksa.
"Tidak ada, sudahlah aku lelah"
Jawaban Edward membuat Mizumi tidak yakin, apa benar tidak terjadi apa² di luar sana.
Ataukah memang sengaja menyembunyikannya dari ku, tapi wajah kakak yang seperti itu, membuat ku tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa tidak terjadi apa².
Brukk
Mizumi menjatuhkan dirinya di kasur yang empuk. Ia menatap langit langit rumahnya.
"Aih~ sudahlah, tidak apa..., Masih banyak kesempatan untuk kita Iris, kau baik² lah disana, aku tidak bisa menjengukmu besok"
Pikiran Mizumi beralih begitu cepat, kini ia memikirkan rencana untuk pergi ke perpustakaan negara besok. Ia terus menanti pesan dari Alexander ataupun Cristo.
Selang beberapa menit, sebuah notifikasi masuk, dengan cepat Mizumi membuka ponselnya.
Informasi baru "Sayang, maaf..aku tidak bisa menemanimu besok, tapi jika ada kesempatan lain, aku yang akan menemanimu"
Walaupun kecewa, Mizumi tidak terlalu merasa sedih, ia segera membalas pesan Cristo.
"Ya tidak apa, semangat [emoj love]
Keputusan sudah bulat.., bisa di pastikan aku akan pergi dengan Al besok~
Ah~ apa ini, kenapa aku merasa senang?
Mizumi segera duduk dan menepuk pipinya.
"Tidak tidak, aku tidak boleh senang jika pergi bersamanya, pria mesum itu, bisa mengingkari janjinya"
~@~
Keesokan harinya....
Pagi yang cerah, awan terlihat seperti kabut tipis dan ombak di laut.
Sinar matahari yang hangat mengenai wajah Mizumi, putri cantik yang tidur dengan pulas.
Mizumi mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian menguap dan meregangkan tubuhnya.
"Nona sudah bangun??" Ucap pelayan yang berdiri di depan pintu Mizumi."Sudah" Sahutnya segera.
"Cepat turun Nona, Tuan besar menunggu anda di bawah, ia ingin membicarakan sesuatu"
Mizumi membisu, ia tau apa yang ingin papanya bicarakan, mengingat tentang kejadian tadi malam.
Begitu tidak terimanya kah Papa Mizumi dengan orang yang martabatnya di bawah keluarganya. Begitu benci kah hingga harus membicarakan ini lagi.
Aku akan segera turun...
To be continue.....