
Alicia yang baru saja selesai meeting langsung menuju kantornya karena ada Denial dan Dero yang sudah menunggu nya sejak tadi. Ya, Denial dan Dero memang sering berkunjung ke perusahaan Akicia, dan kebetulan mereka orang yang bebas belum bekerja karena keinginan mereka yang masih ingin bermain-main. Sebenarnya Denial sudah beberapa kali disuruh oleh ibunya untuk memimpin perusahaan, tapi Denial yang masih sedikit degil jadi dia meminta waktu untuk menghabiskan sisa waktunya sebelum memimpin ke perusahaan. Untuk sekarang ibunya dulu sejak ayahnya Denial meninggal dan adiknya yang baru saja kuliah.
Yang tadi suasana di ruangan Alicia hening karena Denisl dan Dero sibuk memainkan game di ponsel mereka masing-masing, saat Alicia masuk mereka menatap Alicia bersamaan dan tersenyum. Terutama Dero yang melihat Alicia memakai pakaian kantor berwarna pink muda membuat tampilan Alicia seperti wanita yang imut dan manis. Dero terpana menatap kecantikan Alicia, hari ini Alica begitu cantik dari biasanya. Denial yang melihat Dero bengong menatap Alicia dia pun menyikut siku Dero, dan Dero pun tersadar langsung berpura-pura bermain ponsel lagi sedangkan Denial terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat temannya ini.
“ Kalian udah lama disini? “ tanya Alicia lalu duduk bergabung bersama Denial dan Dero.
“ Emm baru beberapa menit. “ jawab Denial sambil melirik jamnya.
“ Sorry ya tadi gue meeting dulu sama klien gue yang dari luar negeri dan kali ini gak bisa dibatalin. “ Alicia mengambil air putih di meja dan meminumnya.
“ Santai aja kali Al, udah keks ama orang lain aja. “ jawab Denial sambil terkekeh, karena melihat Dero yang diam saja daritadi, Denial pun menyenggol bahunya Dero. “ Woy, diam aja lo daritadi. Awas kesambet. “
“ Ehm, lo gak liat gue lagi fokus push rank? “ Dero sebenarnya masih gugup apalagi Alicia duduk didepannya dan makin membuatnya makin gugup.
“ Udahan dulu dong pushnya, gue kan udah disini. “ ucap Alicia sambil menyenderkan badannya di sofa.
“ Au nih ya Der. Mending kita cerita-cerita aja. “ ujar Denial yang langsungn menyambar hp Dero lalu memasukkan ke dalam sakunya.
Alicia hanya tersenyum menatap kedua temannya ini, mereka lah yang selalu menemani hari-harinya, sedangkan Zarra orang yang sangat sibuk jadi Alicia pun memahaminya karena dia sama seperti Zarra.
“ Gue pengen hangout lagi deh, tapi rame-rame bareng Jodes, Lingga, dan Morphine juga Zarra.“ Alicia memangku dagunya dengan tangan kanannya.
“ Me too. Tapi mereka akhir-akhir ini sibuk banget. Apalagi Lingga lagi fokus untuk persiapan konser perdananya. “ ujar Dero mengingat Lingga yang sebenarnya dari jaman mereka kuliah sangat jago dalam bermain gitar dan sekarang dikontrak di sebuah band yang sebentar lagi akan mengadakan konser.
“ Oh iya, ngemeng-ngemeng soal konser Lingga tadi dia kasih ini kedua pas gak sengaja lewat tempat latihannya. “ Denial mengeluarkan tiket konser yang diberikan oleh Lingga, lalu memberikannya ke Alicia dan Dero. Alicia dan Dero pun langsung mengambilnya.
“ Asik dapat tiket gratis nih. “ Alicia sangat senang mendapat tiket konser apalagi langsung dari Lingga, dia pun melambaikan tiketnya dengan senang.
“ Elah, orang kaya kok gratisan. “ cibir Dero dengan bercanda.
“ Yeu biarin wleekk. “ jawab Alicia lalu memeletkan lidahnya ke arah Dero, Dero pun langsung mencubit gemas hidung Alicia namun Alicia menahan dan mendorong Dero sampai tersender di sofa dengan wajah yang sangat dekat. Begitu berdebarnya wajah Alicia yang sangat dekat saat menatap wajah Dero dan dia baru sadar bahwa Dero itu tampan.
Denial hanya ngeliatin mereka dan melipat bibirnya karena ada kejadian uwu di depannya ( oh nasib jomblo memang malang sekali ☹) Denial pun pura-pura batuk memecah keheningan di ruangan itu. Alicia pun langsung melepaskant tangan Dero dan berpura-pura merapikan kemejanya yang tidak kusut itu, sementara Dero langsung membenarkan duduknya.
“ Kayaknya bentar lagi ada yang jadian nih. “ Denial menumpangkan kepalanya di tangan kirinya sambil menatap Dero dan Alicia secara bergantian.
“ Siapa yang jadian? “ jawab Dero dan Alicia bersamaan.
“ Ya lo berdua lah. “ jawab Denial lalu mendapat tatapan tajam dari Dero dan Denial, “ Mang gue salah ya ngomong gitu? “ Denial menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, sedangkan Dero dan Alicia menyambar Denial dengan mencubiti dan menggelitikkannya. Sungguh rusuh suasana di kantor itu, membuat kantor yang biasanya hening jadi berisik setiap harinya karena kelakuan tiga sekawan itu.
Para pekerja dan sekretaris Alicia yang mendengar kegaduhan dari kantor bosnya hanya menatap heran, kalo biasanya hanya biasa aja gaduhnya kali ini sampai mendengar teriak-teriakan entah apa kali ini yang terjadi dikantor.
Ya, Dero yang sedang menahan leher Denial sedangkan Alicia yang sudah siap dengan buku untuk memukul Denial. Tanpa sengaja pun Dero kena karena Denial langsung menghindar. Dero pun langsung menghampiri Alicia dan Alicia pun langsung kabur keluar kantor.
Gubrak!! Sekretaris dan seorang pekerja yang lain saat sedang membahas pekerjaan mereka terkejut karena suara pintu terbuka dan terhentak keras oleh Alicia. Mereka hanya menggelengkan kepala saja melihat dua orang yang sedang berkejar-kejaran, sedangkan Denial keluar dari ruangan itu dengan rambut yang berantakan tetapi tidak menghilangkan ketampanan.
“ Kenapa kalian melihatku seperti itu? “ tanya Denial sambil merapikan rambutnya. “ Ah kalian heran apa yang terjadi kan? Aku habis di perkaos oleh kedua orang itu. Kalian pasti tau singkatannya.
sekretaris dan pekerja yang lainnya hanya tertawa mendengar apa yang disampaikan oleh Denial. Denial pun pergi ingin menghampiri Alicia dan Dero yang entah sedang berkejar-kejaran dimana. “ Cih dua orang itu selalu kompak kalo ingin menghajarku. “
“ Ampun Der, gue udah capek. “ Alicia berhenti dan melambaikan tangannya tanda sudah menyerah dan mengambil nafas sejenak.
dan Dero dengan penuh senyum kemenangan langsung menghampiri Alicia yang membuat Alicia terkejut dan hamper jatuh namun Dero menarik tangannya Alicia sampai Alicia berada didekapan Dero. Deg-deg deg-deg, hati Alicia kembali berdebar menatap wajah tampannya Dero, begitu juga Dero yang berdebar melihat wajah mulusnya Alicia.
Membuatnya menyukai wanita yang bawel ini yang biasanya selalu iya bully. Cukup lama mereka saling bertatapan samapi datanglah Denial yang melihat mereka berdua saling bertatapan dan bertepuk tangan.
“ Wow amazing. Adegan romantis apa ini. “ ucap Denial yang tidak menyangka bahwa dia akan melihat kejadian uwu lagi. Kasian deh Denial bentar lagi jadi sadboy 😬
Alicia mendorong tubuh Dero menjauh darinya dan merapikan rambutnya, “ Apaan sih Den. Tadi itu gue hampir jatuh tau. “
“ Tau nih si kutil anoa. Gangguin aja. “ Dero tidak sengaja ceplos membuat Alicia melotot sedangkan Denial langsung tertawa.
“ Haahaha, gue ganggu? Okedeh kalo gitu gue pergi lagi, bye. “ Denial lalu beranjak pergi namun tangannya ditarik oleh Alicia.
“Eh jangan dong. Mending kita nongkrong ke cafe yuk. “ ajak Alicia lalu merangkul kedua lengan Dero dan Denial.
Mereka bertiga pun masuk kedalam cafe itu dan mulai memesan minuman. Sejenak ada keheningan apalagi Dero dan Alicia yang masih canggung membaut Denial gemas terhadap mereka berdua. Denial pun menendang pelan kaki Dero lalu menunjuk ke arah Alicia dengan matanya. Dero tau maksud Denial untuk mengajak Alicia berbicara dan pdkt maybe? Namun Dero tidak tahu ingin bicara apa.
Minuman mereka pun datang, Alicia langsung menyesap kopina sambil memandang ke arah luar.
untuk membiarkan mereka saling berdekatan Denial pun berdiri dan beranjak pergi dengan beralasan ingin memberi tiket konser Lingga ke Zarra. Dan Denial pun pergi, sebelumnya Denial mengambil ponsel dan mengabari Zarra dia akan kekantornya.
To Zarra:
Zarr, gue ke kantor lo ya? Ada yang mau gue kasih.
From Zarra:
Oke gue tunggu Den.
Denial pun langsung menyetop taksi dan langsung masuk karena tadi dia pergi kekantor Alicia naik mobil Dero. Agar tidak bosan Denial mengambil headset dan memutar musik di hpnya, mendengar lagu kesukaannya yang sesuai dengan suasana hatinya.
Saat sampai di Naleri Corporation Denial langsung masuk menghampiri recepsionis dan bilang ingin bertemu Zarra dan sudah mengadakan janjinya, resepsionis langsung mempersilakannya karena dia juga sudah tahu teman-temannya Zarra dan Zarra sudah berpesan siapapun temannya langsung mengijinkan mereka masuk. Dero pun langsung naik ke lift dan menekan angka 31 menuju ke ruangannya Zarra. Denial keluar dari lift langsung menuju ruangan Zarra dengan sopan Denial mengetuk pintu dan Zarra langsung menyuruhnya masuk.
“ Hai Den, apa kabar?” sapa Zarra dengan ramah yang sedang bersama Tian dan Nina, sepertinya sedang membahas sesuatu.
“ Gue baik Zarr. how about you? “ balas Denial dengan senyuman.
“ Nothing bad. Oh iya btw ada apa Den? “ tanya Zarra dan meminta Tian dan Nina meninggalkan mereka berdua.
Denial mengeluarkan tiket konser Lingga dan menyerahkannya ke Zarra, “ Ini buat lo sama Chris. Lingga bilang lo berdua wajib datang, jangan samapi engga. “
“ Wah akhirnya Lingga ngadain konser juga. Makasih ya Den. “ Zarra menatap Denial dan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum, membuat Denial berdebaar tetap Denial berusaha untuk tidak menghiraukannya karena dia ingin melupakan perasaannya terhadap Zarra.
“ Yop, you’re welcome. Kalo gitu gue pulang dulu ya, gue cuma mau nganter tiket itu aja. “ pamit Denial lalu di hampiri Zarra, Zarra mengantar Denial keluar dan ternyata Chris baru saja datang ingin bertemu dengan Zarra.
Chris menatap Zarra dan Denial dengan tatapan cemburu karena melihat Zarra tersenyum kepada Denial, Denial yang menyadari tatapan cemburu Chris pun hanya bersikap santai saja. “ Zarr, keknya gue harus buru-buru pergi. Lo gak usah antar gue, gue sendiri aja. Bye. “ Denial pun pergi dan menundukkan kepala terhadap Chris dengan senyum canggung.
Chris tidak membalas senyum Denial dan langsung menghampri Zarra dan Zarra pun menyambutnya dan mengajak Chris masuk ke dalam kantornya. Zarra meminta Tian untuk membawakan minuman ke ruangannya, dan Zarra pun memepersilakan Chris untuk duduk.
“ Kamu ada apa kesini? Kenapa gak ngabarin aku dulu. “ tanya Zarra sambil menggandeng kekasihnya itu.
“ Aku kangen kamu. “ ucap Chris dengan manja dan menyenderkan kepala di bahunya Zarra, membuat Zarra sangat gemas dengan kekasihnya ini.
“ Dasar ya kamu malah kebalik manja nya dari aku. “ gemas Zarra lalu mencubit lengan Chris.
“ Ini minumannya nona dan tuan. Silahkan di nikmati. “ Tian meletakkan minuman di meja lalu permisi pergi dari ruangan Zarra, dan Zarra membalas dengan mengangguk.
“ Denial ngapain tadi kesini? “ tanya Chris sambil menyesap kopinya.
“ Dia tadi nganterin tiket konsernya Lingga. Oh iya dan Lingga mewajibkan kita datang. “ Zarra mengambil tiket yang di berikan oleh Denial tadi dan menyodorkannya ke Chris lalu Chris mengambilnya.
“ Kita memang harus datang. Apalagi kalo bersama kamu aku selalu bisa. “ ucap Chris yang membuat Zarra berdebar dan malu-malu. Chris hanya terkekeh saja melihat keasihnya yang lucu saat sedang malu-malu. “ Oh iya, bagaimana persiapan acara untuk ulangtahun perusahaan kamu nanti? Jika kamu butuh bantuan aku akan membantumu. “
“ Semua sudah kelar sayang, kamu tidak perlu membantu. Cukup mendampingiku saja nanti. “ jawab Zarra sambil bergelayut manja menggandeng Chris.
“ Apa hari ini kamu tidak sibuk? Ada meeting lain gak. “ tanya Chris.
“ Memangnya kalo aku tidak sibuk, kenapa? “ tanya Zarra balik.
“ Aku ingin mengajakmu berjalan, aku juga hari ini sedang free sayang. “ jawab Chris dengan lembut.
Zarra langsung berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah, Chris pun menyambutnya dengan senang hati. “ Kalo begitu ayo, aku juga suntuk banget hari ini. “
Dan mereka pun pergi dari kantor dan berjalan-jalan. Mereka pergi ke taman sambil berkeliling disekitar taman itu, memandangi pohon-pohon yang rindang dan bunga-bunga yang indah. Saat melihat remaja yang sedang duduk dan berpacaran, Zarra dan Chris menatapnya lalu saling berpandangan dengan senyum karena dulu mereka yang seperti dog and cat sekarang menjadi sepasang kekasih yang mesra.
Zarra meminta Chris untuk membeli eskrim agar dapat menyegarkannya, dan Chris pun membeli eskrim untuk mereka berdua. Sungguh senang rasanya hari ini bisa berjalan-jalan sambil menghilangkan suntuk dari pekerjaan berat mereka.
Sinthya yang sedang berada disekitar taman itu yang sedang mencari udara, tiba-tiba melihat Chris dn Zarra yang sedang berjalan berdua. Sinthya tersenyum sinis dan kali ini tidak mengganggu mereka karena dia dan Riana sudah punya rencana unutk memisahkan mereka berdua. “ Tunggu saja Zarra, tak lama lagi aku akan membuat Chris membencimu. “ gumam Sinthya dengan senyum jahatnya.