You Are My Life

You Are My Life
Chapter 37. 2 Years laters



Sudah dua tahun Zarra berada di paris,dan Zarra sangat puas akan kinerja sendiri karena perusahaannya yang makin sukses. Tidak lupa dia mengawasi perusahaannya yang berada di Jakarta, dia sangat salut kepada Tian dan Nina karena mereka dapat memimpin dengan baik.


Tidak sabar rasanya Zarra ingin cepat-cepat pulang ke indonesia untuk bertemu dengan keluarganya karena dia sangat merindukan mereka juga teman-temannya. Zarra sudah melihat berita tentang penangkapan Riana dan Sinthya yang menjadi buronan polisi dari Tian.


Ada rasa lega di hati Zarra karena orang yang selalu mengganggu keluarganya sekarang telah menanggung kejahatannya sendiri. Karena sudah waktunya makan siang, Zarra mengajak para pekerjanya makan bersama dan meminta Gino sekretarisnya untuk mereservasi meja.


“C'est tout pour tout votre travail acharné, merci d'avoir fait de votre mieux (Ini semua untuk semua kerja keras kalian, terimakasih sudah menunjukkan yang terbaik).” kata Zarra yang membuka bicara sebelum mereka memulai makan siangnya.


“Merci également à Mme Zarra de nous avoir bien guidé (Terimakasih juga untuk bu Zarra karena mengarahkan kami dengan baik). “ ucap Zaskia salah satu pekerjanya.


“ Bon alors commençons le déjeuner ( baiklah kalau begitu mari kita mulai makan siangnya). “ ajak Zarra, dan mereka pun memulai makan siangnya.


Zarra dan para pekerjanya pun makan siang bersama sambil bersendau gurau dan sesekali membicarakan pekerjaan mereka. Zarra sekarang berubah menjadi orang yang sangat ramah, bahkan sangat gampang akrab dengan orang baru sekarang.


Itu semua karena kejadian pahit yang dia alami selama ini, merubah dia menjadi orang yang harus kuat dan ceria. Apapun masalahnya Zarra sekarang berusaha menghadapinya dengan baik dan hanya menganggap masalah itu ujian lewat. Selesai makan siang, mereka semua kembali kekantor dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Zarra langsung masuk kedalam kantornya dan membuka laptopnya lanjut mengerjakan laporan yang sedang dia kerjakan tadi. Zarra mendapat telpon dari unknown number tetapi dia tidak mengangkatnya karena mungkin saja itu dari orang asing. Sejak diparis Zarra sering sekali mendapat telpon entah dari siapa itu. Gino mengetuk pintu karena ada tamu yang ingin bertemu dngannya, dan Zarra pun menyuruhnya untuk masuk.


“ Denial? Bagaimana bisa kau disini. “ ucap Zarra dan langsung berdiri menghampiri Denial.


“ Kebetulan aku ada perjalanan bisnis dan aku kebetulan di perusahaanmu jadi sekalian aku mampir saja. “ kata Denial sambil tersenyum menatap sahabat kesayangannya ini.


“ Duduklah, pasti kau lelah. “ Zarra mempersilakan Denial untuk duduk dan meminta Gino untuk membawakan minum.


“ Apa kabarmu Zarra dan bagaimana dengan perusahaanmu? Apakah lancar? “ tanya Denial sambil menyesap kopi yang diantarkan Gino tadi.


“ Aku baik, dan seperti yang lihat. Naleri Corporation selalu makin maju tidk pernah turun sekalipun. “ kata Zarra dengan sedikit menyombongkan kinerjanya.


Denial terkekeh mendengar nada bicara Zarra yang sombong, “ Wah sepertinya perusahaanku akan bersaing ketat dengan perusahaanmu. “


“ Hahahah, jadi kau berapa hari akan berada di paris? “ tanya Zarra dan mempersilakan Denial untuk minum.


“ Aku akan berada di paris selama seminggu, kebetulan juga aku ingin liburan. Sepertinya sangat menyenangkan di paris sampai kau tak pernah pulang. “ ujar Denial.


“ Kau benar bahkan aku sempat berpikir untuk mengganti kewarganegaraan. “ jawab Zarra sambil tertawa kecil.


Cukup lama Denial dan Zarra berbincang sampai sore, Denial pun pamit pulang karena dia harus mempersiapkan pertemuannya dengan kliennya besok. Denial pun masuk ke mobil dan menuju ke hotel yang sudah dipesannya. Denial pun langsung membersihkan dirinya dan merebahkan dirinya setelah itu. Denial langsung mengabari Ferga bahwa dia telah bertemu dengan Zarra dan mengatakan bahwa Zarra baik-baik saja bahkan sangat terlihat ceria.


Mendapat pesan dari Denial, Ferga merasa senang karena mendengar kabar sepupu iparnya itu baik-baik saja. Ferga meminta Denial untuk menemani Zarra selama dia berada di paris, karena walaupun Ferga sudah mengutus orang untuk menajaga Zarra namun dia tetap waspada karena Sinthya sangat licik, bisa saja dia berbuat sesuatu yang lain. Malam ini Ferga akan bertemu Sinthya di tempat yang sudah Ferga carikan sebagai tempat persembunyian Sinthya. Dia akan melancarkan aksinya mala mini dan mulai berangkat menuju tempat itu.


Sinthya pun bersiap-siap setelah mendengar kabar dari Dion bahwa dia telah mendapatkan tempat untuknya. Sinthya telah menyiapkan pistol, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mencurigakan kali ini. Dia berusaha agar tidak tertangkap sampai dia kembali menjalankan rencananya.


“ Aku pergi dulu Rin, terimakasih sudah mengijinkan ku menginap . “ kata Sinthya dan berterimakasih kepada Rini.


“ Sama-sama Sin. Sin, aku tidak tau apa masalahmu tapi menurutku sebaiknya kau menyerahlah dan menghadapinya, sampai kapan kau akan berlari? Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari dan membuat hidupmu terpuruk juga menderita. “ ujar Rini sambil menasehati temannya.


“ Tidak perlu kau menasehati aku, aku tahu apa yang harus aku lakukan. “ jawab Sinthya lalu dia keluar dari rumah itu. Sinthya berjalan keluar dari komplek itu dan memberhentikan taksi serta meminta mengantarnya ke alamat yang diberikannya. Supir taksi itu pun mengantarnya sampai ke perumahan yang cukup luas dan berada didekat pedesaan. “ Tempat ini cukup bagus dan jauh dari kota, aku rasa tidak aka nada yang bisa melacak keberadaanku. “ pikirnya.


“ Terimakasih Dion sudah mau membantuku dan mencarikanku tempat tinggal. “ kata Sinthya sambil meletakkan tas yang iya tenteng ke lantai.


“ Sudah kubilang tak perlu mengucapkan terimakasih, aku membantumu dengan tulus. “ ujar Dion aka Ferga sambil tersenyum.


“ Apa kau tidak sibuk? Kau sampai menyempatan bertemu denganku disini.” Tanya Sinthya sambil mengusap pundak Dion dengan genitnya.


“ Dasar wanita penggoda. “ gumamnya dalam hati. “ Hari ini aku free, makanya aku bisa kesini. “


Sinthya pun mulai mencium bibir Dion, Dion pun tidak menolaknya dan membalasnya. Sinthya memagut bibir Dion dengan penuh nafsu dan mengalungkan tangannya di leher Dion, sedangkan Dion memeluk pinggang Sinthya.


Lalu Sinthya mendorong Dion ketempat tidur dan menindih Dion, dia pun lanjut mencium bibir Dion dan ******* habis. Sinthya mendesah saat Dion mulai menciumi lehernya dan mulai membuka kancing kemeja Dion sedikit demi sedikit. Dion pun ikut membuka kaos Sinthya dan hanya tersisa pakaian dalam yang berada di tubuh Sinthya.


Saat Sinthya ingin membuka kancing celana Dion tangannya di tahan oleh Dion, dan merekapun menghentikan percintaan mereka. Sinthya yang merasa tubuhnya sudah sangat panas karena ingin melakukannya dengan Dion agar dia bisa mendapatkan Dion pun terpaksa berhenti karena mendapat tatapan datar dari Dion.


“ Maaf Sinthya, aku tidak bisa melakukannya lebih jauh, karena aku menghargaimu sebagai wanita. “ ujar Dion sambil mengancingkan kembali kemejanya.


“ Ah tidak apa-apa Dion, aku yang sudah lancang karena menciummu duluan. “ kata Sinthya yang juga sedang memakai kaosnya kembali.


“ Aku tadi membelikan makan untukmu, makanlah. Aku harus pergi sekarang, karena kalau tidak pulang sekarang aku akan sampai larut. “ ujar Dion dan pamit pulang Sinthya pun mengantarnya sampai ke depan rumah. Sinthya melambaikan tanganya ke arah Dion yang berada didalam mobil.


“ Dion, cepat atau lambat kau akan segera menjadi milikku. “ kata Sinthya dengan tersenyum licik.


Sinthya pun mulai memikirkan cara untuk mendapatkan seorang Dion Geinsta, dia tidak lagi memikirkan Chris karena menurutnya Dion lebih baik dari Chris. Sinthya mengambil ponselnya dan meminta orang suruhannya mencari tau tentang Dion secepatnya. Untuk sekarang Sinthya akan fokus ke Dion, dan untuk Zarrab isa dia pikirkan nanti saja.


Sinthya pun masuk dan membuka makanan yang dibawakan Dion tadi. Dia merasa senang karena Dion perhatian padanya. Tidak tau saja kalau sebenarnya itu adalah Ferga yang menyamar, dan Ferga hanya berpura-pura agar dapat menaklukkan Sinthya dan menangkapnya. Di mobil sambil mendengarkan music Ferga bersenandung karena akhirnya Sinthya sudah berada ditangannya tinggal tunggu tanggal mainnya.


“ Sinthya bersiaplah tak lama lagi nasibmu akan sama seperti Riana. “ gumam Ferga dalam hati.


Chris sudah mengetahui dimana keberadaan Sinthya skarang, sebenarnya Chris sempat marah ke Ferga karena kelalaian anak buahnya Ferga sampai kehilangan Sinthya. Namun saat mendengar kabar dari Ferga barusan Chris pun lega dan merasa tenang. Chris sudah memesan tiket ke paris untuk menemui Zarra. Dia sangat merindukan gadis itu, dan Chris pun tahu bahwa Denial berada disana karena tadi Denial mengirimkan foto Zarra kepadanya. Sungguh tentram hatinya saat menatap foto Zarra, ingin rasanya dia meraih Zarra dalam pelukannya kembali.


“ Tunggu aku Zarra, aku akan segera menemuimu sayang. Aku harap kau mau kembali padaku seperti dulu lagi. “ kata Chris dengan tersenyum sambil menatapi fotonya Zarra yang berada diponsel.


Tak lama Nela memanggil Chris untuk makan malam bersama, Nela telah mengundang keluarga Wagner untuk bergabung dengan makan malam mereka. Chris pun langsung menyambut hangat Edison, Marry serta Devan. Ares pun mempersilakan untuk keluarga Wagner duduk dan mereka memulai makan malamnya. Mereka mulai membicarakan untuk menyatukan Zarra dan Chris kembali. Chris pun sangat senang karena orangtuanya Zarra mengijinkan dia dan Zarra untuk saling berhubungan.


“ Zarra memang masih mencintaimu Chris, kalaupun tidak pasti dia sudah menerima Kea kembali. “ ujar Edison.


“ Sepertinya saya harus berterimakasih kepada Kean om, karena dia telah menjaga Zarra selama saya tidak ada disisi Zarra. “ kata Chris dengan lembut.


“ Aku, mama dan papa akan mendukungmu bro. raihlah dia kembali dalam pelukanmu, dan jangan membuatnya menangis lagi atau kali ini aku akan menguburmu hidup-hidup.” Ujar Devan dan sedikit mengancam tetap dengan nada yang bercanda.


“ Mungkin Zarra yang akan menguburmu duluan. “ jawab Chris dengan santai.


Mendengar jawaban Chris, Devan pun menelan salivanya dan mengingat wajah adiknya yang garang itu dan seisi ruangan itupun tertawa karena perdebatan Chris dan Devan yang sangat lucu dan tidak selesai-selesai dari tadi.


Selesai akan malam mereka pun berbincang bersama. Marry dan Nela mengobrol soal anak-anak mereka, sedangkan Edison dan Ares membahas tentang bisnis mereka. Sedangkan Devan dan Chris seperti biasa, kalau bertemu mereka pasti akan menghabiskan waktu bersama dngan bermain game.