You Are My Life

You Are My Life
Chapter 41. Berkumpul bersama teman



“ Hai maaf gue datangnya telat. “ ucap Dero yang baru saja datang bersama Alicia dan mengambil tempat duduk.


“ Yop santai aja. “ jawab Denial


“ Udah kelar perjalanan bisnis lo Den? Btw gimana kabarnya Zarra? “ tanya Alicia.


“ Dia baik kok, jangan khawatir dia kan mental baja. “ kata Denial sambil terkekeh.


“ Udah lama ya kita gak ngumpul gini, kurang Zarra sama Morphine. Kavi pasti sibuk ngurus bumilnya, Regas sibuk ngantor mulu. “ ujar Leo sambil mengaduk-ngaduk jusnya.


Zarra baru saja sampai di cafe yang diberitahukan Denial bahwa mereka akan berkumpul hari ini. Ya, Denial sudah tahu bahwa Zarra sudah pulang ke Indonesia karena Zarra enghubunginya duluan.


“ Kalian pasti pada kangen gue ya? “ ucap Zarra yang merangkul Alicia juga Dero dan membuat yang lainnya terkejut.


“ Zarra? Ini beneran lo? “ ucap Alicia yang tidak percaya bahwa Zarra berada disini sambil memegang pipi Zarra dan mengunyelnya.


“ Iya ini beneran gue Al. “ jawab Zarra lalu terkekeh.


“ Miss you. “ Lingga menghampiri sahabatnya dan langsung memeluknya, yang lain pun ikut memeluk Zarra.


“ Miss you to all. “ kata Zarra, lalu mereka semua pun kembali duduk.


Mereka pun saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing selama dua tahun ini, dan Zarra juga menceritakan kehidupannya di paris. Beberapa dari mereka iri, karena sepertinya menyenangkan tinggal di luar negeri.


“ Jadi lo gak bakal balik ke paris lagi? “ tanya Dero.


Zarra menggeleng mantap, “ Gue bakal di indo untuk selamanya. Biar bisa ketemu temen-temen kesayangan gue. “ kata Zarra dan menyunggingkan senyum bahagianya.


Zarra mengajak mereka semua untuk pergi ke taman hiburan, dan karena kebetulan mereka semua libur hari ini mereka pun menyetujuinya. Mereka pun langsung berangkat dan langsung membeli tiket saat sudah sampai. Alicia dan Dero pun masuk duluan karena terlalu senang dan sudah tidak lama kesini, sedangkan yang lain tertawa melihat dua sejoli itu yang sifatnya seperti kanak-kanak.


Tadinya Leo menolak ikut menaiki roller coaster, namun karena diejek oleh Dero dia memberanikan diri untuk menaiki permainan itu. Belum saja dimulai wajah Leo sudah memucat, Lingga dan Jodes yang berada disamping Leo pun menertawainya karena tidak tahan melihat wajah Leo yang seperti orang tolol.


“ Tuhan, lindungi hambamu ini agar tetap hidup. “ kata Leo sambil melipat tangannya.


“ Yaelah Leo, takut amat sih masa kalah sama cewek. “ ujar Jodes dengan nada mengejek.


Roller coaster pun mulai berjalan, dan Leo memegang pegangan yang berada didepannya karena takut. Lingga dan Jodes tidak henti-hentinya teratwa melihat waja Leo yang menegang. Zarra teringat kenangan bermain bersama Chris, Chris sama seperti Leo takut naik Roller coaster dan seandainya jika ada Chris disini tidak tahu akan selucu apa.


Karena kelelahan bermain mereka pun pergi makan malam ke tempat yang Zarra sudah reservasi. Sambil makan, sambil mengobrol biar tambah asik. Mereka bersendau ggurau dan tertawa bersama menghabiskan malam yang penuh canda karena kelakuan Leo.


Hp Dero berdering mendapatkan VC dari Kavi dan langsung mengangkatnya lalu menyapa dan mengarahkan ke arah teman-temannya. “ Hai bro, gimana ngurus bumilnya udah kelar? “


“ Bumilnya lagi bobo, waktunya gue bersantai sekarang. Enak ya kalian, bisa ngumpul-ngumpul bareng. “ kata Kavi dengan raut wajah cemburu.


“ Hai Kav, gimana kabar kalian berdua? Lo jagain Morphine baik-baik kan? “ kata Zarra.


“ Tenang Zarr, Morphine aman bersama gue dan selalu gue jaga disisi gue. “ jawab Kavi.


“ Good, inget ya kalo ngelakuin jangan sering-sering. Kasian anaknya. “ ujar Zarra karena Morphine sering bertelepon dengannya dan memberi tahu bahwa Kavi selalu saja meminta.


Kavi hanya menyengir, dan melanjutkan pembicarannya dengan Dero. Hari sudah semakin malam mereka pun berpisah untuk pulang. Hari ini Zarra membawa mobil dan menyetir sendiri, Zarra pun langsung menuju pulang ke rumah. Saat sampai dirumah Zarra pun bergegas mandi, dan merebahkan dirinya ditempat tidur selesai mandi. Zarra mengingat beberapa kejadian di taman hiburan tadi, yaitu kelakuan usil Dero yang mengerjai Denial saat masuk kerumah hantu, dan Denial membalas menakuti Dero. Juga wajah Leo yang sangat memucat karena menaiki roller coaster, sebenarnya Zarra sangat kasian sama Leo tadi tapi ya mau gimana lagi. Apalagi Lingga yang tadi mengerjai Jodes dengan menembakan Jodes peluru mainan dan membuat mereka jadi berantem walau hanya bercanda. Kapan lagi mereka akan menghabiskan waktu seperti itu.


Hp Zarra berdering, dan itu adalah telepon dari Chris tanpa menunggu lama Zarra pun langsung mengangkatnya.


“ Halo Chris. “ sapa Zarra dibalik telepon.


“ Kenapa kau tidak mengajakku juga ke taman hiburan. “ kata Chris tanpa membalas sapaan Zarra.


“ Kau kan harus bekerja dan aku tau kau sangat sibuk. “ jawab Zarra.


“ Aku kan bisa mengambil cuti untukmu. Dan kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau akan pulang ke Indonesia? “ tanya Chris dengan nada bicara yang berpura-pura sedang ngambek.


“ Aku tidak ingin mengganggumu bekerja, sebaiknya kau tidurlah ini sudah malam. “ kata Zarra.


“ Nanti saja, aku masih kangen. Apa kamu gak kangen aku? “ tanya Chris dengan suara yang disedih-sedihkan.


Zarra tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Chris sekarang, pasti sangat lucu membayangkan wajah terkejut dan cemburunya itu. Chris berdecak kesal dan hatinya erasa sangat panas karena Zarra menyebutkan nama Denial apa lagi Zarra bilang dia merindukan Denial bukan Chris. Chris bersabar tidak ingin membuat Zarra ngambek lagi seperti di paris karena menurutnya sekarang kalo Zarra sedang marah sangat mengerikan dan akan mendiamkan Chris selama sehari.


Zarra yang sudah ngantuk mulai memejamkan matanya dan tertidur. Besok dia akan mengunjungi Morphine, sahabatnya yang sedang hamil. Pasti Morphine terlihat sangat lucu dengan perut buncitnya itu. Tidak sabar rasanya dia ingin bertemu sahabat lamanya yang imut itu. Bahkan dia masih tidak menyangka bahwa Morphine akan menikah dengan Kavi. Didalam mimpinya, dia bermimpi sedang berjalan bersama Chris dan menghabiskan waktu bersama dengan bahagia. Rasanya Zarra tidak ingin bangun dari mimpi jika begini.


Karena selama ini dia selalu melewati masa-masa sulit dari kematian Kean dan Naya sampai sekarang, danuntungnya semua itu tidak terjadi lagi. Zarra sempat berpikir bahwa Naya juga masih hidup sama seperti Kean namun ternyata tidak. Sekarang Naya pasti sudah senang diatas sana karena orang yang merenggut nyawanya sudah menanggung semua kejahatannya.


Di sel tahanan, Riana terlihat sangat berantakan dan raambutnya sudah memutih beberapa. Sekarang dia merasa sangat menyesal dengan kejahatan yang dilakukannya selama ini. Ingin sekali dia meminta maaf kepada mereka semua, dan jika di mungkinkan untuk dimaafkan kembali.


Zarra sedang dalam perjalanan menuju kerumah Morphine, sebelumnya dia sudah mengabarinya agar Morphine juga tidak kemana. Agar tidak bosan Zarra memasang music kesukaannya. Selang beberapa menitpun dia sampai, dan langsung turun masuk ke rumah Morphine. Zarra membunyikan bel rumah, dan tidak lama di bukakan oleh ART. ART itu pun mempersilakan Zarra untuk masuk dan menghapiri Morphine yang sudah menunggu di ruang tamu.


“ Hai gendut, apa kabarmu? “ Zarra yang baru saja sampai dan langsung memeluk sahabatnya ini dengan hati-hati.


“ Kau ini ya, baru datang udah main ngejek. “ jawab Morphine dengan wajah cemberut.


Zarra sangat gemas, sudah menikah saja tingkahnya masih seperti anak-anak remaja, “ Hahaha, maaf-maaf. Ngomong-ngomong kau sendiri dirumah? Dimana suamimu? “


“ Dia pergi menemui kliennya di luar. “ kata Morphine sambil mengusap perutnya.


“ Apa dia tidak mengambil cuti untuk menjagamu sampai melahirkan? “ tanya Zarra, dia khawatir jika Morphine sendiri dirumah tidak ada menjaganya walaupun ada ART.


“ Sebenarnya dia mengambilnya, tapi aku melarangnya. Lagian ini juga masih 8 bulan Zarr, aku juga tidak apa-apa kok. “ ujar Morphine meyakinkan Zarra agar tidak khawatir terhadapnya.


“ Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa dan jika Kavi sedang sibuk segera lah hubungi aku. “ kata Zarra dengan nada memerintah.


“ Siap madam Zarra. Btw Zarr, apa kamu juga tidak bekerja? “ tanya Morphine.


“ Aku mengambil cuti selama beberapa hari, jadi aku Free sampai minggu depan. “ ujar Zarra dan merentangkan tangannya di sofa, “ rumahmu besar juga ya. “


“ Kavi ingin aku dan anaknya hidup dalam kemewahan dan tidak ingin kami kekurangan. Bahkan dia sangat protektif kepadaku, kemana-mana aku harus dengan pengawal. “ ujar Morphine dan mengerucutkan bibirnya karena dia tidak bisa bebas setiap ingin keluar.


“ Itulah seorang suami tidak ingin istrinya kenapa-kenapa dan kau harus bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian dan juga mencintaimu. “ kata Zarra sambil mengusap pundak sahabatnya.


Tak lama ARTnya membawakan camilan unntuk Zarra dan Morphine, merekapun saling bercerita dan menghabiskan waktu bersama. Zarra tidak menyangka bahwa Kavi akan seprotektif itu, bahkan saat morphine mau kekamar mandi Kavi akan mengantarnya karena takut Morphine akan terjatuh. Sungguh suami yang sangat baik.


“ Hatchimmm… sepertinya ada yang sedang membicarakanku. “ ujar Kavi lalu melap hidungnya dengan tisu.


“ Ada apa tuan Kavi? Apakah anda sakit? “ tanya kliennya itu.


“ Aku baik-baik saja. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita tadi. “ ujar Kavi.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“ Bagus, terus awasi dia selalu. “ Sinthya menutup telponnya dengan senyum jahatnya.


Dia mengambil wine dan meminumnya sambil mengingat malam panasnya dengan Dion beberapa waktu lalu. Sungguh Sinthya tidak bisa melupakannya karena dia sangat puas dengan keperkasaan Dion saat itu dan ingin melakukannya lagi. Dia sudah melakukannya dengan banyak pria, namun dengan Dion sangat berbeda rasanya ingin melakukannya lagi dan lagi. Sinthya mengusap perutnya berharap dia cepat hamil, dan disudut kamera Ferga hanya menyunggingkan senyum sinisnya karena hal itu tidak akan terjadi.


Ferga sudah menghancurkan pil kb dan memasukkan itu ke dalam semua minumannya Sinthya, Ferga memang sudah menyiapkannya sebelum dia datang kerumah Sinthya. Ferga juga sudah meminta orangnya untuk selalu mengawasi Zarra dan jika ada seseorang yang mencurigakan Ferga meminta orangnya untuk langsung menangkapnya. Ferga mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Chris.


To Chris:


Kapan kita akan mulai memenjarakannya?


From Chris:


Tunggulah sebentar lagi, sampai dia melancarkan aksinya kembali.


To Chris:


Apa kau tidak takut Zarra akan terluka?


Chris pun tiba-tiba berpikir takut jika Sinthya melakukan hal fatal dan menyebabkan Zarra dalam bahaya. Tapi dia yakin Sinthya tidak akan senekat Riana, dan dia sudah meminta orangnya untuk selalu melindungi Zarra. Walaupun sudah ada orang-orangnya Ferga dia masih merasa kurang. Chris selalu berfeeling tidak enak makanya dia selalu mengawasi Zarra.