You Are My Life

You Are My Life
03. Jadi Bahan Bulian



Setelah pertemuan itu, Thian lebih sering ke kampus dan restorannya hanya sekedar melihat gadis itu dari jauh.


Gadis yang unik, wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya bertambah cantik.. eh kenapa aku memujinya!! harusnya dia yang memujiku seperti gadis lain batin Thian beradu spekulasi sendiri saat memandang Disti yang sedang menggunakan earphone di telinganya dan laptop di pangkuannya.


Setelah puas memandang, Thian pun meninggalkan kampus menuju restorannya. dia harus melihat laporan penjualan dan pembelian dalam beberapa hari. namun pikirannya di penuhi dengan wajah gadis itu.


"Ahhh,,, kenapa rasanya seperti ini? menggangu saja. Ckkk!" ucapnya berdecak kesal karena rasa ingin tahunya pada gadis itu.


"Aku akan memanggilnya nanti jika dia sudah sampai, tapi alasan apa iya? bicara sendiri layaknya orang tak waras atau orang yang sedang kasmaran.


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri akhirnya Disti sudah mulai memulai pekerjaannya. membersihkan meja bekas pelanggan membantu menyajikan makanan dan begitu seterusnya. sampai suara temannya terdengar di telinganya.


"Disti kau di panggil ke ruangan bos sekarang !!" ucapnya.


"Hah.. ada apa? aku tidak terlambat tadi, kenapa memanggilku?" rasa kagetnya tak bisa dia pendam.


"Entahlah !!! temui saja sana aku juga tidak tahu.!! langsung pergi meninggalkan gadis itu. Masih dalam mode penasarannya dia mengetuk pintu bosnya.


"Masuk !!" kata seseorang di dalam. namun suaranya seperti bukan bosnya.


"Anda memanggil say.." ucapannya terhenti ketika kursi itu berputar menampilkan pria berwajah tampan bagai artis jika dia seperti gadis lain mungkin dia akan histeris tapi tidak dengan Disti.


"Anda siapa? dimana bos saya?" mencari-cari dengann melihat seluruh ruangan tapi nihil tak ada bos yang dia kenal hanya sesosok pria tampan itu yang ada di ruangan itu.


"Aku?" tanyanya. "Tentu aku adalah pemilik restoran ini.!! siapa yang kau cari?" tanyanya dengan mata mengintimidasi.


"Tentu bos Fikar, Siapa lagi? anda jangan mengaku-ngaku !! sebaiknya beri tahu saya di mana bos Fikar? dia memanggil saya tadi.!! masih belum percaya ucapan pria tersebut.


"Heh.. Disti Arianti Zafiah, karyawan yang di terima bekerja 6 bulan lalu.. jika kau bosan silahkan buat surat pengunduran diri mu dengan senang hati aku menerimanya." ucapnya santai sambil menyatukan jari jemarinya untuk menopang dagunya sedang punggungnya masih stay bersandar di kursinya.


"Maaf kan saya bos. saya tidak tahu karena yang menerima saya dulu adalah bos Fikar"


"Tentu!!karena dia adalah manager di restoran ini, tapi saat menerima mu dia tak memberi tahu ku. jadi alasan apa yang membuatmu bekerja di restoran ini?" masih dengan sikap tenang.


"Untuk menyambung hidup bos" singkat, padat dan jelas.


Apa? jawaban apa yang dia berikan? hais gadis ini!! - Thian


"Iya bos" lagi-lagi jawabannya singkat membuat Thian mulai mendengus kesal.


"Apa orang tuamu tidak sanggup memenuhi kebutuhanku hingga kau bekerja atau kau yang memiliki kebutuhan seperti gadis di luar sana?"


"Orang tua saya sudah meninggal bos" dan jawaban ini sukses membuat Disti merubah raut wajahnya sendu. sehingga membuat Thian merasa tidak enak hati.


Jangan bertanya lagi Thian. cukup kau mengorek luka di dalam hatinya. lihat wajahnya..!! - Thian


Melihat perubahan itu tiba-tiba Thian menghampirinya dan memeluknya. entah apa yang merasuki seorang Fathian Saif Ezar yang tiba-tiba memeluk gadis yang baru saja dia kenal.


"Jangan bersedih, maaf menyinggung mu aku tak bermaksud." ucapnya sambil mengelus lembut punggung Disti.


"Hiks hiks.." suara tangis Disti menggema di telinga Thian. membuatnya merasa bersalah. bagi Andin inilah pertama kalinya seseorang memeluknya setelah orang tuanya. bahkan pamannya saja mengusirnya saat orang tuanya sudah meninggal.


Setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Thian, Disti sadar dan segera meminta maaf atas kelancangannya.


Ahh.. mengapa aku tiba-tiba memeluknya entah apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang. - Thian.


Sedangkan Disti masih mengingat kepergian orang tuanya di tambah kejadian yang barusan membuatnya bertambah malu dan sedih.


Setelah kejadian itu, Thian mulai menjadi teman dari Disti walau hanya sekedar membantunya menyelesaikan tugas kuliah atau hanya sekedar mengajak makan siang di ruangannya.


"Disti besok kan kamu libur bagaimana kalau kita jalan. iya sekedar menghilangkan penat setelah beberapa hari bekerja."


"Emmm... bagaimana iya kak. aku tidak biasa berlibur." jawab Disti ragu.


"Pokok besok aku jemput di kosan iya? " tanpa menunggu jawaban Disti Thian pun berlalu pergi.


"Ahhh... bagaimana ini.!! jika gadis-gadis yang mengagumi kak Thian tahu bisa habis aku jadi bahan Bulian di kampus" sambil bergumam sendiri setelah kepergian Thian dari kampusnya.


πŸ’ž You Are My Life πŸ’ž


mohon tinggalkan jejak!!! semoga suka