You Are My Life

You Are My Life
Debaran Jantung



"Maaf tuan,,, Seperti yang saya katakan tadi. saya terbiasa hidup sendiri jadi saya tak ingin merepotkan siapapun. kita juga baru saja bertemu bukan!!" Jawab Disti yang belum mengalihkan tatapannya dari hamparan bunga-bunga di depannya.


"Baiklah !!! Aku tak bisa memaksamu untuk berteman denganku bukan?? Tapi jika kau butuh tempat untuk menumpahkan rasa lelahmu maka datanglah padaku!!" Entahlah Dirga juga merasa aneh dengan sikapnya namun tak bisa dia pungkiri bahwa dia merasakan kenyaman di dekat gadis itu


"Hem," jawabnya singkat. Lalu keheningan yang terjadi.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Sedang di dalam ruangan mereka menikmati setiap acara yang sudah di susun. Thian masih sibuk dengan Fani sedang Alfa sibuk dengan pertanyaan para sahabatnya tentang Devi. Tentu saja Leon dan Fikri hanya berusaha menutup kebusukan Devi di hadapan Alfa. Pada nyatanya mereka mencari cara agar Alfa dan Dirga tidak terjebak pada ratu drama itu.


Setelah beberapa lama Dirga kini kembali bersama Disti dengan jas milik Dirga masih melekat di tubuh Disti. Jika di tanya bagaimana Disti, dia tidak terlalu peduli dengan tatapan orang di ruangan tersebut.


"Sayang!!!! " Sambut mommy menghampiri Disti dan Dirga yang berjalan beriringan.


"Mom sudah dengar semua tentangmu dari Thian tadi dan mom sudah berbicara pada dad agar kau bisa tinggal dengan mommy dan dad" ucap mommy pada Disti membuat mereka sama-sama menoleh pada Disti, mom dan Dirga yang berjalan menuju meja tempat mereka berkumpul. Beruntung saat itu tamu sudah pada kembali ke kediamannya, yang ada hanya para sahabat Alfa dan tentu sang pemilik rumah.


"Tapi mom?" Sanggah Disti, namun sayang belum berucap mommy sudah menyambarnya kembali.


"Kau tenang saja, Thian dan Alfa tidak tinggal dengan kami mereka tinggal di apartemen milik mereka sendiri. Jadi jangan sungkan oke? Bener kan dad" sebegitu inginnya mempunyai putri bahkan mommy sering mengajak Fani untuk menginap di rumahnya saat masih belum ke luar negeri.


"Tak apa princess, kakak tak keberatan kau masuk dalam keluarga kita." Sambung Alfa yang mendekati posisi Disti beserta mommynya.


Sedang Devi menatap lekat pada keberuntungan Disti. Tanpa harus bersusah payah dia bisa masuk dalam keluarga yang bisa menunjang kehidupannya. Membuatnya iri dan menatap penuh benci. Hal itu tak luput dari pandangan Dirga yang mengerti akan tatapan itu.


Karena yang baik tentu mendapat jalan kebaikan menuju ke kebaikan. Dan yang buruk tentu harus melewati jalan yang buruk bukan menuju ke kebaikan tapi menuju ke arah keburukan yang merupakan hasil akhir - Dirga .


Setelah adu pendapat yang begitu alot hingga Disti menyetujui dia menjadi bagian dari keluarga tersebut tapi dengan syarat dia masih bisa melakukan aktifitasnya dengan baik tanpa ada yang melarang. Dia juga ingin tetap bisa bekerja di restoran Thian. Mommy dan Daddy menyetujuinya. Bagaimanapun mereka senang bisa mengenal Disti. Gadis baik yang tangguh namun sedikit memiliki sikap dingin.


.


.


.


Pagi ini Disti pergi ke kampus dengan jantung yang berdebar hebat. bukan karena akan ada ujian atau mendengar beasiswanya di cabut. namun ada hal yang lebih dari itu.


Saat ini dia sedang berdua di dalam mobil bersama Dirga. Entah ada angin apa manusia dingin yang satu itu tiba-tiba menjadi manusia hangat yang peduli terhadap orang lain. tapi khusus pada Disti saja.


"Kenapa?" bukan menjawab malah balik bertanya. Sebenarnya hanya kata itu yang mampu terucap karena Disti dengan sekuat tenaga menutupi kegugupannya. Mungkin ini bukan pertemuan pertama mereka hanya saja Disti merasa jantungnya berdegup tak biasa.


"Aku akan menjemputmu!" akhirnya sikap dinginnya kembali namun beberapa saat kemudian jantungnya berdegup kencang kembali.


Sial kenapa dengan jantungku ? Apa yang sebenarnya terjadi dengan jantungku - Dirga


Kenapa lama sekali yang mau sampai..!!! aku tidak bisa menahan rasa kegugupanku lagi - Disti.


"Nanti jam 12 siang jam kuliah saya selesai tuan!!" sahut Disti masih merasa gugup.


"Baiklah!! Oh iya... jangan memanggilku dengan sebutan tuan, kau bukan pembantuku bukan? panggil saja kakak atau namaku saja.!! ujar Dirga seraya mencuri pandang ke arah Disti. sedang Disti hanya meremas-remas tangannya untuk menutupi kegugupannya.


"Hem baiklah kak" seraya tersenyum kearah Dirga dan pada saat yang sama Dirga melihat senyumnya membuatnya kehilangan separuh akal sehatnya. bibirnya yang mungil seperti memanggil Dirga untuk menyentuhnya. tatapan matanya membuat jantung Dirga serasa habis berlari dari ribuan kilo.


Sehabis perbincangan kecil di dalam mobil, kini tercipta hanya keheningan. mereka berdua masih sibuk dengan segala yang ada di pikiran masing-masing.


Tak berapa lama kemudian mereka sampai di depan kampus Disti. Semua mata tertuju pada mobil sport milik Dirga. Iya Dirga jarang memakainya, dia lebih suka di antar jemput oleh Leon. entah mengapa sekarang demi seorang gadis yang baru di kenalnya dia rela menyetir sendiri.


"Hati-hati!!" ujar Disti yang telah berada di luar mobilnya. kepalanya menunjuk dan menampilkan senyum indah pada Dirga. sedang Dirga yang melihat itu membuatnya semakin ingin mengenal Disti. Dia yakin Disti adalah seorang gadis periang namun entah karena alasan apa yang membuatnya begitu dingin terhadap orang lain.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Cinta tak butuh sebuah alasan untuk hadir. namun alasan yang akan menghiasi cinta itu.


.


.


.


.


terima kasih mohon dukungannya lewat like komen ataupun vote