You Are My Life

You Are My Life
Chapter 36. Hari persidangan Riana Garson



Hari ini adalah hari persidangan Riana, Ferga yang sudah sampai duluan mengucapkan terimakasih banyak kepada Digo karena telah membantunya. Edison dan Marry yang baru saja datang langsung menemui keluarga Stanford dan menyapanya, Ares dan Nela pun menyambut baik mereka dan meminta maaf karena telah memisahkan Zarra dan Chris.


Chris dan Devan saling menyapa ala pria, juga begitu dengan Ragan dan Khanva yang baru saja datang mereka pun langsung mengambil tempat duduk. Jodes baru saja datang bersama Lingga, dan Morphine dan langsung mengambil tempat duduk di belakang keluarag Wagner. Sedang kan Kean dan Anton akan muncul nanti, belakangan.


Persidangan pun di mulai dan hakim memulai untuk menyidang Riana, dan jaksa pun memulai aksinya untuk menuntut Riana. Pengacara tidak bisa berbuat apa-apa karena semua bukti sangat jelas jadi hanya bisa diam sedangkan Riana yang kesal karena sudah membayar mahal pengacara itu. Riana dijatuhkan hukuman seumur hidup, awalnya Riana dijatuhi hukuman mati namun Ferga meminta untuk memberinya hukuman seumur hidup saja. Persidangan pun selesai dan mereka semua sangat puas karena Riana menanggung semua kejahatannya.


“ Halo tante Riana, apa masih mengingat kami berdua? “ ucap Kean yang baru saja datang bersama Anton dan menyunggingkan senyumnya.


“ K-kkamu masih h-hidup? “ Riana sangat terkejut melihat Kean dan Anton yang berada didepannya saat ini, dia yakin Kean sudah mati dan Anton yang masih koma. Dia tidak percaya apa yang dia lihat didepannya.


“ Kenapa Riana? Apa kau terkejut melihat Kean yang masih hidup dan aku yang sudah sadar dari koma? Kami pun tidak menyangka bahwa kami masih di ijinkan hidup oleh Tuhan untuk membalas kejahatanmu. “ ujar Anton dengan senyum penuh arti.


“ Kuharap tante kapok terhadap semua perbuatan tante dan bertobatlah. “ ujar Kean lalu membawa Anton yang duduk dikursi roda menghampiri keluarga Wagner juga Stanford.


Riana pun dibawa oleh kedua penjaga menuju sel tahanannya, sedangkan Riana yang masih terkejut dengan apa yang barusan dia lihat. Dia meyakinkan itu hanya mimpi tapi semua itu sangat nyata.


Keluarga Wagner dan Keluarga Stanford menyambut hangat Kean dan Anton, serta Ragan dan Khanva langsung menghampiri ayahnya dan Kean memberikan Anton ke Khanva dan Ragan. Mereka pun saling berbincang dan sangat senang karena Anton telah kembali pulih, dan Kean yang masih hidup dan berdiri sehat disini.


“ Selamat kembali Anton. “ ucap Edison dan menjabat tangannya Anton.


“ Terimakasih Edison. “ jawabAnton.


“ Keluarkan aku darisini! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku Riana Garson, istri Antonio Garson !! “ teriak Riana sambil memukul tiang sel.


“ Diamlah, kau hanya menghabiskan tenagamu saja. Lagian jika kau memang istrinya pasti suamimu akan berusaha membebaskan. “ kata penjaga tahanan itu dengan datar.


Riana memukul dinding dan berdecak kesal karena dia harus mendekam di penjara. Disisi lain Aldi dan Reno juga mencak-mencak meminta dikeluarkan dari sel, namun penjaga tidak menggubrisnya. Mereka terkejut saat melihat Ferga Genio yang datang ke penjara, dan beursaha meminta tolong kepada Ferga.


“ Oh tuan Ferga, lihatlah kesini. Aku Aldi Ratayi Ceo dari Nude Production. Tolong bantu saya bebas darisini tuan Ferga, saya tidak bersalah. “ ucap Aldi yang memohon kepada Ferga.


“ Pak Aldi, saya rasa anda cocok berada didalam sini. “ jawab Ferga dengan senyum sinisnya.


“ Tuan Ferga kenapa anda berbicara seperti itu?” tanya Aldi.


“ Pak Aldi apakah kau tahu siapa yang memasukkanmu kesini? Ya itu adalah aku. “ ujar Ferga sambil bersender di ujung meja.


“ Apa?!!! “ Aldi sangat kaget karena setahunya dia tidak ada masalah dengan Ferga.


“ Kau tidak usah kaget pak Aldi, kau sudah mengganggu keluargaku juga Zarra yang akan menjadi sepupu iparku. Dan sekarang rasakanlah mendekam dipenjara sama seperti Riana. “ Ferga kembali menyunggingkan senyum sinisnya lalu pergi dari penjara.


“ Kenapa papa gak nyelidikin dia dulu, lihatlah sekarang kita tidak bisa ngapa-ngapin apalagi Ferga orang yang sangat kuat dan berpengaruh. “ kata Reno yang geram terhadap ayahnya.


Alasan Ferga menjebloslan Aldi dan Reno ke penjara karena kasus suap mereka yang sudah begitu banyak dan dulu sempat menghancurkan perusahaannya, apalagi saat tahu bahwa Aldi juga dalang dari perencanaan kecelakaan Kean membuat Ferga semakin marah dan meminta anak buahnya menyelidikinya. Ferga memangb orang kuat dan paling berpengaruh setelah Chris terutama di dunia bawah. Tetapi bukan berarti dia berbuat illegal, hanya untuk membasmi penghianat dan penjahat yang kabur begitu saja.


Tidak ada yang pernah berani melawan Ferga bahkan berurusan dengan keluarga Stanford karena sama saja menggali kubur sendiri. Chris tidak kalah kejamnya dari Ferga dia akan memnyingkirkan siapa saja yang berusaha menghancurkan keluarganya apalagi sudah dua kali dia kehilangan cintanya olh dalang yang sama dia tidak pernah membiarkan orang-orang itu tenang. Dan masih dalam pencarian kemana kaburnya Sinthya, tidak sengaja alat pelacak Ferga tertinggal Chris pun mengambilnya dan melihat bahwa ternyata Ferga sudah mengetahui dimana Sinthya.


“ Kenapa dia tidak memberitahuku? Apalagi rencananya? “ gumam Chris dalam hati.


Chris pun mengerahkan anak buahnya ke tempat Sinthya bersembunyi, dan meminta untuk mengawasinya saja dan menunggu perintah untuk menangkap Sinthya. Sudah sebulan Sinthya bersembunyi, dan mendep di dalam rumah itu saja. Orang yang yang dia sewa memberi tahu kalau tidak selalu bisa untuk membantu karena merasa diawasi.


Sinthya langsung membongkar barang-barangnya dan menemukan alat pelacak, dia pun langsung menghancurkan alat pelacak itu dan bergegas pergi. Saat sudah larut, dia keluar dari pintu belakang dan bersyukur tidak kedapatan dia pun langsung pergi menaiki bus untuk pergi ke daerah lain.


“ Hahh syukurlah tidak ketahuan. Siapa kira-kira yang menaruh alat pelacak? Sungguh itu pasti bukan orang sembarangan karena dia sangat pintar. “ kata Sinthya lalu langsung memejamkan matanya.


Sinthya turun dari bus dan naik angkot menuju ke perumahan tempat dimana teman lamanya tinggal. Dia untuk sementara dia tinggal dirumah temannya itu, sebelumnya Sinthya memastikan temannya apakah temannya ini bersekongkol dengan orang yang ingin menangkapnya atau t5idak, setelah memastikan aman barulah dia setuju untuk menginap.


“ Apa yang sudah kau lakukan sampai kau harus kabur seperti ini?” tanya Rini yang baru saja dari dapur membawakan minuman untuk Sinthya.


“ Kau tidak perlu tahu karena itu urusanku. “ jawab Sinthya dengan datar.


“ Dasar dia ini sudah dibantu masih saja bersikapm sombong. “ gumam Rini dalam hati, “ Baiklah kalau begitu, ini silahkan diminum. “


“ Ngomong-ngomong kau tinggal sendiri disini? “ tanya Sinthya melihat rumah Rini yang sepi dan hanya ada Rini seorang diri.


“ Aku tinggal bersama adikku, dan dia bekerja sebagai tour guide jadi jarang kesini. Kau tenang saja. “ ujar Rini.


Sinthya pun langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan Rini untuknya, dia mengambil ponsel dan sangat kesal karena anak buahnya tidak berhasil mencar tahu siapa yang mencoba untuk menangkapnya selama ini. Tiba-tiba dia teringat Dion dan ingin meminta bantuan untuk menyelamatkannya dari posisi ini. Sungguh tidak nyaman rasanya karena harus selalu bersembunyi, Sinthya ingin merasakan kebebasan seperti dulu.


“ KALIAN BODOH SEKALI, KENAPA DIA BISA SAMPAI LOLOS DARI PENGAWASAN KALIAN?!!! “ bentak Ferga kepada orang suruhannya.


“ M-mmaaf bos, kami akan berusaha mencarinya sampai dapat. “ jawab orang suruhannya Ferga.


“ Ya sudah, cari dia dan langsung saja tangkap jika dia mendapatkannya. “ ujar Ferga dengan nada dingin.


“ Baik bos. “ jawab orang suruhannya itu lalu keluar dari ruangannya Ferga.


Ferga memijit keningnya yang sangat pusing itu, sekarang dia tidak tahu harus kemana mencari Sinthya dan tidak tahu harus bilang apa ke Chris. Dia pun menghubungin Ragan untuk meminta tolong, dan saat mendengar Ferga, Ragan pun dengan cepat langsung mengerahkan orang-orangnya dan Jodes pun meminta temannya, Xaven untuk membantunya mencari keberadaan Sinthya.


Telpon Ferga pun berdering, dia mengerutkan keningnya karena melihat nomor yang tak dikenal menghubunginya, dia pun langsung menganggkatnya. Ferga menyunggingkan senyum saat mendengar siapa yang berada dibalik telpon itu. Ya itu adalah Sinthya, yang menghubunginya.


“ H-halo? Apa ini benar Dion Geinsta dari Gatrich Company? “ tanya Sintya.


“ Benar, siapakah ini? “ kata Ferga yang berpura-pura tidak tahu.


“ A-aku Sinthya, dari Leingh Company. Apa kau mengingatku? “ kata Sinthya.


“ Ah kau Sinthya, tentu saja aku ingat. Bagaimana kabarmu Sinthya? Sudah lama aku tidak mendengar tentangmu. “ ujar Ferga berpura-pura menanyakan kabar, Ferga sudah memanggil anak buahnya untuk segera melacak nomor ini dan anak buahnya pun langsung melaksanakan.


“ Aku sedang tidak baik, Dion bolehkah aku meminta bantuanmu? “ tanya Sinthya.


“ Tentu saja boleh, apa itu? “ tanya Ferga balik.


“ Bisakah kau membantuku mencarikan tempat tinggal dan meminta sedikit uang? Aku sedang ada masalah sekarang, sebenarnya aku menginap dirumah tmean hanya saja tidak mungkin aku menginap terus diriumahnya. “ ujar Sinthya dengan nada sendu berharap Dion mau membantunya.


“ Biaklah aku akan membantumu, setelah dapat tempat aku akan langsung menghubungimu. “ jawab Ferga.


“ Terimakasih banyak Dion, aku akan membalas semua kebaikanmu nanti saat masalahku sudah selesai. ‘ kata Sinthya merasa lega karena akhirnya Dion mau membantunya.


“ Tidak perlu berterimakasih Sinthya, aku membantumu dengan ikhlas. Kalau begitu aku tutup dulu karena aku harus bertemu dengan klien. “ Ferga menutup telponnya dan meraih tablet dari anak buahnya melihat dimana Sinthya berada, dia tersenyum puas karena sudah mengetahui dimana keberadaan Sinthya.


Ferga meminta orang suruhannya untuk berhenti mencari Sinthya karena biar dia sendiri yang nanti akan menemui Sinthya. Ferga meminta mencarikan tempat kepada anak buahnya untuk Sinthya dan anak buahnya langsung melaksanakan, tidak lupa Ferga langsung menghubungi Ragan.


Ragan sedang berlatih menembak untuk menghilangkan kepenatannya, melihat ponselnya berdering diapun berhenti dan melepas kan headset juga sarung tangan lalu meminum air putih dan mengangkat telpon dari Ferga.


“ What’s up bro? “ tanya Ragan.


“ Aku sudah menemukan Sinthya sekarang. “ kata Ferga langsung.


“ Cepat sekali, lalu apa kau akan langsung menangkapnya? Sebelum dia kabur lagi. “ ujar Ragan sambil melap keringatnya dengan sapu tangan.


“ Tidak, aku sudah punya rencana dan aku sendiri yang akan menemuinya langsung. “ jawab Ferga yang sedang memutarkan dirinya di kursi kerjanya itu.


“ Kau memang suka sekali bermain-main. Awas sampai dia lolos lagi dan mengganggu, aku akan menghajarmu bro. “ kata Ragan dengan nada yang sedikit serius.


“ Wowowo santai, kenapa kau jadi galak? Kali ini aku tidak akan kehilangan dia. Kau tenang saja. “ Ferga mengerutkan kening karena Ragan langsung menutup telponnya.


Ragan pun meminum lagi air yang berada dibotolnya dan beranjak pergi dari tempat Latihan menembak itu dan menuju pulang kerumahnya. Ragan langsung mandi karena dia akan makan malam dengan keluarganya di luar.


Ragan dan keluarganya pun berangkat ke restoran dan saat sampai mereka langsung masuk menuju ke meja yang sudah di reservasi oleh Ragan. Pelayan pun langsung memberikan buku menu dan merea langsung memesan makanan dan pelayan pun mencatatnya. Setelah selesai memesan pelayan mengambil kembali buku menunya dan meminta untuk menunggu, selang beberapa menit pesanan mereka pun datang dan mereka langsung menyantapnya.


“ Senang sekali rasanya bisa berkumpul kembali. “ ucap Anton dengan nada haru karena bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.


“ Ragan juga pa, dan Ragan harap kita bisa terus seperti ini. “ ujar Ragan.


“ Khanva sayang papa. “ Khanva berdiri dan memeluk manja ayahnya.


“ Ragan juga sayang papa. “ Ragan juga ikut berdiri dan memeluk papanya juga.


“ Duh kalian ini sudah dewasa masih aja kayak anak-anak sifatnya. “ kata Anton sambil tertawa kecil.


Para pelayan yang menyaksikan ketentraman keluarga itu sangat senang dan terharu melihat keluarga Garson. Mereka pun berharap keluarga itu akan selalu bahagia untuk selamanya. Tanpa sadar Anton menitikkan air mata mengingat apa yang sudah dia alami. Dia sungguh bodoh karena tidak mencoba mengenali Riana lebih jauh. Dan dia merindukan mendiang istrinya, seandainya saja istrinya masih hidup mungkin keluarga mereka akan terasa sangat lengkap.