
Seharian Zarra menghabiskan waktunya dikantor dan bekerja lembur agar tidak terlalu memikirkan masalahnya. Sekalian untuk menaikkan saham mereka kembali dan masih dalam berusaha memulihkan nama baiknya. Dan untungnya ada beberapa klien yang menjalin kerja sama kembali, dan beberapa pemimpin perusahaan lain yang mulai menjalin Kerjasama dengan perusahaannya karena kinerja Zarra yang bagus. Zarra merasa puas karena sedikit demi sedikit perusahaannya kembali normal serta berita tentangnya mulai memudar.
“ Hari ini mari kita makan malam bersama dan aku akan mentraktir kalian. “ ucap Zarra saat meeting dengan para pegawainya dan mendapat tepuk tangan.
Zarra pun keluar dari ruang meeting dan menuju ruangannya, tidak lupa dia meminta Tian untuk mereservasi meja dan Tian pun langsung menjalankan tugasnya. Zarra kembali melanjutkan pekerjaannya dan menandatangani beberapa surat yang penting. Hp Zarra tiba-tiba berdering Zarra pun mengangkatnya dan ternyata itu dari sahabatnya Morphine.
“ Zarr, miss you. “ ucap Morphine dengan nada manjanya.
Zarra tersenyum mendengar sahabatnya yang sangat manja itu, “ Udah punya pacar masih aja manja. Gimana lo sama Kavi? Lancar? “
“ Beuh lo gak tau Zarr, dia makin romantis aja. Ohiya minggu depan kami menikah dan lo harus datang sama anak-anak. “ kata Morphine dengan nada memerintah.
“ Iya-iya gue pasti datang kok, apalagi ini acara bahagianya sahabat gue. “ jawab Zarra yang sedang berdiri dan menatap keluar jendela.
“ Lo gimana sama Chris? Udah baikan? “ tanya Morphine dengan hati-hati.
Zarra menundukkan kepala dan menghela nafasnya, “ Gue gak tau Mor dia bakal maafin gue atau gak. Bahkan dia sudah memutuskan pertunangan kami. “
“ Zarraku yang kuat ya beb. Kalo kalian emang jodoh pasti kalian bakal dipersatukan kembali kok. “ ujar Morphine menyemangati Zarra.
Toktok. Tian mengetuk pintunya dan masuk serta Zarra menoleh kebelakang menatap arah pintu, “ Permisi nona, tamu kita sudah datang. “
Zarra pun mengangguk dan ijin mengakhiri panggilan dengan Morphine, setelah itu dia menyuruh Tian meminta tamunya masuk dan orang itu langsung masuk.
“ Kak Ferga? Ada apa kesini? “ tanya Zarra.
“ Sudah jelas untuk membicarakan pekerjaan. Dan aku dengar perusahaanmu sekarang sudah membaik. “ ucap Ferga sambil menatap ke arah Zarra.
“ Yah begitulah kak, tidak sia-sia aku mengambil lembur juga. “ jawab Zarra dan meminta Tian untuk membawakan minuman.
“ Bagaimana kau dengan Chris? “ tanya Ferga dengan tiba-tiba.
Zarra hanya tersenyum biasa dan mengalhkan topiknya untuk membicarakan pekerjaan, Ferga pun mengerti dan tidak melanjutkan. Tidak butuh waktu lama mereka beruda saling menandatangani surat kerja sama dan berjabat tangan, Ferga pun pamit untuk kembali ke perusahaannya.
“ Tian, jagalah bosmu selalu karena aku akan fokus dengan rencanaku. “ ucap Ferga ke Tian.
“ Baik Fer, saya akan selalu menjaga nona Zarra, kau tenang saja. “ jawab Tian.
Sinthya sedang berada dirumah Chris membantu Nela memasak, dia mencoba mengambil hati kedua orangtua Chris untuk bisa bersama dengannya. Sebenarnya Sinthya juga sedang mendekati Dion hanya saja dia harus fokus untuk mendapatkan Chris. Setelah dia mnedapatkan Chris dan semua hartanya barulah dia akan mendekati Dion. Chris yang baru saja pulang kerja langsung menuju ke kamarnya tanpa menyapa Sinthya yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
“ Chris dimana rasa sopanmu? ada Sinthya disini kenapa kamu tidak menyapanya. “ ujar Nela yang marah karena Chris hanya lewat begitu saja.
Chris menghentikan jalannya dan menoleh malas ke arah Sinthya lalu melanjutkan jalannya kembali menuju kamarnya. Nela hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan anaknya yang sangat cuek dan tidak ada sopan. “ Maafkan Chris ya Sin, sepertinya dia sangat lelah. “
Sinthya tersenyum ramah dan menjawab, “ Gapapa kok tante, aku ngerti. Oh iya dimana om tante? Aku tidak melihatnya.
“ Om sedang bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya. Sebentar lagi juga pulang. “ jawab Nela sambil menata piring-piring di meja.
Di lain sisi Ares sedang bertemu dengan Ferga dan Ferga menjelaskan kematian Naya serta tentang kejahatan Riana. Ares tidak menyangka bahwa Riana yang merupakan saudaranya Marry bisa sejahat itu. Ares pun merasa bersalah karena telah meminta Chris memutuskan pertunangannya dengan Zarra.
“ Om sudah sangat bersalah kepada Zarra, lalu apa yang harus kita lakukan Ferga? “ tanya Ares disertai wajah yang penuh penyesalan.
Ares sudah pulang kerumah dan memberi salam dan langsung menuju ke ruang makan karena Nela bilang dia memasak banyak. Saat melihat Sinthya timbul rasa jijik karena wanita jahat ini telah menghancurkan calon menantunya. Mengingat perkataan Ferga dia tidak boleh gegabah dan akan menjalankan reencananya mala mini. Ares pun langsung duduk, begitu juga Chris yang baru saja datang dari kamarnya.
“ Wah-wah ini semua kalian yang masak? Sepertinya ini sangat enak. “ ucap Ares yang tidak sabar untuk menyicipnya.
“ Sinthya semua yang masak pa, mama cuma bantu nyiapin aja. “ jawab Nela sambil menyendokkan nasi ke piring Ares dan kepiring nya.
Sinthya ingin menyendokkan nasi untuk Chris namun Chris menolaknya dan mengambil piring menyendoknya sendiri. Sinthya menghela nafas sabar, dia tidak boleh emosi agar Nela dan Ares tidak kecewa. Mereka semua pun memulai makan malamnya Nela dan Sinthya yang asik mengobrol sedangkan Chris fokus menatap tablet kerjanya. Ares pun mulai memikirkan rencananya dan membuka suara, “ Chris bagaimana kalo kalian bertunangan? Sepertinya kalian sangat cocok. “
Chris tersenyum tipis dan menjawab, “ Dulu papa juga bilang begitu saat ingin menjodohkanku dengan Zarra. “
“ Itu dulu dan Sinthya berbeda. Papa rasa dia lebih baik dari Zarra. “ ujar Ares sambil meminum air putih.
“ Sudahlah om gak usah dipaksa Chrisnya. Sinthya bisa menunggu kok om. “ ujar Sinthya dengan lembut.
“ Pokoknya kamu harus secepat bertunangan dengan Sinthya, papa gak mau tahu. “ tegas Ares, sedangkan Nela hanya bisa menghela nafasnya.
Chris pun berdiri dan tidak menyelesaikan makannya dia langsung menuju kekamarnya karena nafsu makannya sudah hilang. Chris membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaan kantornya serta berkas-berkas yang harus direvisi. Merasa tidak fokus dia membuka hpnya dan membuka gallery melihat fotonya dengan Zarra. “ maafkan aku Zarra, sepertinya aku harus melakukannya. “ batin Chris dalam hati.
Chris keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua orangtunya yang sedang berbincang dengan Sinthya. “ Oke Chris mau bertunangan dengan Sinthya.”
Zarra yang baru saja sampai didepan pintu ingin bertemu dengan Chris dan keluarganya untuk meminta maaf terkejut mendengar perkataan Chris. Tidak sengaja dia menjatuhkan hpnya dan langsung buru-buru mengambilnya. Chris pun terkejut melihat Zarra yang berada didepan pintu dan langsung menghampirinya begitu juga dengan Nela, Ares dan Sinthya.
“ Kamu ngapain disini? “ tanya Chris dengan ketus.
“ Aku ingin menyampaikan sesuatu. “ jawab Zarra.
“ Tidak ada yang perlu disampaikan lagi Zarra. Tante tidak ingin mendengar apapun darimu. “ sambung Nela dan menatap tajam Zarra.
“ Tante kenapa tidak berikan Zarra kesempatan? Mungkin ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan. “ ujar Sinthya berpura-pura membela Zarra.
“ Sebaiknya kau pergilah karena aku juga tidak ingin mendengar apa-apa lagi darimu. “ ucap Chris dengan wajah datarnya.
“ Maaf aku mengganggu kalian, kalau begitu aku permisi dulu. “ Zarra pun membalikkan badannya dan menuju mobilnya. Dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya dan mulai untuk menyetir.
“ Maafkan om Zarra karena tidak bisa membelamu sekarang. “ gumam Ares dalam hati.
Mereka semua pun kembali menuju ke ruang tamu dan membahas soal pertunangan Chris dan Sinthya, Sinthya sangat antusias karena sebentar lagi Chris akan menjadi miliknya. Dia sangat puas karena apa yang dia mau sekarang telah dia dapatkan, begitu juga dengan Riana yang sekarang tinggal menjalankan misi untuk menyingkirkan Ragan dan Khanva. Namun tidak semudah itu, karena pengacaranya Anton tidak gampang untuk disuap karena pengacaranya itu sangat setia dengan Anton dan hanya memercayai Anton juga anaknya.
“ Aku sangat kasihan dengan kak Zarra pa, sampai aku dengar dari tante Marry dia selalu mengambil lembur di perusahaannya. “ ujar Khanva yang duduk disamping tempat tidur Anton.
“ Papa sungguh menyesal menikahi Riana. Tau begini papa tidak akan menikahinya, bahkan dia berusaha untuk melukai kalian. Sungguh wanita iblis. “ kata Anton dengan wajah yang masih terlihat lemah.
“ Tunggu saja pa, dengan semua bukti ini kita dapat menjatuhkannya, dan aku tidak sabar melihat wajah terkejutnya bahwa papa masih hidup. “ ujar Ragan yang memegang foto-foto Riana bersama pria lain dan menunjukkannya kepada Anton.
“ Riana kamu harus membalas semuanya karena telah menghancurkan keluargaku dan keponakanku. “ geram Anton dalam hati.
Anton mengingat kembali di saat dia akan menaiki mobilnya, pada saat dia fokus sedang bertelepon dengan rekan kerjanya tiba-tiba mobil yang dinaikinya remnya blong dan terjadilah kecelakaan. Saat itu dia setengah sadar dan melihat Riana berdiri didepannya tetapi tidak menolongnya, melainkan pergi meninggalkannya. Anton berusaha untuk pulih dengan cepat agar bisa membalas semua kejahatan Riana.