You Are My Life

You Are My Life
Chapter 35. Riana di tangkap



Sinthya sedang berada di rumahnya Riana, mereka sedang bercengkerama di ruang tamu dan membicarakan tentang hal-hal yang telah mereka dapat juga bersenang-senang untuk keberhasilan mereka. Dari atas Ragan dan Khanva hanya tersenyum sinis melihat dua wanita iblis itu karena sebentar lagi senyum mereka akan memudar akan apa yang terjadi nanti.


TINGTONG!! Bel rumah mereka pun berbunyi dan Riana meminta pembantunya untuk membukakan pintu karena dipikirnya itu adalah Aldi dan Reno yang dia suruh datang tadi. Padahal Aldi dan Reno sudah ditangkap duluan sekarang giliran Riana dan Sinthya.


Pembantunya pun membuka pintu dan sudah ada polisi didepannya, polisi menunjukkan kartu mereka dan ingin menangkap Riana. Pembantu itu berusaha menahan polisi itu namun tidak bisa dan polisi itupun langsung menerobos masuk. Mendengar kegaduhan di luar Riana pun merasa heran ada apa di depan, dan saat dia menuju ke pintu keluar dia sempat terkejut melihat polisi dan kembali bersikap seperti biasa.


“ Ada apa ini? Kenapa anda membuat keributan dirumah saya? “ kata Riana dengan nada ketuss.


“ Maaf bu Riana anda ditangkap atas rencana pembunuhan yang telah anda lakukan. Anda berhak untuk tetap diam dan bisa memanggil pengacara anda. “ ujar Digo dan menyuruh anak buahnya untuk memborgol Riana.


“ APA INI? APA KALIAN PUNYA BUKTI? “ teriak Riana yang sudah sangat panik.


“ Itu semua bisa kita bicarakan di kantor polisi nanti. “ Digo menyuruh anak buahnya untuk membawa Riana ke dalam mobil.


“ Sinthya, dimana kau! Bantu aku Sinthya. “ teriak Riana lagi meminta tolong dan sedang diseret ke mobil.


Mendengar Riana yang telah di tangkap oleh polisi membuat Sinthya pun panik, Sinthya pun langsung kabur lewat pintu belakang. Mendengar Riana meneriakkan nama Sinthya, Digo pun berlari kebelakang untuk menangkap Sinthya.


Ragan pun sudah mengejarnya namun Sinthya sangat cepat dan entah kemana dia kabur. Ragan mengepalkan tinjunya karena geram dan langsung menghubungi Ferga bahwa Sinthya berhasil kabur. Ferga pun langsung segera bertindak untuk menyebarkan foto Sinthya sebagai buronan polisi. Chris pun ikut andil mencari Sinthya, dia mnegerahkan orang-orangnya untuk mencari Sinthya sampai dapat.


Digo pamit kepada Ragan dan meminta maaf akan kelalaiannya, dan Digo kembali ke mobil membawa Riana ke kantor polisi untuk di interogasi. Riana berdecak kesal didalam mobil karena Sinthya yang kabur begitu saja dan tidak membantunya. Padahal Riana selalu membantu Sinthya dalam menjalankan perusahannya.


Riana pun sudah berada di kantor polisi dan sekarang berada diruang interogasi. Polisi mulai menunjukkan bukti-bukti untuk meninterogasi Riana, namun Riana masih tetap diam tidak mengakui kesalahannya. Digo menggebrak meja karena kesal, dia pun keluar dari ruang interogasi untuk menenangkan dirinya sejenak. Datanglah Ferga yang ingin melihat proses interogasi. Ferga meminta ijin kepada Digo untuk masuk dan Digo pun mengijinkan.


“ Halo Rina, bagaimana rasanya ditangkap?” ujar Ferga yang baru masuk sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


“ Apa aku mengenalmu? “ tanya Riana dengan ketus.


Ferga pun tersenyum simpul dan memakai kacamatanya yang dia gunakan dalam menyamar menjadi Dion Geinsta. “ Bagaimana? apa kau mengenalku? “


“ K-kauu.. kau Dion Geinsta? “ Riana terkejut melihat pria didepannya yang merupakan pria berpengaruh dibidang manapun dan sempat ingin dia jilat.


“ Lebih tepatnya aku Ferga Genio sepupunya dari Chris Stanford. “ ujar Ferga dengan senyum sinisnya.


“ Jadi kau bukan Dion? Kau menyamar? “ tanya Riana yang masih tidak percaya.


“ Tepat sekali. Riana kau harus menanggung semua yang telah kau perbuat, kau telah menghancurkan calon sepupu iparku dan kau tidak bisa bebas dari semua ini. “ ujar Ferga lagi.


“ Apa kau punya bukti yang kuat untuk menjerumuskanku? “ ucap Riana dan bersikap untuk tenang.


“ Aku adalah Ferga Genio, aku bisa mendapat semuanya dengan gampang bahkan untuk mencari bukti kecil dariu itupun sangat gampang. Ah aku masih banyak urusan, sebaiknya kau akui saja seua dan tidak usah menunggu pengacaramu untuk membantumu karena dia tidak akan datang. “ ujar Ferga lalu berdiri dan keluar dari ruang interogasi.


Ferga pun pamit kepada Digo dan berterimakasih kepada Digo karena telah memberinya masuk, Ferga percayakan semua nya pada Digo. Di luar Ferga berpapasan dengan pengacara Riana yang sudah dia bayar untuk tidak membantu Riana. Riana pasti tidak bisa mengelak lagi karena dia tida punya siapa-siapa sekarang.


“ Cheersss. “ Jodes mengajak Ragan dan Ferga untuk bersulang. “ Ah lega banget rasanya hari ini berasa plong pikiran. “


“ Sekatang sisa Sinthya, kita harus cepat-cepat menangkapnya sebelum dia berbuat yang lain. “ kata Ragan sambil meminum birnya.


“ Dia tidak akan semudah itu lolos dan menghuolang dari pandangan Ferga Genio. “ ujar Ferga dengan nada sombongnya.


“ Widih belagu amat ini pak tua. “ Jodes menyenggol bahu Ferga lalu terkekeh.


“ Pak tua mata lo enam, masih ganteng gini di bilang tua. “ kata Ferga tidak terima dibilang tua.


“ Gimana gak dibilang tua, janggut lo tuh cukur dulu man. “ ucap Ragan lalu tertawa.


“ Kau berani menertawaiku kau memang sudah bosan hidup ternyata. “ ucap Ferga dengan nada dingin.


Ragan menelan salivanya mendengar Ferga terdengar serius dan nada dinginnya, “ Oh ayolah bro kenapa kau jadi sekejam Zarra? “


“ Kira-kira Sinthya kabur kemana ya? “ pikir Jodes.


Disebuah perumahan kecil, disudut perumahan paling pojok disitulah Sinthya bersembunyi. Untuk membeli makanan serta minuman dia menyewa orang dengan uang yang sudah dia ambil. Sinthya tidak berani keluar takut ditangkap dan sedang mencari cara agar dia bisa pergi dengan bebas dari kota ini. Namun dia berpikir sejenak mungkin saja ini perbuatan Zarra, jadi dia bertekad untuk membalasnya.


“ Lihat saja Zarra, aku akan membalasmu secepatnya. “ Sinthya menghubungi orangnya untuk menyelidiki Zarra dan kapan Zarra akan pulang ke Indonesia lagi.


“ Hatchimmm. “ Zarra menggosok hidungnya karena bersin, “ Duh siapa yang gosipin aku siang-siang begini. “ Zarra pun melanjutkan pekerjaannya kembali.


Disatu sisi Ferga tersenyum karena alat pelacaknya berbunyi, Ferga memang sudah menaruh pelacak di semua barang-barang milik Sinthya. Dia sudah menyruh orang-orangnya menaruhnya untuk berjaga-jaga jika dia kabur.


“ Lihatlah dia, sepertinya dia sudah gila. “ Ragan menggerakkan telunjuknya berputar-putar disekitar pelipis.


“ Hussh, awas dia dengar, bisa-bisa kita dijadiin steak sama dia. “ jawab Jodes.


Sedangkan Ferga yang masih fokus dengan pikirannya tidak mendengar Ragan dan Jodes mengatainya, malah dia sedang berpikir untuk membuat rencana penangkapan Sinthya dengan matang. Kali ini tidak boleh sampai kehilangan dia lagi, Ferga pun memperketat pengawasannya terhadap Zarra karena tahu Sinthya sudah mengutus orang ke paris.


Ferga bahkan sudah meminta Denial untuk menjaga Zarra, karena sebentar lagi kebetulan Denial ada perjalanan bisnis ke paris dan dengan senang hati menerimanya. Denial juga sangat merindukan sahabatnya itu yang sudah dia anggap sebagai saudaranya. Denial sudah bisa melupakan Zarra sekarang dan menghilangkan perasaannya dari Zarra. Denial berharap dia akan menemukan wanita yang sangat mencintainya, untuk sekarang Denial menutup hatinya untuk memulihkan perasaannya.


sedangkan Chris yang seharian dikantor dan juga mengambil lembur, bahkan sampai dia melewati jam makannya yang membuat dia tiba-tiba ambruk dan harus dirawat dirumah sakit. Sedangkan dirumah sakit Chris pun tetap bekerja, karena dia merasa bosan hanya berbaring saja dan tidak melakukan apapun.


“ Ckckck kau ini dasar penggila kerja. “ kata Ferga yang baru saja datang menjenguk sepupunya dan meletakkan buah di meja yang dibawanya.


“ Apa kau tidak ada pekerjaan sampai sesering ini kesini. “ tanya Chris melirik malas ke arah sepupunya itu.


“ Aku Ferga Genio, orang yang bebas. Tanpa aku bekerja pun duit terus berjalan. “ ujar Ferga dengan santai.


Chris hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan sepupunya itu, “ Bagaimana? apa kau sudah menemukan Sinthya? “


Ferga tersenyum dengan penuh arti dan menoleh ke arah Chris, “ Percayakan saja semua pada sepupumu yang cerdas ini. Kau tidak perlu khawatir. Dan kau janganlah terlalu keras bekerja, kau lihat kan kau sedang dirawat sebaiknya kau beristirahat. “ ujar Ferga dan mengambil laptop Chris lalu menutupnya.


Chris menghela nafas dan membaringkan badannya, “ Bagaimana keadaan Zarra di paris? “


“ Oh apakah kau merindukannya? Kenapa tidak kau susul saja dia. “ ujar Ferga.


“ Aku ingin tetapi belum bisa. “ jawab Chris sambil menundukkan kepalanya.


“ Aku mengerti, kalau begitu aku pergi ada yang harus kulakukan. “ kata Ferga lalu dia berdiri dan menepuk pundak sepupunya dan keluar dari kamar itu.


Ferga pergi mengunjungi restoran Kean, sudah lama sekali dia tidak mengunjungi sahabatnya itu karena dia sibuk mengurus rencana penangkapan Riana dan Sinthya. Ferga sangat puas dengan perjuangannya ini, dan dia sangat berharap dari hasil perjuangannya ini dia mendapat akhir yang bahagia. Ferga pun sampai dan langsung masuk ke restorannya Kean. Saat Kean yang sedang mengarahkan pekerjanya dan melihat Ferga dia langsung menghampiri sahabatnya itu dan menyambutnya dengan hangat.


“ How are you bro? “ ucap Ferga sambil memeluk sahabatnya dan menepuk punggungnya lalu melepaskannya.


“ Not bad, how about you? “ tanya Kean balik.


“ As you see, sekarang sedikit demi sedikit masalah teratasi tinggal mencari satu orang lagi. “ ujar Ferga lalu duduk.


“ Aku harap Sinthya cepat tertangkap. “ kata Kean sambil melipat tangannya di meja.


“ Aku juga. “ balas Ferga.


Kean memanggil memanggil pelayan dan meminta membawakan mereka minum, dan dengan segera pelayannya pun langsung membawakannya. Kean mempersilakan Ferga untuk minum lalu mereka bersenda gurau, karena sudah lama sekali mereka tidak berbicara santai seperti ini. Karena dulu mereka yang harus selalu bertemu secara diam-diam dan sekarang bisa bertemu dengan santai tanpa takut-takut lagi.


“ Sebaiknya kau nanti hadir diacara persidangan Riana, om Anton juga akan hadir. “ kata Ferga.


“ Aku pasti akan hadir ingin melihat bagaimana reaksi Riana saat melihat ku. “ ujar Kean.