You Are My Life

You Are My Life
Chapter 53. Xaven mengunjungi Sinthya



Xaven dan Tito sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan Sinthya untuk meeting dan memulai kerja sama mereka. Dan karena Xaven juga mempunyai akses ke dunia bawah maka Sinthya pun dengan senang hati menerimanya. Xaven sangat berharap rencananya berhasil dengan begitu dia dapat menangkap Sinthya dan menjebloskannya ke penjara. Namun dia tetap harus hati-hati karena dia tahu Sinthya yang sekarang sangat cerdik. Maka itu Xaven harus main aman jika tidak ingin ketahuan.


“ Terimakasih Tito mau ikut bekerja sama denganku. “ ujar Xaven.


“ Ah tidak masalah Ven, anggap saja ini sebagai balas budiku karena kau telah banyak membantuku. “ ujar Tito tulus.


“ Tapi kenapa Sinthya langsung setuju untuk bertemu dengan kita? Bukankah dia orang yang pemilih? “ ujar Xaven yang bingung dia tahu Sinthya pun pasti akan cari aman dan tidak asal pilih kliennya.


“ Karena dulu aku pernah membantunya di saat dia kekurangan dana, tapi hanya samapi situ kerja samaku dengan dia. Tenang saja aku tidak akan bermain di belakangmu Ven. “ ujar Tito menjelaskan.


Xaven menganggukkan kepalanya mengerti denga napa yang baru di jelaskan Tito, dia sangat percaya kepada Tito tidak akan mengkhianatinya. Karena Xaven juga telah banyak membantu Tito dari dulu hingga sekarang, Tito pun tidak berani membuat Xaven kecewa. Selain balas budi dia juga tidak ingin mencari masalah dengan seorang Xaven.


Tak lama mereka pun sampai lalu turun dari mobil masuk ke perusahaan Sinthya, tak disangka ternyata perusahaannya lumayan besar juga. Xaven dan Tito menuju ke meja resepsionis dan meminta bertemu dengan Lasya aka Sinthya. Resepsionis itu pun menghubungi ke kantor Sinthya dan menutupnyalalu mengantarkan dua pria itu menuju ke ruangan Sinthya dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk.


“ Selamat datang tuan Xaven dan Tito, mari silakan duduk. “ ujar Lasya mempersilakan kedua pria itu duduk.


“ Terimakasih bu Lasya. “ jawab Xaven ramah.


“ Sebentar saya minta sekretaris saya bawakan minum dulu. “ ujar Lasya.


“ Tidak perlu repot-repot bu Lasya. “ ujar Tito.


“ Tidak apa-apa, kalian adalah tamu istimewaku jadi harus ku layani dengan baik. “ ujar Lasya.


Lasya memanggil dan meminta membawakan minum juga camilan untuk para tamunya ini. Xaven melihat sekeliling ruangan dan menurutnya dekorasinya berkesan mewah. Entah berapa duit yang dihabiskan olehnya sampai bisa menghabiskan duit hanya untuk mendekorasi ruangan ini tapi yang pasti dia lancar dalam bisnis illegalnya dan Xaven harus menyelidiki semua itu.


Sekretaris Lasya datang membawakan camilan juga minuman untuk Xaven dan Tito dan mempersilakan kedua pria itu untuk menikmatinya. Xaven dan Tito mengucapkan terimakasih dan mulai ingin membahas kerja sama mereka dengan Sinthya.


“ Kenapa bu Lasya yang awalnya menolak tiba-tiba menyetujui untuk bekerja sama dengan kami? “ ujar Xaven.


“ Karena saya tersadar, saya tidak boleh menyia-nyiakan berlian demi emas. Apalagi saya dengar kalian sangat sukses dalam semua usaha kalian jadi untuk apa saya menolak. “ ujar Lasya.


“ Hahaha bisa saja bu Lasya, padahal kami ini hanya emas yang baru laku terjual. Usaha kami memang sukses tapi belum sesukses anda. “ ujar Tito merendahkan diri.


“ Itu benar, bahkan mungkin anda lebih kaya dari kami. “ sambung Xaven lalu terkekeh.


“ Ah tidak, saya juga masih biasa saja kok. Perusahaan saya belum terlalu besar, belum bisa menyaingi perusahaan Stanford. “ ujar Lasya juga merendahkan diri.


“ Tapi anda terbilang hebat bu Lasya, karena anda bisa cepat memajukan usaha anda hanya dengan waktu singkat. Saya saja butuh waktu bertahun-tahun. “ ujar Xaven dengan sedikit pujian.


“ Hahaha saya anggap itu mungkin rejeki saya, bagaimana jika kita menanda tangani saja surat kerja sama kita? “ ujar Lasya langsung dan menyodorkan surat tanda kerja sama.


“ Itu ide yang bagus, baik marilah kalau begitu. “ ujar Xaven dengan semangat.


Mereka bertiga pun saling menandatangani surat itu dan menjabat tangan tanda sudah memulai bekerja sama, yang berarti Xaven dan Tito akan sering mengunjungi perusahaan Sinthya. Dengan begitu mereka dapat menyelidiki tentang perusahaan ini sebab pasti Sinthya mendapatkannya dengan cara yang curuang atau illegal. Awalnya Sinthya mengajak makan siang bersama namun Xaven menolak karena dia ada rapat dengan kliennya dari luar negeri.


Xaven dan Tito pun pamit dan meninggalkan perusahaan Sinthya, sekarang mereka tinggal menunggu tanggal mainnya saja. Tito mengantarkan Xaven ke perusahaannya dan Xaven berterimakasih sekali lagi kepada Tito karena telah membantunya. Xaven pun masuk ke ruang meeting karena dia harus rapat dengan kliennya. 2 jam rapat telah selesai Xaven merasa sangat lega dan dia kembali ke ruangannya untuk beristirahat sejenak.


“ Serigala sudah di tanganku tinggal aku mengulitinya saja nanti. “ kata Xaven dengan senyum miringnya.


Sinthya sangat senang karena dapat bekerja sama dengan Xaven dan Tito, sebenarnya dia sudah lama mengincar untuk bekerja sama dengan Xaven. Bahkan timbul niat saat meliht Xaven yang tampan untuk mendapatkannya. Sinthya sudah puas mendapatkan Zeka di genggamannya dan sekarang dia akan mencoba mendapatkan Xaven. Tak lama hp Sinthya pun berdering, Sinthya melihat ID callernya dari Zeka. Sebenarnya dia sangat malas untuk mengangkat namun karena semua tujuan belum tercapai apalagi pria ini selalu bisa memuaskannya dia harus tetap mempertahankan Zeka.


“ Halo sayang. “ ucap Sinthya dengan suara seraknya.


“ Halo baby, apa kamu sibuk sekarang? “ tanya Zeka langsung.


“ Em tidak, hari jadwalku tidak terlalu padat. Memangnya kenapa? “ ujar Sinthya menanyakan.


“ Ah tidak apa-apa, nanti aku akan mampir ke apartmentmu. “ ujar Zeka yang tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan Sinthya.


“ Aku tunggu sayang. “ jawab Sinthya dengan nada genit.


“ Ohiya, apa kamu tahu bahwa dua pengusaha muda dari L.A sedang berada di Jakarta? “ ujar Zeka.


“ Kau harus mencoba bekerja sama dengan mereka, jika sudah bekerja sama dengan mereka perusahaan kita akan masuk topten dan bisa ngalahin perusahaan Stanford. “ ujar Zeka.


“ Memang sebagus apa mereka? “ ujar Sinthya yang bingung bagaimana mereka bisa menyaingi perusahaan Stanford.


“ Yang ku tau mereka pernah mendapat penghargaan emas, juga memiliki berbagai cabang di beberapa negara bahkan yang ku dengar pengusaha wanitanya sedang membangun perusahaan disini sebagi cabang ke 5 nya. Dan untuk Davin dia adalah saingan kerasnya perusahaan Stanford. “ ujar Zeka menjelaskan.


Sinthya mulai berpikir jahat dan mulai merencanakan untuk bekerja sama dengan mereka, dengan begitu perusahaannya akan semakin maju dan perusahaan Stanford akan berada di bawahnya juga bisnis illegalnya akan makin lancar. Sinthya menutup telpon dari Zeka dan meminta sekretarisnya untuk membuatkan janji dengan dua pengusaha itu, terlebih dulu dia harus mencari tahu siapa dua pengusaha muda itu. Saat telah mendapat infonya, Sinthya merasa harus benar-benar bisa mendapatkan mereka berdua. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dan sekarang dia berniat untuk mendapatkan Davin.


“ Mereka berdua pengusaha terkenal dan mereka berdua dekat? Apa mereka berpacaran? Tak apa aku akan memisahkan mereka berdua dan Davin akan menjadi milikku. “ ujar Sinthya dengan senyum jahatnya.


Davin saat sedang berada di perusahaannya Chris dan mereka sedang melakukan meeting. Ternyata Sinthya kalah cepat dengan Chris karena Chris telah mengajak bekerja sama duluan dengan Davin. Davin merasa puas dengan apa yang di sampaikan oleh Chris selama presentasi dan tanpa di tanya pun dia menyetujui kerja samanya dengan perusahaan Stanford. Dengan mereka saling bekerja sama akan makin memperbesar perusahaan mereka, dan menjadikan mereka perusahaan tersukses di dunia.


Chris menjabat tangan Davin serta mengucapkan terimakasih karena telah mau bekerja sama dengan perusahannya. Davin pun membalasnya dan berharap dengan adanya kerja sama ini mempererat pertemanan mereka juga, entah mengapa Davin sangat ingin berteman dengannya. Chris mengajak Davin untuk makan siang bersama, Davin pun tidak menolak dan mereka langsung menuju ke restoran yang sudah di reservasi mejanya. Mereka mulai memesan makanan dan berbincang santai tentang kehidupan mereka masing-masing.


“ Ternyata kisahmu sungguh mengharukan Davin, aku salut terhadap orang sepertimu. Kau panutanku sekarang. “ ujar Chris jujur.


“ Aku malah lebih salut denganmu, kau menjalankan perusahaan sendiri tanpa di bantu oleh siapapun sedangkan aku dulu masih di bantu oleh kakak dan ayahku. “ ujar Davin.


“ Setidaknya kau tidak merasakan stress sepertiku sekarang. “ ujar Chris menunjukkan raut wajah sedih.


“ Memangnya ada apa Chris? Apa kau mempunyai masalah? “ tanya Davin khawatir.


“ Setahun lalu wanita yang kucintai meninggal membuatku sangat frustasi, belum lagi aku harus mengurus masalah-masalah di perusahaann. Rasanya aku seperti tidak ada semangat hidup saat itu. “ ujar Chris menceritakan.


“ Tapi sepertinya sekarang kau sudah lebih kulihat. “ kata Davin sambil menyesap minumannya.


“ Yah begitulah aku juga tidak ingin merasa terpuruk terus, itu sangat melelahkan. “ ujar Chris.


“ Sebagai seorang pria kita harus kuat tidak boleh lemah, dengan begitu tidak akan ada yang menyerang kita. “ ujar Davin sambil menepuk punggung Chris.


“ Aku dengar kau dan Deycla sangat dekat, kenapa kalian tidak berpacaran? “ tanya Chris tba-tiba.


Davin menghela nafas kecil dan menundukkan kepala dengan senyum simpulnya, “ Aku juga tidak tahu, kenapa aku tidak berpacaran saja dengannya. “


“ Bro, jadi cowok kita gak boleh nyerah. Jika kita mencintai seseorang teruslah berjuang sampai kita benar-benar mendapatkannnya. Wanita akan luluh sendiri saat melihat seberapa besar perjuangan kita. “ ujar Chris mencoba menyemangati Davin.


Davin menoleh ke arah Chris dan tersenyum, “ Thanks, man. Aku tau itu, hanya saja sepertinya dia hanya menganggapku teman. “ ujar Davin sedih.


“ Kau tidak akan tahu jika kau tidak bertanya. “ ujar Chris sambil menyesap jusnya.


Sebenarnya Davin sudah pernah mengungkapkan perasaannya ke Deycla namun di tolak, dia tidak ingin menceritakannya kepada Chris kenapa Deycla menolaknya. Karena Deycla masih mencintai Chris sampai saat ini, dan Davin akan mendukung Deycla. Melihat Deycla bahagia, Davin pun akan ikut bahagia karena yang terutama bagi Davin adalah harus selalu membuat Deycla tersenyum.


Tak lama hp Davin berdering dan Davin pun langsung mengangkatnya, “ Halo, Dey. Ada apa? “


“ Kau sedang dimana? Bisakah sore nanti kau menjemputku? “ kata Deycla di seberang telpon.


“ Memangnya ada apa? Kenapa tidak sekarang saja? “ ujar Davin menawarkan.


“ Memangnya kau tidak sibuk sekarang? “ tanya Deycla.


“ Absolutely no. “ jawab Davin.


“ Baiklah kalau begitu jemput aku sekarang di perusahaan. “ kata Deycla senang.


“ I’m on the way your higness. “ jawab Davin.


Davin menutup telponnya dan pamit kepada Chris untuk pergi, dan Chris mengantarkannya sampai ke depan restoran. Davin masuk ke mobilnya menyetir menuju ke perusahaannya Zarra. Sedangkan Chris kembali ke kantornya karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Mendengar perkataan Davin tadi yang mengatakan bahwa Deycla hanya menganggapnya teman entah mengapa dia sangat merasa senang dan mempunyai peluang untuk coba mengenai Deycla. Dia masih yakin bahwa Deycla adalah seseorang yang sangat di kenalnya.


Dia mengambil foto Zarra dan membandingkannya dengan foto Deycla, mereka sangat mirip. Chris tidak gampang tertipu oleh samaran, bahkan di sata Ferga menyamar jadi Dion saja Chris mengenalinya. Itu mengapa Chris sangat susah di taklukkan oleh musuh-musuhnya. Chris terus mencari tahu tentang Deycla, namun saat tau Deycla memiliki orang tua rasa yakin nya bahwa Deycla adalah Zarra sedikit berkurang namun bisa saja itu Cuma sebagai pengalih.


“ Deycla apa benar kamu Zarra? Aku sangat berharap ya, dan aku tidak akan melepasmu lagi. “ batin Chris.