
Hari ini Sinthya sangat senang sekali setelah melihat foto yang dikirim oleh Riana dan dia yakin saat Chris mengetahuinya dia pasti akan meninggalkan Zarra. Setelah Chris meninggalkan Zarra dia akan langsung mendekati Chris dan mengambiol hatinya Chris agar dia bisa jadi nyonya Stanford.
Rasanya dia sungguh tidak sabar dimana hari dia dan Riana akan melancarkan aksinya untuk membuat Zarra jatuh dan keluarga Wagner malu. Sinthya sangat membenci Zarra karena gadis itu selalu bisa mendapat yang dia inginkan. Dulu Sinthya sempat menyukai Kean namun Kean jadian dengan Zarra lalu sekarang bertunangan dengan Chris dan membuatnya makin membenci Zarra.
“ Minggu depan aku akan mengambil cuti, dan kalian uruslah perusahaan dengan benar. “ ujar Sinthya kepada asitennya.
“ Baik bu. “ jawab asistennya.
“ Ah dan ya, kosongkan jadwalku hari ini karena aku harus bertemu dengan seseorang. “ kata Sinthya lagi sambil berdandan bersiap-siap untuk bertemu dengan Reno. Sinthya mengambil hpnya dan melihat foto Reno. Dia kembali mengingat malam panasnya dengan Reno sungguh meninggalkan kesan yang mendalam. “ Kalo bisa dapatin dua-duanya kenapa mesti satu? “ gumam Sinthya dengan senyum jahatnya.
Hp Sinthya berdering dan saat melihat ID caller dari Reno dia tersenyum dan langsung mengangkatnya.
“ Halo sayang, ada apa menelponku? “
“ Jangan memanggilku sayang karena kita tidak ada hubungan apa-apa. “ jawab Reno dengan nada dinginnya.
“ Ouch maaf, apa yang ingin kau bicarakan? “ tanya Sinthya sambil memainkan rambutnya.
“ Aku hanya ingin mengingatkan tentang rencana kita memisahkan Zarra dan Chris. Tapi ingat jangan kau sentuh Zarra ataupun melukainya. “ ucap Reno sambil menandatangani sebuah surat kerja sama.
“ Oke baiklah tetapi aku tidak berjanji. “ jawab Sinthya .
“ Jika kau masih mau hidup dengarkanlah kata-kataku. “ Reno yang sudah geram atas jawaban Sinthya, dia tidak ingin Zarra sampai terluka cukup memisahkan Zarra dan Chris saja tidak sampai menyentuhnya.
“ Yayaya oke. Aku tutup dulu telponnya. “ Sinthya pun langsung mengakhiri panggilannya dengan Reno dan beranjak keluar dari ruangannya untuk menghadiri pameran lukisan bersama Riana. Pameran lukisan ini diadakan oleh rekan kerja, rekan kerja yang pernah tidur bersamanya dan dia juga mencoba untuk mengambil hati rekannya agar untuk selalu bekerja sama dengan perusahannya bahkan mereka bersekongkol untuk menjatuhkan Naleri Corporation.
Sinthya pun sampai di tempat pameran lukisan itu dan langsung masuk menghampiri Riana yang sedang melihat-lihat lukisan di sekeliling. Sinthya pun ikut menatapi lukisan yang berada didepannya, hari ini moodnya sungguh sangat bagus apalagi perusahaannya yang sedang maju-majunya.
“ Jika aku beli lukisan ini akan sangat bagus buat jadi pajangan di kantor. “ kata Sinhtya sambil menyentuh lukisan itu.
“ Dan ini akan sangat bagus jika aku pajang dirumahku. “ sahut Riana.
“ Bagaimana keadaan om Anton om? Apa dia masih betah dalam tidurnya? “ tanya Sinthya lalu menoleh ke arah Riana.
“ Aku harap semoga dia tidak bangun-bangun dan lebih baik dia mati saja. “ jawab Riana dengan santai lalu berjalan untuk melihat lukisan yang lain.
Sinthya pun menyusul dan berjalan di samping Riana, “ Tenang tante aku rasa om gak akan bangun karena gak pernah ada yang selamat dari kecelakaan brutal itu. Tante lihat saja Kean, yang sekarang sudah berada di liang kubur. “
“ Hhahaha kau benar dan aku tidak perlu khawatir akan hal itu. Tinggal nanti aku menyingkirkan kedua anaknya agar aku bisa mendapat semua warisan itu. “ Riana merasa tidak sabar untuk segera merebut warisan itu dari Ragan dan Khanva, hanya dia sekarang harus fokus untuk menjatuhkan keluarga Wagner itu.
Tak sengaja Sinthya tersenggol oleh seorang pria, saat Sinthya hampir terjatuh pria itu langsung menangkap tubuhnya dan membantunya untuk berdiri. Sinthya terpana melihat ketampanan pria ini, mulai timbul lah pikiran untuk mendapatkan pria ini. “ Sungguh tampannya pria ini, ira-kira siapa dia? “
“ Maaf nona saya tidak sengaja, anda tidak apa-apa kan? “ pria itu memperhatikan Sinthya memastikan bahwa Sinthya tidak apa-apa.
“ A-aku tidak apa-apa. “ Sinthya pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan pria itu, “ Kenalin nama saya Sinthya, Ceo dari Leingh Company. “
Pria itu pun membalas uluran tangan Sinthya dengan senyum ramahnya, “ Saya Dion Geinsta dari Gatrich Corporation. “
Sinthya mengerutkan keningnya karena dia seperti tidak pernah mendengar nama perusahaan itu, karena pria itu melihat Sinthya kebingungan dia pun mengeluarkan kartu Namanya dengan desain Gold, saat melihatnya Sinthya melongo karena orang yang mendesain kartu nama seperti itu pasti bukan orang sembarangan. Sinthya pun langsung melihat kartu Namanya dan pria itu tersenyum penuh arti karena dapat menipu Sinthya dengan gampangnya.
Sinthya pun menjawabnya dengan bisikan, “ Dia Dion Geinsta dari perusahaan Gatrich Corporation. “ Sinthya pun menunjukkan kartu nama itu ke Riana dan Riana pun sama ekspresinya dengan Sinthya tadi, “ Aku yakin dia bukan orang biasa. “ sambung Sinthya.
Pria itupun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya ke Riana dan tersenyum ramah, “ Kenalin tante saya Dion Geinsta. “
Riana pun membalas uluran tangan pria itu, “Saya Riana Garson. Kamu tahu kan Perusahaan Garson? “
“ Saya tahu tante, perusahaan terbesar yang kelima bukan? “ jawab Pria itu.
“ Kamu betul sekali. Apa kamu diundang kesini? “ tanay Riana.
Pria itu mengangguk dan menjawab, “ Benar, saya diundang dan ingin bertemu klien saya disini karena ingin membahas sebuah kerja sama. “ tiba-tiba asisten pria itu menghampirinya dan mebisikkan sesuatu. Pria itupun pamit karena dia harus pergi dan bertemu dengan kliennya.
“ Mudah sekali menipu kalian wanita iblis. “ gumam Ferga dengan senyum liciknya. Sebenarnya Dion adalah Ferga, dia menyamar untuk mendekati Sinthya. Dia ingin membalas Sinthya pelan-pelan karena sering menyakiti Zarra, dan juga mendekati Riana karena selalu mengganggu sahabatnya yaitu Ragan dan untuk membalas kematian Kean.
Ferga sudah lama mencetak kartu Namanya bahkan berdandan seperti orang lain agar tidak ketahuan. Dia sampai menyewa MUA yang terkenal agar bisa mengubah tampilannya seperti orang lain.
Ragan dan Jodes tidak tahu tentang rencana Ferga yang in dan Ferga pun memang sengaja tidak memberi tahu mereka. Biarlah Ragan dan Jodes fokus terhadap rencana mereka masing-masing, dan soal kecil begini biarlah menjadi urusan Ferga.
Ferga masuk kedalam ruangan temapt dia akan bertmeu dengan kliennya dengan nama samaran Dion Geinsta. Klien itu merupakan klien Sinthya dan partner Sinthya yang sudah diketahui oleh Ferga bahwa mereka ingin menghancurkan perusahaannya Zarra.
Doni nyang merupakan kliennya langsung menjabat tangan Dion karena dalam penyamaran Dion berperan sebagai orang yang sangat berpengaruh bahkan di dunia bawah. Makanya Doni sangat ingin bekerja sama dengan seorang Dion aka Ferga untuk menjalankan bisnis ilegalnya.
Ferga meminta amplop yang telah dipegang oleh asistennya lalu melempar ke meja dan meminta Doni membukanya. Doni pun mengambil amplop itu dan terkejut melihat fotonya tanpa busana bersama Sinthya dan dengan gadis lain. Ferga pun bahkan mempunyai videonya dan membuat Dono bertekuk lutut memohon agar Ferga tidak menyebarkannnya. Ferga pun tersenyum dengan penuh kemenangan dan mengancam Doni untuk mengikuti perintahnya.
“ Saya akan lakukan apa saja asal anda tidak menyebarnya dan jangan kasih tahu ke istri saya tuan . “ Doni bertekuk lutut dengan wajahnya yang sangat panik.
“ Atur pertemuanku dengan Sinthya dengan alasan kau menawarkanku untuk bekerja sama dengan perusahaannya. “ Ferga memberi amplop nya ke asistennya dan meminta asistennya untuk menyimpannya.
“ Baiklah akan saya laksanakan tuan. “ lirih Doni.
Ferga pun berdiri dan menepuk bahi Doni sekilas lalu keluar, di luar pintu dia pun menghampiri istri Doni yang ternyata dari tadi sudah berada di luar ruangan karena Ferga memintanya dan sudah memberi tahu semuanya ke istri Doni. Ferga meminta istri Doni bersabar dan ikuti saja permainannya, istrina Ferga pun sangat berterimakasih terhadap Ferga karena telah memberi tahunya.
Karena akhir-akhir ini Doni sering pulang larut dan berbau parfum Wanita. Sebenarnya perusahaan yang dipimpin Doni adalah milik istrinya, saat setelah semua rencannya dan Ferga berhasil dia akan menceraikan suaminya dan mengambil alih perusahaannya kembali.
Ferga keluar dari tempat itu dan masuk ke mobilnya. Dia merenggangkan dasi karena pengap dan meminta supir untuk mengantarnya ke restoran Danil. Saat sampai dia langsung masuk dan disambut hangat oleh Danil.
Dia pun langsung menuju ke kamar sahabatnya itu dia memeluk khas pria. Dia hanya menceritakan semua rencana pribadinya hanya dengan sahabatnya ini. Saat pria ini mendengar ada seseorang yang menjebak Zarra, dia mengepalkan tinjunya ingin rasanya dia menghampiri orang itu.
“ Sabarlah, tidak lama lagi kau akan tampil dan bisa membalas kejahatan mereka semua. “ ujar Ferga berusaha menyabarkan pria itu.
“ Bagaimana jika Zarra tahu bahwa ayahnya ikut andil dalam rencana kecelakaanku? Aku tidak ingin mereka bertengkar. “ kata pria itu dengan suara sendu.
“ Kau tidak perlu khawatir, sudah seharusnya Zarra mengetahuinya dan sampai kapan juga om Edison mau menyembunyikannya? “ ujar Ferga.
“ Berjanjilah Ferga kau untuk selalu mengawasi dan menjaga Zarra. Jika Chris membuatnya menangis, tolong balaskan untukku. “ kata pria itu lagi.
Ferga hanya tersenyum dan menepuk bahu pria itu sambil menatap ke arah depan dengan pandangan sangat berharap agar semua ini cepat berlalu.