
Chris meminta bantuan Kean dan Denial untuk persiapan ulang tahun Zarra. Chris juga meminta beberapa bantuan temannya karena dia akan memberikan hadiah terindah untuk Zarra di hari ulang tahun kekasihnya itu nanti. Chris sengaja selama beberapa minggu menyueki Zarra sampai membuat Zarra benar-benar marah padanya. Chris berencana untuk membuat surprise di villa keluarga Wagner, Chris sangat benar-benar Zarra menyukainya. Sekretaris Chris mengetuk pintu dan langsung disuruh masuk oleh Chris untuk menyampaikan jadwalnya besok, setelah sekretaris nya keluar masyklah Ferga langsung.
“ Hah kau lagi, untung saja tidak ada Zarra disini. “ kata Chris yang masih terlihat kesal terhadap Ferga.
“ Wah, sepertinya kau masih menyimpan dendam padaku ya? “ ujar Ferga yang langsung duduk diepan Chris.
“ Ada apa kau kesini? Jika ada yang mau katakana katakanlah sekarang. “ ujar Chris dengan nada datarnya sambil fokus mengetik di laptop.
“ Wowowo santai, apakah kau tidak akan meberikan minum kepadaku dulu? Kau tau aku butuh tenaga untuk menceritakan hal yang panajng padamu. “ kata Ferga sambil memutar-mutarkan kursinya.
Chris pun menekan intercom dan meminta sekretarisnya untuk segera membawa minum keruangannya, tidak sampai 5 menit sekretaris nya sudah datang dan mengantarkan minuman. Ferga langsung meminum kopi itu dengan santai, sedangkan Chris yang sudah tidak sabar untuk mendengar apa yang akan diceritakan Ferga kali ini.
“ Kau tahu? Aku sudah pernah menghabiskan malam panas bersama Sinthya. Pantas saja banyak lelaki yang mengejarnya, dia memang wanita yang hot. “ ujar Ferga sambil membayangkan Sinthya yang waktu itu memimpin diatasnya.
“ Kau gila? Jika dia hamil nanti bagaimana? dan bagaimana dengan rencana kita yang kana menangkapnya? “ Chris berkacak pinggang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ferga. Dia tidak menyangka bahwa Ferga akan melakukan itu dengan Sinthya.
“ Kau tenang saja, aku sudah memasukkan pil kb disemua minum serta makanannya. Bahkan jika dia tidak memakannya pun aku sudah punya rencana lain. Apa kau meragukan sepupumu yang pintar dan licik ini? “ ujar Ferga dengan raut wajah simpulnya.
“ Jadi apa rencanamu sekarang? “ tanya Chris.
“ Nothing, nous attendons la femme revienne à l'action même si cela peut mettre en danger la vie de quelqu'un, mais c'est la seule façon de l'attraper quand elle apparaît “ (kita tunggu diakembali beraksi walau mungkin harus membahayakan nyawa seseorang, tapi itu satu-satunya cara kita menangkapnya disaat kemunculannya) . ujar Ferga sambill menggoyangkan cangkirnya.
“ Lalu jika bagaimana orang itu terluka? “ tanya Chris khawatir karena Sinthya antara mengincar dirinya atau Zarra. Dia tidak peduli jika dirinya yang terluka, tapi kalau Zarra dia sangat tidak sanggup untuk kehilangan orang yang dia cintai untuk keekian alinya.
“ Kau jangan khawatir, hal itu tidak akan terjadi. Jika terjadi pun aku berjanji akan bertanggung jawab atas semuanya. “ ujar Ferga dengan mantap.
“ Baiklah aku percaya padamu. Terimakasih karena selalu membantuku dari dulu kak Ferga. “ ucap Chris dengan tulus sambil menepuk pundak Ferga.
Ferga mengerutkan keningnya dan langsung melirik ke Chris karena tumben sekali dia memanggil Ferga dengan sebutan kak, “ Apa kau tadi habis makan sesuatu? “ tanya Ferga.
“ Aku tadi habis makan macaroon, memangnya kenapa? “ jawab Chris dan bertanya balik.
“ Apa kau yakin hanya itu? Kau memastikan tidak ada obat disitu kan? “ tanya Ferga lagi.
“ Tidak sama sekali, lagian itu toko kue langganan ku mereka tidak akan berani berbuat macam-macam padaku. “ ujar Chris.
Ferga berdiri dan menghampiri Chris lalu memegang kening Chris lalu pipinya dan leher lalu mentes ke ketiaknya, “ Kau tidak demam, lalu… “
“ Ada apa denganmu? “ tanya Chris sambil menjauhkan dirinya sedikit karena Ferga yang terlihat aneh.
“ Tidak kah kau merasa dirimu aneh? “ jawab Ferga.
“ Bukankah kau yang aneh atas kelakuanmu tadi. “ ujar Chris sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku merasa diriku baik-baik saja. “ kata Ferga yang sudah memegang kening dan pipi serta leher dan ketiaknya, “ Kau tidak sadar, tadi pertama kalinya kau memanggilku dengan sebutan kak. “ lanjut Ferga.
“ Haish Cuma gara-gara itu kau bilang aku aneh. “ ujar Chris dan melayangkan tinju singkat.
“ Memang aneh, selama ini kau tidak pernah memanggilku kak. “ jawab Ferga.
“ Keluarlah, pekerjaanku masih banyak. “ kata Chris dengan menggerakkan jarinya menyuruh Ferga keluar.
“ Oh ayolah Chris aku baru sampai berikan aku waktu untuk … “ belum sempat Ferga menyelesaikannya Chris sudah mengambil buku tebal untuk dilempar, dengan cepat Ferga pun langsung berlari keluar dan menutup pintu. Ferga menghembuskan nafas lega karena tidak terkena lemparan Chris.
“ Ck dasar orang itu. “ gerutu Chris lalu kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi karena kedatangan Ferga.
\~\~\~\~\~\~\~
Zarra sangat kesal karena Chris selalu mereject telponnya, bahkan saat Zarra datang ke kantornya Chris tidak memperbolehkan Zarra untuk masuk keruangannya. Zarra mengacak rambutnya pusing kenapa Chris tiba-tiba mengabaikannya dan membuat dirinya jadi negative thinking. Zarra sudah bertanya kepada Ferga namun jawabannya tidak memuaskannya membuat Zarra makin kesal. Tian dan Nina hanya diam saja tidak berani memulai pembicaraan saat Zarra marah, karena takut jadi pelampiasan kemarahannya Zarra.
“ P-permisi nona anu itu eh ada… “ belum sempat Tian melanjutkan dia sudah mendapat tatapan tajam dari Zarra.
“ Anu ana ono, ngomong yang jelas buruan ada aoa? “ jawab Zarra dengan nada yang mmasih kesal dan bertanya kembali ke Tian.
“ I-itu nona, p-pak Regas ingin bertemu dengan anda. “ kata Tian masih dengan tergagap.
“ Suruh dia masuk “ jawab Zarra sambil memegang keningnya yang terasa sangat pusing itu.
Tian pun meminta Nina untuk mengantarkan Regas masuk dan Nina pun langsung mengantarnya. Nina mengetuk pintu dengan takut-takut dan mempersilakan Regas untuk masuk langsung dan buru-buru keluar dengan Tian. Regas mengerutkan kening melihat Zarra yang seperti kelihat sakitt dia pun langsung menghampiri Zarra dan duduk di depannya.
“ Ada apa Zarr? apa kau sakit? Kenapa kau tidak mengambil cuti saja? “ tanya Regas khawatir.
“ Aku tidak apa-apa. Ada apa kau datang kesini? “ tanya Zarra kembali.
“ Ah sepertinya kau lupa ya, aku ingin memberitahu bahwa Reynold memintamu datang ke acara pemotongan pitanya lusa nanti. “ ujar Regas menjelaskan kedatangannya yang sepertinya dilupakan oleh Zarra.
“ Ah begitu ya, maaf aku lupa. “ jawab Zarra yang sudah kembali mengingat saat sudah dijelaskan Rega.
“ Apa kau benaran tidak apa-apa? “ tanya Rega lagi yang terlihat khawatir dengan Zarra.
“ Apa kau ada bertemu dengan Chris? Atau janji bertemu dengannya? Atau dia ada menghubungimu? “ kata Zarra.
“ Tidak, aku akhir-akhir ini sangat sibuk dan tidak sempat bertemu dengannya. Dan kami juga sudah jarang bertukar pesan, memangnya ada apa? “ tanya Regas.
“ Ah tidak ada ya? Yasudah kalau begitu. Ada lagi yang ingin kau sampaikan? “ ujar Zarra sambil menatap ke arah Regas.
“ Tidak ada, kalau begitu aku permisi dulu. “ Regas berdiri dan beranjak dari kursinya lalu pergi keluar dari ruangan dan perusahaannya Zarra.
“ Hoy, sampai kapan kau akan mencueki Zarra? Aku tadi sudah berkunjung kekantornya dan dia terlihat sangat frustasi. “ kata Regas.
“ Lusa dia ultah aku akan selesai disitu dan bawalah dia ke villa nanti dengan aman. “ ujar Chris.
“ Bagaimana dengan Sinthya? Tiba-tiba aku memikirkan si wanita iblis itu, dia pasti mengawasi kita. “ tanya Regas yang tiba-tiba khawatir karena dia tahu kejahatan Sinthya seperti apa.
“ Kau tenang saja soal itu, aku pasti akan menjaga kekasihku dengan baik. “ jawab Chris yang sebenarnya dia juga sangat khawatir terhadap Zarra.
“ Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu. “ ujar Regas dan langsung menutup telponnya.
Chris berdiri dan ke arah jendela, dia menatap kendaraan yang berlalu lalang dijalan raya sambil merenungkan sesuatu. Ada feeling tidak enak dihatinya sama dulu yang seperti dia rasakan sehari sebelum kematian Naya, namun Chris buru-buru menepisnya tidak ingin pikiran buruk menguasainya. Saat sudah menangkap Sinthya dia berjanji tidak akan melepaskannya karena bahkan wanita itu lebih berbahaya dari Riana. Chris menyelidiki masa lalu Sinthya, Sinthya mempunyai gangguan mental yang menyebabkan dia sangat terobsesi bahkan dulu dia pernah membunuh keluarganya. Ibunya yang sekarang adalah ibu angkat, yang bahkan sama jahat dengan Riana.
Chris menghela nafas, semoga tidak ada kejadian buruk di hari ulang tahun Zarra nanti. Chris sudah menyiapkan semuanya bahkan meminta tolong beberapa rekannya untuk selalu menyertainya, karena Sinthya tidak akan berhenti sampai dia telah mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan.
“ Sinthya kau memang psikopat, dan aku tidak akan membiarkanmu melukai seseorang yang aku cintai. “ ujar Chris lalu keluar dari ruangannya dan pulang kerumahnya.
Hari ini adalah pemotongan pita untuk peresmian perusahaan Reynold di Indonesia, Zarra dan Regas menghadirinya untuk menghargai kerja sama mereka dengan perusahaan Reynold. Setelah pemotongan pita Zarra menjabat tangan Reynold dan mengucapkan selamat atas peresmian perusahaannya. Reynold adalah rekan kerja terbaik bagi Zarra apalagi berkatnya saham perusahaan Zarra makin naik dan Zarra sangat berterimakasih padanya. Zarra sempat agak tidak enak karena telah menolak Reynold yang sebenarnya dia sudah tahu dari awal bahwa Reynold menyukainya. Namun harus bagaimana lagi, dia hanya mencintai Chris.
Setelah acara pemotongan pita dan jam sudah menunjukkan pukul 7 Regas menghampiri Zarra dan menyerahkan kotak berwarna biru ke Zarra. Regas meminta Zarra untuk segera mengganti pakaiannya, Zarra awalnya bingung namun Regas menjelaskan bahwa Reynold mengadakan acara lain lagi setelah acara pemotongan pita ini. Zarra pun percaya dan mengambil kotak itu dan ke toilet untuk menggantinya.
Zarra telah selesai memakai gaun yang dititipkan oleh Chris dan meminta Regas untuk memberikannya ke Zarra. Zarra memakai gaun berwarna putih panjang semata kaki dengan kilauan glitter dengan heels berwarna senada dengan gaunnya dan dipoles dengan makeup tipis dan lipstick berwarna coral. Sungguh Zarra sangat cantik malam ini, Regas sempat terpana melihat Zarra namun mereka tidakbisa berlama-lama dan langsung berangkat. Zarra mengerutkan keningnya karena mereka menuju ke villanya bukan hotel seperti apa yang dibilang oleh Regas. Zarra pun turun dan Regas langsung menutup matanya Zarra dengan kain kecil berwarna hitam. Regas menuntun jalan Zarra sampai berada di tengah-tengah taman Regas pun membuka ikatan kain itu.
“ Surprise. “ ucap mereka beramai-ramai.
“ Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday. Happy birthday my love. Happy birthday sayangku, terimakasih telah hadir didunia ini and I wish all the best. “ ucap Chri dengan tulus dan penuh rasa cinta.
Zarra menitikkan air matanya tidak menyangka bahwa selama ini Chris mengerjainya, dia pun memukul pelan bahunya Chris berkali-kali, “ Hk hk k-kamu jahat… kamu udah buat aku hampir frustasi. Kamu harus nanggung semuanya. “
“ Iya maaf sayang, aku bakal bertanggung jawab atas semuanya. Yuk ditup dulu lilinnya, keburu meleleh. Jangan lupa make a wish. “ ujar Chris menatap Zarra dengan tersenyum.
Zarra pun melipat tangannya dan mulai berdoa meminta permohonan di hari ulang tahunnya hari ini, lalu membuka matanya dan meniup lilin di kue yang dipegang oleh Chris. Semua yang berada disitu pun menepuk tangannya. Jodes, Lingga dan Morphine menghampiri Zarra dan memeluk sahabatnya itu.
“ Happy birthday ma best. Wish all the best bebe. “ ucap Jodes lalu cipika cipiki
“ Happy birthday Zarra. “ kata Lingga dan Morphine bersamaan.
“ Makasih ya semuanya, atas surprisenya. Jujur aku sangat terharu. “ ujar Zarra dengan air mata bahagianya
Semua teman dan keluarganya pun mengucpkan selamat ulang tahun secara bergantian, begitu juga dengan keluarga Stanford mengucapkan selamat ulang tahun ke Zarra. Sungguh Zarra merasa sangat bahagia hari itu karena di kelilingi oleh orang-orang yang sangat dia sayangi.
Zarra pergi ke toilet untuk buang air kecil dan merapikan rambutnya, tanpa sadar ada seseorang yang mengikutinya dari tadi. Zarra pun keluar dari toilet dan kembali menuju taman, namun tangannya ditarik dan dia merasakan ada yang tertancap di perutnya, perutnya terasa sangat perih dan sakit. Zarra langsung memegang perutnya dan melihat tangannya ada Zarra. Zarra terduduk lemas sedangkan orang itu sangat puas karena orang yang dibencinya akan mati.
Chris merasa aneh karena sudah dua jam Zarra tidak balik-balik ketaman, Chris pun menyusul Zarra ke toilet namun dia melihat seseorang berlari tergesa-gesa dan langsung menghubungi Ferga. Chris kembali menuju ke toilet untuk mencari Zarra dan melihat Zarra tergeletak di lantai dengan berlumuran darah. Chris panik dan langsung buru-buru menelpon ambulance, Zarra menaruh Zarra dipangkuannya dan dia menangis kencang karena dia tidak ingin kehilangan Zarra.
“ Sayang bertahanlah, sebentar lagi ambulance akan datang. “ kata Chris sambil menangis dan membelai pipi Zarra.
“ Chris, tolong jangan menangis. Kau tau kan lelaki itu tidak boleh menangis. “ Zarra berusaha ingin menghapus air mata kekasihnya dan Chris langsung meraih tangan Zarra lalu mengecupnya.
“ Sayang tolong kamu bertahan ya? Jangan terlalu banyak ngomong atau kamu akan merasa makin sakit. “ ujar Chris masih menangis.
“ Chris, aku ngerasa ngantuk banget. “ kata Zarra dengan wajahnya yang sudah mulai memucat dan matanya pun mulai terpejam.
“ Zarra bangun Zarrr. ZARRAAAAA “ teriak Chris yang panik karena Zarra tidak sadarkan diri.
Ambulance pun datang dan angsung menuju kedalam membawa tandu membuat semua orang-orang yang berada disitu kebingungan. Perawat pun menaikan Zarra ke atas tandu dan mendorongnya ke arah ambulance di ikuti Chris dari belakang. Marry dan Edison terkejut melihat anaknya yang berlumuran darah begitu juga dengan yang lain. Ambulance pun bergegas membawa Zarra ke rumah sakit, begitu juga Marry dan Edison mengikuti dari belakang.
“ Sinthya aku berjanji akan membalasmu lebih dari apa yang kau lakukan ke Zarra. “ geram Chris dan mengepalkan tinjunya
Chris mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya, dia merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa melindungi Zarra. Kalau saja dia lebih was-was Zarra tidak akan terluka. Chris merasa sangat tidak tenang takut jika Zarra tidak bisa diselamatkan.
Marry dan Edison baru saja sampai begitu juga dengan yang lainnya, mereka pun duduk dan menunggu operasi Zarra selesai. Marry menangis tersedu-sedu tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi tepat di hari ulang tahunnya Zarra. Nela mencoba untuk menenangkan Marry dan mengusap pundaknya untuk menghiburnya, juga dengan Ares juga Anton untuk mencoba menguatkan Edison. Edison menatap Chris dengan mata yang penuh amarah lalu menghampiri Chris dan menarik kerahnya.
“ Semua ini gara-gara kau! Setiap Zarra didekatmu dia selalu dalam celaka! Kau harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Zarra! “ geram Edison dengan mata yang penuh kemarahan.
“ Sabarlah, tenangkan dirimu Edison. Zarra sedang di operasi lebih baik kita berdoa supaya operasinya lancar. “ ujar Anton menenangkan Edison dan mencoba melerai Chris dan Edison.
“ Maafkan Chris om, Chris memang lalai. “ jawab Chris yang juga merasa bersalah.
“ Seharusnya kau selalu mendampinginya. Lihat, sekarang anakku harus terbaring lemah didalam sana! “ ujar Edison yang masih dalam emosi.
“ Jangan terus menyalahkan anakku Edison! Anakku selalu berusaha untuk melindungi Zarra. Hanya saja orang jahat itu terlalu pintar dari kita. “ ujar Ares yang sudah mulai emosi karena anaknya terus disalahkan.
“ Sudahlah om Ares, om Ed. Hentikan semuanya, saling menyalahkan tidak ada gunanya. Sekarang lebih baik kita berdoa yang terbaik untuk Zarra. “ kata Ragan mencoba menenangkan mereka berdua.
Edison pun berhenti menyalahkan, mereka semua sekarang duduk menunggu serta berdoa agar operasi Zarra lancar. Operasi itu memakan waktu 3 jam, dan mereka semua masih setia menunggu. Setelah 3 jam dokter pun keluar bersama para suster.
“ Siapa walinya bu Zarra? “ tanya Dokter Rivan.
“ Kami orangtuanya dok. “ jawab Edison.
“ Baiklah bapak ibu, operasinya sudah selesai dan untung saja dia tidak tertusuk mengenai organ vital. Namun keadaan dia sekarang sangat karena dia kekurangan banyak darah. Saya mohon bapak ibu dan semua nya untuk bersabar menunggu. Saya permisi dulu. “ ujar dokter itu lalu pergi.
Edison memeluk Marry mencoba menenangkan istrinya, mereka merasa sangat lega karena operasinya lancar dan berharap Zarra cepat sadar. Chris semakin menangis dan ditenangkan oleh Ferga juga Devan. Lingga dan Jodes merasa sangat sedih karena tidak bisa melindungi sahabatnya, begitu juga dengan Denial, Dero dan Alicia. Kavi dan Morphine sudah pulang duluan tadi, Kavi tidak memberi tahu Morphine agar Morphine tidak syok mendengar tentang sahabatnya itu. Ferga mendapat telpon dari orang-orangnya dan kehilangan Sinthya membuat Ferga sangat emosi. Ferga merasa sangat geram dan bertekad jika dia menemui Sinthya kali ini dia akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.